Pangeran Diponegoro atau Raden Ontowiryo adalah putra tertua dari Sultan Hamengkubuwana III dan seorang pahlawan nasional Republik Indonesia yang memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa selama periode tahun 1825 hingga 1830 melawan pemerintah Hindia Belanda. Aku suka ketika di alun-alun Kota Magelang melihat patung Diponegoro! Tudingan telunjuknya itu! Heroik! Seolah berteriak dan menuding ke orang Belanda: Heh, enyah kau dari tanahku! Dari bumi pertiwi!


Saking kagumnya aku kepada sosok Pangeran Diponegoro, aku menulis puisi untuknya. Dia aku sandingkan dengan perilaku orang-orang di Banten, yang keluar dari semangat para sultan Banten. Di daftar 12 Pahlawan Idolaku, Pangeran Diponegoro berada di urutan pertama, karena sikapnya menjaga martabat keluarga! Inilah 12 pahlawan idolaku:
- Pangeran Diponegoro, 1785-1855
- Multatuli, 1820-1887
- Teuku Umar, 1854-1899
- Tjoet Nyak Dien, 1848-1908
- RA Kartini, 1879-1904
- HOS Tjokroaminoto, 1882-1934
- Boedi Oetomo, 1888-1938
- Bung Karno, 1901-1970
- Bung Hatta, 1902-1980
- Bung Tomo, 1920-1981
- Harris Sumantapura, ayahku,1934-2007
- Atisah, ibuku, 1936-2022

Bacalah tulisa lain Gol A Gong: Kekagumanku kepada Pangeran Diponegoro
Kenapa aku memilih Pangeran Diponegoro di urutan pertama Aku suka sifat kelelakiannya. Dia tersinggung ketika Belanda dengan seenak udel masuk ke wilayahnya dengan mematok-matok pebatas untuk mebuat jalan. Itu harga diri. Sikap itu akan menggerakkan semua orang, jika ingin memulai yang besar, mulailah dengan diri sendiri dulu. Saya suka sifat kelelakiannya. Dia tersinggung ketika Belanda dengan seenak udel masuk ke wilayahnya dengan mematok-matok pebatas untuk mebuat jalan. Itu harga diri.
Bacalah puisiku ini:

PANGERAN DAN SULTANKU
Gol A Gong
Di alun-alun Kota Magelang
Kulihat wajah pemberani yang sudah lama
kukenal di perpustakaan tersenyum kepadaku
dia bertanya: ke mana Sultan Banten?
Sore ini ketika senja di balik menara masjid Agung
alun-alun kota Magelang ramai menikmati keberaniannmu
jari telunjukmu itu adalah semangat perlawanan
lantang suaramu: Belanda enyah dari Tegalrejo
Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati
sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati
begitulah aku, tertunduk pada bumi Magelang
Sultan Bantenku pernah ada di perempatan jalan
menunggang kuda dengan gagah berani
menyapa kepadaku setiap lampu menyala merah
Kini Sultan Bantenku tak ada lagi
lenyap ditelan kursi panas politisi
sementara kau, Pangeran Diponegoro
betapa gagah menemani warga di alun-alun kota
*) Magelang, 14 September 2022
Mari kita gelorakan terus sikap menetang keadilan. Mulailah dengan di lingkungan sendiri.
Gol A Gong


