Sabtu 3 Januari, masih pagi. Kami ditampung di rumah Pak Ahmad Dahlan, orang kedua di KBRI Laos. Pak Dahlan sedang ada tugas di Jepang.
Natasha – sedang mens hari pertama. Jordy menemani sambil ngedit. Saya jalan kaki ke Patuxsay, semacam Monasnya Laos.
Menurut Kang Derry, diaspora asal Garut, “Patuxay Park adalah monumen kemenangan Laos atas Perancis . Dibangun 1957-1968 . Orang Laos menyebutnya “Gerbang Kemenangan”. Arsitekturnya unik . Mirip Arc de Triomphe) di Perancis. Juga ada lemen mitologi Buddha Laos,.”
Bagi saya Patuksay ini jadi ikonik. Di Kediri juga ada ya yang mirip. Kalau di Banten, jangan tanya deh. Ada Patung Debus, nyungsep, tidak ikonik. Ada Monumen daerah di alun-alun Kota Serang, tidak terurus dengan baik.
Saya bersenang-senang saja di sini. Ada Cafe. Saya berlagak borjuis di negara komunis, Laos. Ada kopi dan roti Perancis. Antara tradisi dan modernisasi, kapitalis-sosialis. China mulai banyak melakukan investasi. Bagaimana kabarnya dengan 7 setan kota yang memeras rakyat di Indonesia?
Sekitar pukul 11:00 saya kembali ke markas. Menyiapkan diri untuk makan siang di rumah Pak Derry. Sekitar pukul 12:00 Pak Derry datang. Kami meluncur.
Menu makan siangnya soto khas Vietnam. Tak ada nasi. Bu Linda , istri Pak Derry yang memasaknya. Natasha tidak ikut. Dia beristirahat.
Pukul 14:00 pelatihan dimulai. Sekitar 10 orang bergembira dengan dunia literasi baca dan tulis.
Gol A Gong
Traveler, Author
Literacy Journey 12 Negara
