Kang Zeze, Nita Juanita, Vera Verawati, dan A’i Siti Rohanah menyampaikan materi dengan begitu detail mulai dari bercerita pengalaman dan tantangan mereka dalam menulis dan menumbuhkan minat literasi masyarakat. Mereka juga berbagi bagaimana cara meluangkan waktu untuk menulis di tengah kesibukan, hingga memberikan edukasi untuk menumbuhkan rasa cinta pada literasi.

Tak hanya para penulis Kuningan yang semangat dalam menyampaikan materi, para hadirin dan tamu undangan yang hadir pun terlihat sangat antusias. Para peserta terlihat menyimak dan aktif memberikan pertanyaan saat sesi diskusi berlangsung.

Di awal, moderator sempat mengemukakan kesibukan dan aktivitas para penulis Kuningan, hingga prestasi-prestasi yang telah mereka raih. Kang Zeze dosen di sekolah tinggi, Vera sibuk mengelola taman bacaan, Nita sebagai ASN, dan A’i mengelola perpustakaan desa.

Di antara prestasi-prestasi itu, ada yang sudah menjuarai lomba menulis cerita pendek, lomba menulis cerita anak, sampai membuat buku yang sudah diterbitkan dan buku karya terbaru yang akan segera diluncurkan.

Ada pun judul-judul buku yang telah mereka buat sangat bervariasi dari berbagai genre, mulai dari self improvement, dongeng, hingga romance. Salah satu buku dengan genre romance yang telah dibuat ialah berjudul “Cinta yang Salah”. Buku tersebut kemudian jadi hadiah untuk para audiens yang bertanya.

Dalam acara tersebut, diundangnya Penulis Kuningan tentu memberikan banyak sekali ilmu dan wawasan. Hal yang paling disoroti adalah mereka mulai suka menulis dari status Facebook. Mereka tidak menyangka, karena ternyata banyak yang suka dengan tulisan mereka dan akhirnya mulailah untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan menulis sampai kini menjadi seorang pegiat literasi.


Dalam acara ini juga, Kang Zeze mengatakan, bahwa menulis adalah salah satu terapi psikologis. “Jadi kenapa saya tertarik dengan menulis karena menulis itu adalah salah satu cara untuk kita agar bisa terus berpikir waras diantara kondisi kehidupan kita yang mungkin punya banyak trauma atau persoalan yang tidak bisa kita ungkapkan,” ungkapnya menutup diskusi di Auditorium Rumah Dunia, Sabtu (27/4/24).
Sarah



