MuseumKu Gerabah: Wujud Harmoni Kerajinan Gerabah dan Arsitektur

Oleh Diasti Sukma Ekasanti

Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki satu desa wisata yang telah mendunia karena kerajinan gerabahnya, yaitu Desa Wisata Kasongan. Desa wisata yang satu ini tidak hanya menawarkan kerajinan gerabah dalam berbagai bentuk dan fungsi yang dapat dibeli dan dibawa pulang oleh pengunjungnya, tetapi juga wisata edukasi yang salah satunya dapat diperoleh ketika mengunjungi MuseumKu Gerabah. Museum ini didirikan oleh seorang seniman asli Kasongan bernama Timbul Raharjo pada tanggal 28 Oktober 2022.

Karena penasaran dengan beragam review positif di media sosial, khususnya arsitekturnya yang terlihat unik, saya dan sahabat saya memutuskan untuk mengunjungi museum ini pada suatu pagi di akhir pekan. Untuk menuju museum tersebut dari kawasan Universitas Gadjah Mada dan menggunakan mobil pribadi, kami hanya perlu mengikuti panduan Google Maps selama kurang lebih 30 menit. Sesampainya di sana, kami disambut oleh bangunan berlantai satu berbentuk dome dan bertuliskan MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo.

Bagian depan bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat parkir yang cukup luas. Pada kunjungan tersebut, suasana terlihat cukup ramai dengan adanya beberapa mobil pribadi yang datang dan pergi serta bus pariwisata yang terparkir pada salah satu sisi tempat parkir. 

Bangunan pertama yang kami lihat dan kami masuki difungsikan sebagai ruang resepsionis. Di sini kami bertemu dengan resepsionis yang menyambut kami dan menjelaskan berbagai paket wisata edukasi yang ditawarkan di museum ini. Karena hanya dapat singgah sebentar, kami memutuskan untuk mengunjungi museum saja.

Tidak terdapat biaya tiket masuk museum yang dibebankan kepada pengunjung, namun pengunjung diwajibkan untuk memesan makanan, minuman, atau sekadar kudapan kecil dengan total harga minimal Rp25.000,00.

Setelah pesanan kami dicatat oleh resepsionis, kami diperbolehkan untuk mengakses museum dan mengelilingi lingkungan museum sambil menunggu pesanan kami tiba di meja yang kami pilih terlebih dahulu.

Begitu melewati bangunan resepsionis, kami disuguhkan dengan pemandangan ruang terbuka yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan dengan konsep arsitektur yang unik. Pada ruang terbuka tersebut terdapat beragam instalasi seni karya Bapak Timbul Raharjo yang dipamerkan.

Ruang terbuka itu juga difungsikan sebagai ruang makan outdoor terlihat dari adanya meja dan kursi makan yang tersusun rapi di samping setiap bangunan. Terdapat satu bangunan dengan struktur dome dan berbentuk seperti bola besar berwarna merah bata.

Bangunan itu tampak menonjol sebab tingginya yang melebihi bangunan-bangunan lain di sekelilingnya. Bangunan itu difungsikan sebagai tempat makan yang dapat digunakan oleh pengunjung yang datang berombongan.

Terlihat dari dinding bagian dalamnya yang diselubungi oleh busa peredam suara, bangunan itu juga dapat berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan acara.

Suasana Ruang Terbuka yang Difungsikan sebagai Ruang Pameran Instalasi Seni

Tata letak bangunan-bangunan di lingkungan museum ini terlihat sangat rapi sebab tersusun secara simetris dan membentuk sebuah bujur sangkar dengan area tengah berupa ruang terbuka dan bangunan berbentuk dome. Bangunan-bangunan yang terletak di bagian depan terdiri atas ruang resepsionis yang diapit oleh dua ruang makan privat di kanan dan kirinya.

Pada sisi kanan terdapat 3 ruang museum yang terletak berjajar. Sama halnya pada sisi kanan, bangunan-bangunan di sisi kiri, yang terdiri atas 1 ruang makan dan 2 ruang workshop pembuatan kerajinan gerabah, juga terletak saling berjajar.

Di bagian belakang terdapat musala yang terletak di tengah serta diapit ruang finishing di sebelah kanan dan ruang workshop pembuatan kerajinan gerabah di sebelah kirinya.

Bangunan-bangunan di lingkungan museum memiliki bentuk yang tak kalah uniknya dengan bangunan berbentuk dome. Seluruh bangunan memiliki lantai berbentuk persegi panjang serta dinding tegak yang menerus dan menyatu dengan atap yang memiliki struktur berbentuk setengah lingkaran.

Pada bangunan-bangunan tersebut terlihat adanya repetisi bentuk setengah lingkaran yang diaplikasikan pada pintu, jendela, maupun pembayang di atasnya. Repetisi itulah yang meningkatkan kesan rapi pada bangunan-bangunan tersebut dan membuat mata yang melihatnya menjadi nyaman.

Selain bentuknya, hal unik lainnya yaitu selubung bangunan yang dihiasi oleh gerabah-gerabah kecil berbentuk bulat dan gepeng. Pemanfaatan gerabah sebagai ornamen bangunan sungguh menonjolkan ciri khas museum tersebut sebagai museum kerajinan gerabah dan kawasan Desa Wisata Kasongan yang terkenal akan kerajinan gerabahnya. 

