Perempuan Banten Bersuara: Mengupas Sisi Kodrat hingga Perspektif Ekologi dan Pembangunan Berkelanjutan

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Banten bersama Indonesia Book Party Chapter Serang (Serang Book Party) sukses menggelar talkshow bertajuk Post-Modernisme Cinderella pada Minggu (2/2/2025), di Café Teras Bamboo, Kota Serang. Acara yang merupakan bagian dari rangkaian Seba Literasi ini dibuka oleh Ketua ICMI Orwil Banten, Dr. Ir. H. Eden Gunawan M.M., IPM., ASEAN Eng. dan menghadirkan diskusi mendalam tentang peran perempuan di dunia modern.

Baca Juga di sini: Bunda Nadia Meneteskan Air Mata Ketika Kios Ikannya di Taman Sari Kota Serang Dirobohkan

Talkshow yang diinisiasi Bidang 4 Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini menampilkan berbagai narasumber inspiratif, termasuk Dr. Hj. Sitti Maani Nina, M.Si (Kepala DP3AKB Provinsi Banten), Stevany Arizal, M.Sos. (Kepala Laboratorium Rekayasa Sosial FKIP Untirta), Nury Sybli (Women of the Year 2019), Encop Sofia anggota DPRD Provinsi Banten, Dr. Yulianti Fitriani, S.Pd., M.Sn., (Anggota Bidang IV-Pemberdayaan Perempuan dan Anak), serta Putri Wartawati seorang seniman tari yang turut memeriahkan acara dengan penampilan tari khas Banten dan Bayu dengan penampilan stand up comedy-nya yang apik.

Dalam presentasinya, Stevany Arizal, M.Sos., menjelaskan hasil penelitiannya tentang dampak pandemi Covid-19 terhadap perempuan. “Selama pandemi, perempuan menghadapi beban yang jauh lebih besar dibanding laki-laki, baik dalam urusan rumah tangga maupun pekerjaan profesional,” jelasnya.

Hal ini merupakan dampak degradasi lingkungan terhadap kehidupan perempuan, dimana peningkatan risiko kesehatan perempuan akibat polusi udara, limbah industri, dan penggunaan bahan kimia berbahaya dalam sektor pertanian dan manufaktur menyebabkan ketidakseimbangan kehidupan masyarakat, terutama keluarga yang notabene dikonduktori oleh perempuan.

Sekaitan dengan penjelasan Stevany, Nury Sybli lebih mengajak peserta untuk memahami kembali identitas perempuan melalui sejarah bahasa. “Kata perempuan berasal dari bahasa Melayu kuno, per-empu-an, yang berarti sesuatu yang dimuliakan atau dihormati. Sementara wanita berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ‘yang diinginkan.’ Jadi, perempuan harus berani bertanya: Siapa aku ini?” tegasnya.

Baca juga di sini: 15 Perempuan Diperkosa dan Dibunuh Lelaki

Tidak hanya diskusi, acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan seni. Tarian dari Putri Wartawati memberikan sentuhan budaya yang memukau, menggambarkan keindahan tradisi lokal dengan balutan modernitas. Penampilan stand-up comedy dari Bayu Pekijing juga menjadi sorotan, menghadirkan humor segar yang mengangkat isu-isu perempuan masa kini dengan cara yang ringan namun penuh makna. Kombinasi elemen-elemen ini menciptakan suasana yang menyentuh hati sekaligus memberikan refleksi mendalam bagi para peserta.

Dengan kolaborasi ini, Road to Seba Literasi kembali menegaskan posisinya sebagai gerakan literasi yang inovatif dan inklusif, sekaligus menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus mengeksplorasi isu-isu literasi, gender, dan budaya.

Miftah Rahmet, Relawan Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==