Pengakuan Algojo 1965, Sejarah Kelam Indonesia Perihal Pembunuhan Orang-Orang PKI versi Investigasi Tempo

Ini memang sejarah kelam Bangsa Indonesia pada tahun 1965. Di mana pada masa itu pembantaian terhadap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terjadi di beberapa tempat akibat dari peristiwa G30S PKI.

Terkait berapa jumlah korban, Tempo menulis tak ada angka pasti. Tapi tim khusus yang dibentuk Sorekarno pada Desember 1965 menyebutkan bahwa korban meninggal PKI sekitar 78 ribu orang yang dibunuh. Tim tersebut adalah komisi pencari fakta yang dipimpin langsung oleh Menteri Negara Oei Tjoe Tat. Sedangkan laporan Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban menyebutkan korban tewas sekitar satu juta. Menurut Mantan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat, Sarwo Edhie Wibowo mengatakan ada tiga juta orang terbunuh. Sementara para aktivis kiri mempercayai ada dua juta jiwa yang melayang.

Buku ini ditulis dengan gaya investigasi dan penuturannya menggunakan teknik penulisan feature. Sehingga pembaca seakan diajak masuk dalam cerita lewat gaya penuturan Tempo yang membuat pembaca terpikat. Seolah kita sedang berada di tengah peristiwa-peristiwa tersebut.

Misalnya saja Tempo menulisnya begini: 

Pembantaian anggota PKI di Bali dimulai dari Jembaran. Ribuan orang dibunuh, nyaris tanpa perlawanan.

Tidak banyak yang berubah dari bangunan dua lantai di tepi Jalan Manggis, Desa Lelateng, Kabupaten Jembrana, itu. Gedung bertembok tebal dengan tiga jendela besar di lantai dua itu tampak kokoh. Empat dekade lampau, gedung ini dikenal dengan sebutan Toko Wong.

….”Toko itu dipakai untuk menahan orang-orang PKI,” kata Ida Bagus Raka Negara, 73 tahun, bekas Kepala Desa Tegalcangkring, Jembrana. Dia lalu bercerita bagaimana setiap malam truk-truk besar membawa ratusan anggota PKI untuk disekap di sana…. “Semua tahanan PKI diberondong dengan senapan mesin,” kata Raka. Tak kurang dari 200 anggota PKI tewas malam itu. (Hal 65 & 67).

Penggambaran tentang sebuah toko yang digunakan sebagai tempat pembantaian anggota PKI tergambar jelas dari penuturan di atas dan semakin diperkuat dengan cerita Raka.

Buku setebal 178 halaman ini memuat pengakuan langsung dari para algojo yang membunuh orang-orang PKI.

Tempo juga mengambil referensi untuk penulisan buku ini dari film dokumenter “The Act of Killing (Jagal) karya Sutradara Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer. Dalam film itu ada mantan preman bernama Anwar Congo yang blakblakan mengaku membunuh orang-orang PKI di Medan sepanjang 1965-1966.

Pembawaan Anwar riang. Ia dikenal jago dansa. Penggemar Elvis Presley dan James Dean itu mengatakan sering membunuh sembari menari cha-cha. “Saya menghabisi orang PKI dengan gembira,” katanya…. Pengakuan jujur Anwar ini bisa membuat siapa saja terperangah. Ada “heroisme” di situ. Anwar menegaskan dirinya penyelamat bangsa. (Hal 5).

Dalam buku ini masih banyak lagi pengakuan seperti Anwar itu. Ada juga mantan algojo yang akhirnya terpaksa dipasung oleh keluarganya karena sering mengamuk, lantaran mengalami gangguan jiwa.

Tidak hanya dalam bentuk catatan, buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto pendukung lainnya, termasuk beberapa foto wajah-wajah mantan algojo yang makin menua.

Judul Buku: Pengakuan Algojo 1965
(Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965)
Penulis: Kurniawan et al
Penerbit: Tempo Publishing, 2013
Tebal: 178 Halaman.

Kibin, akhir Agustus 2022*

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==