Projek P5: Mandi dan Gosok Gigi di Sungai

Pada tahun ajaran 2023/2024 ini salah satu tema yang cukup menarik kami lakukan di sekolah adalah Budaya Hidup Sehat pada fase D kelas delapan. Agar pelaksanaan P5 kali ini mencapai sasaran, Tujuan Pembelajaran kami mengambil beberapa dimensi yang cocok, seperti Dimensi Bergotong Royong dan Dimensi Mandiri. Tujuan dipilihnya dimensi ini adalah agar siswa bisa berkolaborasi dalam setiap pekerjaan sebagai salah satu bekal kecakapan yang harus dimiliki pada abad 21, yakni kecakapan kolaborasi.

Sementara Dimensi Mandiri mendorong siswa untuk bisa menjaga kesehatannya secara mandiri, karena Budaya Hidup Sehat merupakan kecakapan individu, misal kebiasaan menjaga kebersihan gigi dan mulut. Sementara itu untuk elemen dan subelemen kami menyesuikan dengan target yang akan dicapai oleh siswa.

Dasar pemilihan tema, topik, dimensi, elemen, sub elemen dan target pencapaian pada P5 Budaya Hidup Sehat ini sudah melewati diskusi yang mendalam tim sekolah. Tim melakukan kajian, tinjaun, penelitian/riset, observasi untuk memilih tema yang berdampak.

Menurut survey Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 bahwa Papua Barat merupakan provinsi dengan resiko kusta tertinggi di Indonesia, hal ini seiring dengan masih rendahnya literasi tentang kesehatan badan dan kulit pada masyarakat. Sehingga diputuskanlah tema Budaya Hidup Sehat, karena melihat masih banyaknya siswa yang masih kurang memperhatikan pentingnya Kesehatan Badan.

Hal ini terlihat masih banyaknya siswa yang menderita penyakit panu, kurap, serta penyakit kulit lainnya. Kemudian setelah dilakukan pengamatan siswa masih banyak yang belum paham pentingnya kebersihan gigi dan mulut. Biasanya siswa banyak yang tidak menggosok gigi mereka. Tema yang dipilih cukup mengena pada kondisi siswa.

Pada aktivitas pada P5 ini sungguh berkesan, karena siswa kami bawa langsung untuk praktik di sungai. Hal tersebut dilakukan setelah siswa diberikan materi oleh narasumber secara teori pada pertemuan sebelumnya, sehingga siswa sudah punya bekal yang cukup ketika siswa melakukan aktivitas pembelajaran di sungai.

Kegiatan diikuti dengan senang hati, bahkan siswa sangat antusias belajar di luar lingkungan, apalagi sekolah kami memiliki sungai yang jernih yang berjarak 500 meter saja dari sekolah. Setelah menentukan hari, kami mengumpulkan siswa di sekolah untuk menyampaikan teknis belajar di sungai. Saya (Safei) dan tim P5 lainnya (Hasmadani dan Tadius Rombelangi) membagikan sabun mandi, shampoo, odol dan alat penggosok gigi secara gratis. Siswa sangat senang diberikan perlengkapan kebersihan secara cuma-cuma tersebut.

Sampai di sungai, tim P5 mengajarkan cara menggosok gigi kepada siswa dengan langsung mempraktekkannya dihadapan siswa. Siswa memperhatikan dengan khidmat dan teliti. Sampailah pada praktik langsung menggosok gigi yang benar. Dimulai dengan memilih jenis odol yang baik, jenis alat penggosok gigi yang baik lalu mengoleskan odol di alat penggosok gigi.

Secara serentak siswa melakukan praktik menggosok gigi di sungai. Pada saat praktik, saya mengajarkan langsung kepada David cara menggosok gigi yang benar. Saya menggosokkan giginya secara langsung. “Bagian atas geraham jangan lupa, karena biasa disana terselip sisa makanan yang menyebabkan gigi berlubang,”ujar saya pada David. Moment itu memancing ketawa siswa lain.

Mereka melakukan apa yang saya lakukan pada David. “Pak guru, gigi saya sudah bersihkah,” tanya Matan Manasel kepada saya. Ia memperlihatkan giginya.

“Oh, iya. Bagus. Nanti odol tersebut bisa kamu bawa dan lakukan gosok gigi setiap hari dua kali,” ujar saya pada Matan.

Selain praktik menggosok gigi yang benar, siswa kami ajarkan cara membersihhkan badan yang benar, mulai mandi pakai sabun, keramas hingga aktivitas yang mungkin sedikit geli, yakni mengorek kuping siswa dengan cotton buds. Tapi itu kami lakukan dengan hati gembira, siswa pun tidak keberatan.

Proses belajar di sungai tersebut sangat menyenangkan. Siswa mengikuti semua aktivitas belajar yang sudah dirancang di sungai dengan gembira. Proses belajar di sungai pagi itu kami tutup dengan membakar ayam dan makan bersama sambil menguatkan tujuan pembelajaran.

Rangkaian aktivitas P5 seperti ini sangat penting dilakukan agar siswa tidak jenuh di ruang kelas. Sekolah harus memanfaatkan aset sumber belajar yang sebenarnya sangat banyak di lingkungan sekolah, karena alam adalah sumber belajar. “Alam takambang jadi guru”, begitu kata pepatah Minang. Dan yang tidak kalah penting: belajar yang betul adalah berpihak kepada murid.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==