Oleh: Kiki Pebrianto
Pada hari Sabtu, 2 Mei 2026, telah berlangsung sebuah kegiatan bertema Ngopi Senja yang dilaksanakan di Kedai Searah, berlokasi di komunitas Rumah Dunia, Ciloang, Kota Serang, Banten. Acara ini dimulai pada pukul 16.00 hingga 17.50 WIB dan dihadiri oleh 11 peserta.

Kegiatan Ngopi Senja merupakan hasil dari obrolan santai antara Mas Qijing dan Mas Toto. Dari diskusi tersebut, muncul ide untuk mengadakan sebuah acara bedah buku yang dikemas secara santai dan interaktif. Dalam pelaksanaannya, Mas Qijing berperan sebagai moderator, Mas Wahyu sebagai pemantik diskusi, dan Mas Toto sebagai penulis buku yang dibedah.
Buku puisi yang dibahas berjudul “Timur dari Masa Lalu” karya Mas Toto. Menurut Mas Wahyu, buku ini terdiri dari 40 puisi dengan tampilan sampul yang sederhana namun menarik.

“Isi puisi dalam buku Puisi Timur dari Masa Lalu cenderung reflektif, mengangkat pertanyaan-pertanyaan mendalam seperti “siapakah aku?” dan “dari mana asalku?” Kata Mas Wahyu
Hal ini mendorong pembaca untuk berpikir lebih kritis dan memahami makna yang tersembunyi di balik setiap kata dan larik puisi.
Dalam sesi diskusi, penulis menyampaikan bahwa tidak semua isi puisi merepresentasikan dirinya secara langsung. Ia menjelaskan bahwa seorang penyair bisa saja “meminjam suara” atau sudut pandang orang lain dalam karyanya, bahkan terkadang puisi justru menolak kehadiran penyair itu sendiri sebagai tokoh utama. Pernyataan ini menambah kedalaman pemahaman peserta terhadap proses kreatif dalam menulis puisi.
“Puisi Timur dari Masa Lalu berisi empat puluh puisi, namun tetap menjadi satu kesatuan utuh,” ucap Mas Toto.
Mas Toto juga menjelaskan bahwa buku tersebut ditulis dalam kurun waktu sembilan bulan, yaitu dari Januari hingga September 2022. Dalam proses penulisannya, ia mengembangkan tiga jalur utama, yaitu puisi liris yang bersifat tenang dan reflektif, puisi sosial dan politik yang berisi kritik atau protes, serta eksplorasi bentuk yang menyatukan keseluruhan isi buku. Ia mengibaratkan karyanya sebagai
Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memahami isi buku, tetapi juga diajak menyelami proses kreatif penulis. Diskusi yang berlangsung hangat dan santai membuat acara Ngopi Senja menjadi ruang berbagi gagasan yang bermakna, sekaligus memperkaya wawasan peserta dalam memahami karya sastra, khususnya puisi.