Detail Selubung Bangunan yang Dihiasi dengan Gerabah

Setelah melihat-lihat bangunan, tibalah kami di depan pintu ruang museum. Awalnya kami kebingungan mencari pintu masuk utama dari ruang museum sebab tidak ada petunjuk arah yang jelas dan menunjukkan bagaimana alur yang semestinya kami ikuti.

Setelah memasuki ruang museum 1 dari ruang terbuka, barulah kami sadar bahwa seharusnya kami memasuki ruang tersebut dari area parkir yang terletak di bagian depan tapak.

Pada ruang museum 1 terdapat prolog yang menerangkan mengenai latar belakang Desa Wisata Kasongan diikuti dengan beragam kerajinan gerabah maupun lukisan bertemakan tokoh-tokoh yang mendukung awal mula desa tersebut.

Setelah melihat-lihat koleksi pada ruang museum 1, kami berjalan menuju ruang museum 2. Pintu keluar ruang museum 1 berhadapan langsung dengan pintu masuk ruang museum 2, begitu pula dengan pintu keluar ruang museum 2 yang berhadapan langsung dengan pintu masuk ruang museum 3.

Bangunan dan pintu yang ditata sedemikian rupa membuat pengunjung makin penasaran akan koleksi yang ditampilkan pada ruang berikutnya. Hal itu juga memudahkan pengunjung dalam menemukan dan menjelajahi seluruh ruang museum yang ada di lingkungan museum ini.

Koleksi utama yang ditampilkan pada setiap ruang museum merupakan karya seni yang dibuat oleh Bapak Timbul Raharjo, baik itu karya seni dua dimensi maupun tiga dimensi. Pada ruang museum 3, terdapat beberapa koleksi yang menampilkan dokumentasi proses pembangunan museum ini sekaligus prestasi-prestasi yang ditorehkan oleh Bapak Timbul Raharjo.

Suasana Bagian Dalam Museum

Selain mengunjungi ruang museum, pengunjung MuseumKu Gerabah juga dapat mengikuti pelatihan atau workshop pembuatan kerajinan gerabah.

Terdapat empat opsi paket pelatihan yang dapat dipilih oleh pengunjung, meliputi: teknik finishing, teknik cetak, teknik putar, dan paket terusan. Selain kegiatan yang berbeda, biaya per pax-nya juga berbeda.

Pelatihan teknik finishing berfokus pada teknik pewarnaan gerabah dan ditawarkan dengan harga Rp100.000,00/pax. Pelatihan teknik cetak berfokus pada pembuatan gerabah dengan teknik cetak dan ditawarkan dengan harga Rp150.000,00/pax.

Suasana Workshop Pembuatan Kerajinan Gerabah

Pelatihan teknik putar berfokus pada pembutan gerabah dengan teknik putar dan ditawarkan dengan harga Rp150.000,00/pax. Pelatihan paket terusan merupakan gabungan dari pelatihan teknik finishing dan teknik putar serta ditawarkan dengan harga Rp200.000,00/pax.

Hasil karya pengunjung saat mengikuti pelatihan dapat dibawa pulang. Keempat paket pelatihan tersebut juga mencakup kunjungan ke ruang museum, demo pembuatan gerabah dan kelas inspirasi bertema Art & Entrepreneur, serta makan siang di restoran.

Selain keempat paket pelatihan di atas, terdapat juga paket eksklusif Rustic Pottery yang diperuntukkan khusus bagi pengunjung dewasa. Paket eksklusif tersebut ditawarkan dengan harga Rp500.000,00 untuk pengunjung individu dan Rp1.000.000,00 untuk pengunjung yang datang berdua.

Suasana Ruang Finishing Pembuatan Kerajinan Gerabah

Paket tersebut mencakup kegiatan kunjungan ke ruang museum dan melukis gerabah dengan alat gas torch, di mana pengunjung akan mendapatkan sarung tangan dan masker muka khusus, serta pendampingan oleh pelatih profesional.

Hasil karya pengunjung dapat dibawa pulang. Pengunjung yang mengikuti paket eksklusif juga akan mendapatkan 2 gerabah untuk pengunjung individu dan 4 gerabah untuk pengunjung yang datang berdua serta makan siang di restoran.

Setelah puas mengelilingi ruang museum dan lingkungan museum ini serta melihat-lihat pengunjung lain yang asyik mengikuti pelatihan, kami kembali ke tempat duduk yang telah kami pilih sebelumnya. Tanpa kami sadari, kudapan dan minuman yang kami pesan telah disediakan di meja kami.

Suasana Bagian Dalam Restoran

Sambil menyantapnya, kami memandangi kembali bangunan-bangunan di lingkungan museum melalui jendela restoran. Suasana restoran maupun lingkungan museum secara umum membuat kami betah untuk berlama-lama singgah di tempat ini. Sayang sekali, santapan dan waktu yang kami miliki terbatas sehingga kami perlu beranjak dari kursi restoran dan menuju ke tempat lain.

Tentang Penulis:

Diasti Sukma Ekasanti adalah seorang penulis yang berfokus pada isu-isu arsitektur dan pariwisata. Ia mulai giat menulis sejak berkuliah di Program Studi Arsitektur di Universitas Gadjah Mada. Karyanya telah dipublikasikan di berbagai media daring maupun majalah. Melalui tulisannya, ia berharap dapat menginspirasi pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==