Saya menemukan kenyataan, bahwa sedikit sekali orang Indonesia yang menulis. Tapi, jangan kuatir. Kabar terbaik: Gufroni alis Gufron Khan menulis lagi. Novel Gadis Berkerudung Hitam karya Gufron Khan. Siapakah gadis berkerudung hitam itu? Jawabannya ada di dalam novel. Harus beli, dong.

Kali ini Gufroni menulis novel seelah 2 buku sebelunya puisi dan tentang pentingnya masyarakat mendapatkan pendampingan hukum. Tapi di bawah judul novelnya ada tulisan: Sebuah Catatan Harian. Apakah ini kisah nyata? Novel Berdasarkan Kisah Sehari-hari dari Seorang Pengacara, bolehkah?

Ketika saya baca di awal cerita dengan jelas dituliskan setting waktu dan lokasi adalah Serang 1995. Paling menarik adalah setting sekolahnya di MAN 2 Serang. Nama tokohnya saja “Roni”, sementara nama penulisnya “Gufroni”.

Kesimpulannya ini adalah kisah hidup yang dinovelkan. Bolehkah? Boleh saja. Plato pernah berbicara, bahwa sastra itu mimesis atau tiruan dari keseharian.

Novel ini mengisahkan tentang cerita cinta anak sekolahan. Mencintai tapi tak mampu mengungkapkan. Akhirnya cinta bertepuk sebelah tangan. Atau kasih tak sampai.

Bagi saya Gufroni ini aset Banten. Dia pengacara dan memiliki keterampilan menulis. Dinas atau intansi terkait harus merespon hal ini dengan positif. Kalau perlu Gufron dijadikan nara sumber sebagai pengacara yang menulis. Itu penting. Nanti Gufron bisa plus memberikan tips tentang memahami hukum positif dengan mudah untuk pelajar.

Semoga nanti lahir novel berikutnya dengan setting cerita sebuah mega kasus, para tokohnya pengacara, hakim, jaksa, dan para terdakwa. Lokasi ruang sidang, pengadilan, polisi, penjara, dibumbui dialog para penegak hukum, pasti akan menarik.

Tetap semangat menulis, Gufroni!
Gol A Gong
Duta Baca Indonesia 2021-2025


