Oleh: Naufal Nabilludin
Ada satu perasaan yang selalu muncul setiap kali saya melihat orang-orang mudik: senang. Bukan karena saya ikut pulang kampung atau merasakan perjalanan panjang, tetapi karena saya bisa melihat kebahagiaan mereka yang akhirnya kembali ke rumah.
Saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka—menahan rindu berbulan-bulan, berjuang di tanah rantau, lalu akhirnya bisa bertemu orang-orang tercinta. Saya membayangkan seseorang yang setiap hari menyisihkan uang makan agar bisa membeli tiket pulang, atau rela menghapus anggaran hiburan demi bisa memeluk ibu dan bapak di kampung halaman.
Saya sendiri belum pernah benar-benar merasakan mudik. Rumah saya dan rumah nenek hanya berjarak sepuluh menit naik motor. Tidak ada perjalanan panjang, tidak ada bekal yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Tapi setiap kali melihat motor dengan barang bawaan menumpuk, atau mobil dengan atap penuh kardus dan koper, saya ikut merasakan haru.
Saya membayangkan cerita di balik perjalanan itu: anak yang pulang membawa kabar baik untuk orangtuanya, cucu yang akhirnya bisa mencium tangan kakek-neneknya lagi, atau saudara yang telah lama berpisah akhirnya bisa duduk satu meja saat Lebaran.
Mudik bukan sekadar perjalanan fisik dari kota ke kampung halaman. Ia adalah perjalanan hati—tentang kerinduan yang ditabung, tentang pulang ke tempat di mana kita merasa benar-benar diterima. Dalam falsafah Jawa, ada ungkapan “urip iku mung mampir ngombe”—hidup ini hanya persinggahan, seperti seseorang yang berhenti sejenak untuk minum sebelum melanjutkan perjalanan. Dan seperti mudik yang selalu membawa kita pulang ke tempat asal, hidup pun pada akhirnya akan membawa kita kembali ke titik awal kita.
Mungkin, itulah mengapa melihat orang lain mudik saja sudah cukup membuat saya bahagia. Karena di balik tumpukan barang bawaan dan perjalanan panjang itu, ada satu hal yang selalu dibawa pulang: cinta.



