Semua orang yang hadir mendapatkan souvenir 4 buku karya Yusron. Saya tidak bisa memastikan, kapan mengenal Yusron, pegiat literasi yang juga saudagar berasal bisa dari Jombang, Sidoarjo, Surabaya, atau bahkan Yogyakarta. Ia bisa ada di mana-mana sebagai Master Trainer MEP (Menebar Energi Positif), jika kami sedang berkirim kabar lewat pesan WA. Cakupan wilayahnya Indonesia, tapi kami dengan mudah bertemu di 3 kota Jawa Timur itu.


Barangkali pertemuan pertama kami saat saya bersama relawan Rumah Dunia – Arip Baehaqi, Ardian, dan Rudi Rustiadi menyulut “gempa literasi” di sepanjang jalan pos Daendels dari Anyer hingga Panarukan selama 50 hari, September – Oktober 2014. Kemudian di Hari Aksara International, Palu, 2015. Atau di Kendari. Bisa jadi di Medan. Mungkin di Jakarta. Akhirnya saya putuskan, kami bertemu di mana-mana dan selalu dalam “perjamuan literasi” yang mewah.

Jika bertemu dengan Yusron Aminullah, saya jadi teringat para filantropi, yang hartanya tidak digunakan untuk kepentingan dirinya saja. Orang-orang yang memilih “berkeringat” di lapangan seperti saya, akan merasa aman jika bertemu dengannya. Dia manusia langka di jalan literasi. Saya selalu mendoakan dia, agar diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah oleh Allah SWT.

“Iqro Semesta akan support kerja-kerja literasi Mas Gong,” katanya setiap saat. Iqro Semesta adalah Lembaga Sosial yang ia lahirkan untuk urusan literasi. “Terutama jika di Jawa Timur. Mas Gong nggak usah mikirin soal akomodasi dan logistik,” tambahnya.

Tidak banyak orang yang mendedikasikan dirinya untuk kerja-kerja literasi, mulai dari komitmennya, konsistensinya, bahkan tidak sekadar omong doang tapi justru lebih banyak ke aksi. Dia ingin agar anak-anak muda Indonesia memiliki keterampilan menulis seperti saya dan dirinya, yang mantan Pemimpin Redaksi di Surabaya Pos.

Yusron bagi saya ibarat Midas, seorang raja dalam mitologi Yunani, yang memiliki kemampuan mengubah semua yang ia sentuh menjadi emas. Itu terbukti dengan Iqro Semesta yang memiliki spirit regenerasi di kerja-kerja literasi, maka lahirlah Bambang Prakoso dan Aditya Akbar Hakim. Bukit Wonosalam di Jombang dia sulap jadi kawah candradimuka literasi lingkungan bernama De Durian Park dan Wonosalam City Park.

Saya beruntung bisa bertemu dan mengenalnya. Saya yakin ini adalah cara kerja Allah SWT yang misterius. (*)


