Prambudi Memutus Urat Gengsi Demi Menjemput Rezeki

Oleh: Muhammad Naufal Nabilludin

Malam itu, 5 Februari 2026, udara Tangerang terasa berat dan lembap, seperti kain basah yang ditempelkan ke wajah. Di area penjemputan Stasiun Tangerang, Prambudi sudah menunggu di balik kemudi Toyota Rush putih milik rekannya.

Kami segera membelah kemacetan malam menuju kediamannya di kawasan dekat Bandara Soekarno-Hatta, menyusuri jalur Perimeter Utara di daerah Teluknaga. Di sepanjang perjalanan, Pram tidak henti-hentinya bercanda — sesekali menghidupkan lagu dari stereo mobil. Namun di sela-sela kelakarnya, ia tiba-tiba menyebut nama usaha yang sedang ia rintis.

“Suruhin Tangerang,” ucapnya santai.

Nama yang mudah diingat, dan sedikit konyol.

Setibanya di rumah Pram, sebotol kopi literan dihidangkan dengan es batu. Kami menyiapkan siaran langsung di TikTok, dan dari situlah kisah-kisah itu mulai tumpah satu per satu.

Mulanya ia bercerita dengan nada bercanda, seperti biasanya. Tapi ketika saya bertanya soal awal mula semuanya, suaranya sedikit melunak. Suatu malam, setelah menunaikan salat Isya, di atas sajadahnya yang sunyi, Pram menyerahkan seluruh kegelisahannya kepada Tuhan. Ia meminta jalan. Meminta petunjuk.

“Gue bener-bener minta jalan malam itu, Fal,” kenangnya. “‘Ya Allah, kasih saya jalan. Permudahkanlah jalan saya.’ Eh, abis doa, gue iseng buka TikTok… dan langsung ketemu jalannya.”

Selesai melipat sajadah, ia menggulir video di TikTok — hingga sebuah akun bernama Santo Suruh muncul di berandanya. Jasa suruhan apa saja, viral, dan belum ada yang bikin di Tangerang. Malam itu juga ia bergerak. Bikin akun, cari konsep, ngulik logo sendiri — semua dalam satu malam yang sama dengan doanya.

Bagi Pram, itu bukan kebetulan.

Setelah malam itu, pesanan demi pesanan mulai berdatangan — dan tidak ada satu pun yang biasa-biasa saja. Dari sekian banyak cerita yang ia tumpahkan malam itu, yang paling membuat saya tertawa adalah cerita tentang makam.

Suatu hari, ada pelanggan yang memintanya mengecek kondisi nisan keluarganya. Terdengar sederhana — sampai Pram membaca petunjuk lokasi yang diberikan:

“Pokoknya posisinya di samping tukang gorengan, Kak.”

Pram terpaksa menyusuri area pemakaman yang becek setelah hujan sore, mencari nisan satu per satu, sambil video call dengan si pelanggan.

“Tukang gorengan kan pindah-pindah, Pak! Gue nyariin satu-satu sambil video call, ‘Kak, yang ini bukan nisannya?’ Asli, gue takut banget jasadnya ketuker!” kenangnya sambil tertawa lepas.

Takut. Bingung. Tapi tetap ia jalani. Tak hanya mengecek, Pram bahkan sukses menegosiasikan biaya renovasi makam itu dengan tukang setempat.

Tapi tidak semua cerita malam itu mengundang tawa. Dari sekian banyak kisah, ada satu yang justru membuat saya terdiam lebih lama dari yang lain.

Pernah ada pelanggan yang menyewa Pram bukan untuk mengangkat barang, bukan untuk bersih-bersih rumah. Orang itu hanya ingin ditemani. Mereka keliling Tangerang, makan bersama, masuk bioskop — dan pelanggan itu mencurahkan isi hatinya sepanjang malam.

“Gue di situ murni jadi pendengar doang, Fal. Kalau dia nggak minta masukan, gue nggak bakal ngomong. Karena kadang, orang galau itu cuma butuh dibeli kehadirannya dan didengerin tanpa diguruin,” tutur Pram pelan.

Di tengah kota yang semakin bising, ternyata ada orang yang rela membayar bukan untuk membeli tenaga — melainkan untuk membeli kehadiran. Dan Pram memilih hadir di sana, di celah-celah kebutuhan manusia yang sering dianggap terlalu kecil untuk dihitung.

Di balik semua itu, Suruhin Tangerang digerakkan oleh filosofi yang sederhana namun tajam: kalau punya duit, nyuruh — kalau tidak punya duit, harus mau disuruh. Pram melihat dua kebutuhan yang saling mencari. Di satu sisi, perantau sibuk yang kehabisan waktu bahkan untuk membersihkan kosan. Di sisi lain, orang-orang yang punya tenaga tapi butuh penghasilan tambahan. Suruhin Tangerang hadir di tengah-tengah, membuktikan bahwa dari kerendahan hati untuk mau disuruh, peluang baru bisa tercipta.

Kini Suruhin Tangerang menaungi 17 mitra aktif — dari bapak-bapak ahli pindahan, anak muda tangkas antar-jemput, hingga seorang Sarjana Hukum yang tidak gengsi menerima pekerjaan sambilan. Dari sanalah lahir prinsip yang ia pegang erat-erat.

“Fokusnya jangan nyari kerja, tapi nyari duit,” kata Pram, dengan nada yang tidak menggurui — hanya seperti seseorang yang sudah menemukan jalannya dan ingin berbagi.

Malam makin menua di Teluknaga. Lampu ring masih menyala. Deru pesawat dari arah bandara sesekali memecah keheningan ruangan.

Saya memandang Pram — masih sama seperti yang saya kenal saat kami sama-sama menjadi relawan di Lombok setahun lalu. Masih mudah tertawa. Masih mudah akrab. Bedanya satu: kini ia telah menemukan jalannya sendiri, dan ia memilih jalan yang tidak banyak orang berani tempuh.

Kisah lengkap Prambudi dan Suruhin Tangerang — termasuk bagaimana ia membangun 17 mitra, kisah berburu kecoa, hingga saat ia nekat mengajukan diri sebagai jodoh pelanggannya sendiri — sudah dibukukan dalam antologi kisah inspiratif Akar yang Menolak Tumbang Jilid 9 bersama Gol A Gong, dkk., diterbitkan oleh SIP Publishing.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==