Aku sebenarnya memang nggak ngerti waktu anakku jelasin poin-poin penting One Piece. Jadi aku nonton mewakili euforia anakku aja yang dua hari sebelum One Piece tayang sudah harus balik asrama. Setelah nonton dia tanya seru nggak. Aku jawab seru, laah. Kek nonton konser. Selama UTA nyanyi aku bisa menikmati lagu-lagunya. Maksud liriknya apa aku tak peduli. Wkwkwk.

Aku sebenarnya sok-sokan aja nonton film daripada baca komiknya. Dulu pernah ikut-ikutan baca komiknya waktu anak-anak lanang pada anteng baca. Tetap saja aku sungguh tiada mengerti ceritanya sampai hari ini, apa asyiknya gitu. Namun, begitu syulit, lupakan One Piece, apalagi Luffy melaaar. 🤣
Aku sebenarnya nggak tahu mau nulis resensi apa, gais. Waktu pesan tiket dua jam sebelum jam tayang, yang beli baru enam orang. Kukira aku akan nonton berteman kesepian dan sekotak popcorn. Namun, sesaat sebelum film tayang penonton berombongan masuk studio. Tujuh puluh persen kursi akhirnya terisi, begitu hasil pantauanku dari kursi belakang.

Aku sebenarnya ada mengantuknya di beberapa scene, mungkin saat UTA nyanyi lagi, nyanyi lagi. Ni bocah hobi amat konser, pikirku. Oh pantes, dia kan menderita singaholic. Jadi dia pengin nyanyi terus buat menghibur seluruh dunia termasuk para bajak laut, supaya nggak ada perompakan lagi.
Aku sebenarnya terpukau oleh sosok Shanks, ya ampun macho banget orangnya. Untunglah aku segera nyadar dia adalah Oda, orang dalam anime. Sudah jelas beda alam yes. 🤣
Aku sebenarnya terpukau juga ketika cerita selesai, menyisakan UTA menyanyikan lagu penutup. Aku sih biasanya keluar bioskop setelah credit title habis. Ini kok nggak ada yang pengin cepat-cepat keluar, kayak takut ketahuan ‘si paling’ lalu di-posting di medsos sebagai penonton yang nggak tahu.

Aku sebenarnya juga heran, kok nggak ada penonton yang keluar sebentar buat sekadar ke toilet atau jajan. Apakah semua adalah penggemar One Piece kecuali aku? Biar nggak ketahuan, aku pun menyaru seperti penggemar fanatik, ikut menikmati konser, sesekali menebak alur, ikut ketawa waktu beruang raksasanya umes dan komen ocha-acho mulu.
Aku sebenarnya nggak ngerti ceritanya, tapi aku menikmati ketika Luffy mara-mara dan mengeluarkan jurus melar dan menggelembungnya. Aku juga ikut sedih ketika topi jerami Luffy dirobek UTA. Itu sudah cukup berarti buatku.
Aku sebenarnya juga nggak tahu apakah ada clue di akhir film seperti Marvel punya, sehingga penonton bertahan menikmati lagu pungkasan si UTA. Jangan-jangan pihak bioskop juga heran, ni penonton kok nggak pergi-pergi padahal film udahan. Mungkin karena itulah lampu segera dinyalakan supaya pada pulang, soalnya mau lanjut jam tayang berikutnya. 🤣
(Monmaap kalian sudah baca tulisan panjang tapi nggak ada spoilernya sama sekali.)
Tias Tatanka


