Banyak orang yang protes, kenapa pohonnya dipaku? Pohon mangga ini saya tanam di halaman belakang rumah pada 2002. Saya rawat hingga mati pada 2022. Kena hama. Setelah setahun saya diamkan, per Agustus ini saya meminta izin untuk saya paku dan tempeli plat-plat nomor polisi kendaraan bermotor.

Awalnya plat-plat nomor polisi itu saya paku ke tembpk. Tapi ketika saya berkunjung ke Pondok Baca Nubun Puhun, Adonara, Flores Timur, saya terkejut melihat monumen nomor polisi kendaraan bermotor yang berada di halaman kantor desa. Ini jadi spot foto menarik, karena dipadukan dengan burung Garuda dan sepatu-sepatu bekas.

Wah, ini bisa jadi tersambung antara Museum Literasi Gol A Gong di Rumah Dunia, Kota Serang, Banten dan Nubun Puhun di Adonara, Flores Timur. Saya terinspirasi. Saya mesti nyari burung Garuda, nih. Sepatu-sepatu, banyak juga di rumah.

Tapi ada yang bertanya tentang pohon perjalanan ini, “Filosofinya apa?” Sebetulnya ini untuk pengingat di masa depan bagi anak-cucu-cicit, bahwa ayah-kaket-buyut mereka sering melakukan perjalanan. Ini juga literasi numerasi, tentang huruf-angka, yang menandakan sebuah wilayah di Indonesia.



