Oleh: Rahma Dwi Azahra
Cerita lucu dan ironis dibagikan. Ada seorang warga Jerman yang pernah berkata kepada profesor asal Korea Selatan yang ahli dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia, “Saya pernah ke Bali, tapi saya belum pernah ke Indonesia.”
Sejenak kita mungkin tertawa. Tapi kalau dipikir lebih jauh, ada sesuatu di sana yang seharusnya membuat kita termenung. Kalau nama Indonesia saja belum benar-benar dikenal dunia, bagaimana caranya karya sastra kita bisa sampai ke tangan pembaca asing?
Pertanyaan itu muncul dalam kuliah tamu Prof. Dr. Koh Young Hun, guru besar dari Hankuk University of Foreign Studies, Korea Selatan, yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Yang menarik, justru seorang sarjana asing ini yang paling lantang berbicara tentang potensi sastra Indonesia—sesuatu yang sepertinya belum cukup kita sadari sendiri.

Sastra Itu Diplomat, Bukan Sekadar Bacaan
Lucien Goldman, sosiolog sastra asal Prancis, pernah menyebut bahwa karya sastra adalah cerminan realitas masyarakat yang melahirkannya. Nilai-nilai, konflik, dan pengalaman hidup sebuah bangsa tersimpan di dalamnya. Dengan kata lain, sastra bukan cuma hiburan—ia adalah dokumen hidup sebuah peradaban.
Korea memahami persoalan ini. K-pop dan K-drama bukan sekadar tren—keduanya adalah jembatan yang membawa jutaan orang dari seluruh dunia untuk mengenal, menyukai, bahkan mencintai negara Korea. Banyak orang rela terbang jauh-jauh ke Seoul hanya untuk menonton konser BTS. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi kebudayaan yang dibangun dengan sadar dan konsisten bertahun-tahun. Hasilnya? Ekonomi bergerak, pariwisata melonjak, dan citra Korea di dunia ikut terangkat.
Di Eropa, ada Harry Potter. Novel J.K. Rowling itu kini menghasilkan lebih dari 95 juta dolar AS per tahun sekaligus membuat dunia makin akrab dan simpati pada Inggris. Sebuah cerita fiksi, tapi memiliki dampak sangat nyata.
Indonesia punya potensi yang sama, bahkan lebih besar jika kita menyadarinya. Sejarah kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, keberagaman suku dan budaya, hingga pergolakan politik yang panjang—semua itu adalah bahan mentah yang nilainya luar biasa untuk karya sastra yang berada di kelas dunia. Yang kita perlukan adalah keseriusan untuk mengelolanya.
Yang Lokal, Justru Paling Universal
Ada kesalahpahaman yang sering kita buat: supaya dikenal dunia, karya sastra harus “dijinakkan” atau dibuang ciri lokalnya agar lebih mudah diterima semua orang. Prof. Koh membalik logika itu. Menurutnya, justru kelokalanlah yang membuat sebuah karya punya daya tarik global.
Han Kang, peraih Nobel Sastra 2024 dari Korea, tidak menulis tentang tema-tema universal yang hambar. Ia menulis tentang luka sejarah Korea yang sangat spesifik dan tentang kekerasan yang diwariskan turun-temurun. Justru karena spesifik itulah pembaca di seluruh dunia bisa merasakan sesuatu yang dalam dari karyanya.

Hal yang sama berlaku pada sastra kita. Pramoedya Ananta Toer menulis tentang kehidupan masyarakat pribumi di masa kolonial—ketidakadilan, diskriminasi, dan perjuangan martabat manusia. Ceritanya berlatar Indonesia, tetapi rasa kemanusiaannya tentu dapat melampaui batas negara mana pun. Prof. Koh bahkan menyebut Pramoedya seharusnya sudah meraih Nobel pada 1986, dan ada bukti historis bahwa tekanan politik dari dalam negerilah yang menghalanginya.
Masalahnya Ada di Jembatan
Kalau konten atau bahannya sudah sekuat ini, lalu apa yang masih kurang?
Jawabannya satu kata: penerjemahan. Tanpa terjemahan yang baik, karya semenarik apa pun akan tetap terkurung dalam satu bahasa. Dan menerjemahkan bukan sekadar memindahkan kata—ini adalah kerja budaya. Penerjemah yang tidak memahami konteks budaya asal bisa menghasilkan terjemahan yang kehilangan rasanya.
Faktanya cukup mengejutkan: dari 1976 hingga 2022, hanya 11 novel dan 4 kumpulan puisi Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Korea, dan semuanya dikerjakan oleh 15 penerjemah Korea. Tidak satu pun penerjemah Indonesia yang terlibat. Kita melihat permasalahan di sini. Nasib sastra kita di panggung internasional ternyata sangat bergantung sepenuhnya pada niat pihak luar.
Korea punya solusinya: sejak 1996, mereka mendirikan Literature Translation Institute of Korea (LTI Korea) yang aktif mendanai penerjemahan sastra Korea ke 44 bahasa dan menggelar ribuan kegiatan pertukaran internasional. Indonesia punya Yayasan Lontar, tapi skalanya masih jauh dari yang dibutuhkan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Ini bukan masalah yang harus diselesaikan pemerintah seorang diri. Kita semua punya peran dalam hal ini.
Pertama, nama Indonesia perlu diangkat lebih aktif di panggung dunia—bukan hanya Bali dan batik. Kedua, penerjemahan harus diakui sebagai profesi serius yang layak didanai negara, bahkan dengan membuka program studi penerjemahan sastra di lebih banyak perguruan tinggi. Ketiga, dan ini yang paling dekat dengan kita, yaitu budaya membaca di dalam negeri sendiri harus diperkuat. Tidak realistis berharap pembaca asing tertarik pada karya yang oleh masyarakatnya sendiri tidak dibaca.
Dan yang terakhir, mungkin yang paling sering terlupakan adalah keberanian untuk percaya bahwa suara asli Indonesia itu sudah cukup menarik. Tidak perlu diperhalus dan tidak perlu disamarkan agar terasa lebih “global” serta mudah diterima.
Dunia tidak butuh karya yang seragam. Dunia butuh suara yang jujur. Dan Indonesia, dengan segala kekayaan budaya dan kedalaman sejarahnya, memiliki itu semua.
Pertanyaannya bukan lagi apakah sastra Indonesia bisa mendunia. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita cukup serius untuk mewujudkannya?
Sumber: Kuliah Tamu Prof. Dr. Koh Young Hun, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, 27 April 2026.
Tentang Penulis:

Rahma Dwi Azahra, mahasiswa semester 4 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Memiliki ketertarikan pada isu sastra, budaya, dan budaya populer, serta ingin secara aktif mengeksplorasi dunia kepenulisan dan permainan kata dalam bahasa.


