Buku ini tentang komunisme di Banten. Harus sabar, pelan-pelan. Ini interteks dari novel “Bumi Manusia” dan “Ronggeng Dukuh Paruk”. Ada 40 buku yang harus berulang-ulang saya baca. Mellahkan, tapi harus saya lakukan.
Saya perkirakan dengan kesibukan saya sebagai Instruktur Literasi Nasional, mentor di beberapa Kelas Menulis, mengelola komunitas Rumah Dunia, bisa selesai tahun 2025. Saya ingin ini bakal novel saya ini, semoga setelah saya tiada, bisa terus abadi seperti halnya “Balada Si Roy”.
Wah, lama! Saya harus tetap tersenyum. Senyum harus terus mengembang, karena jika saya sikapi dengan wajah cemberut, justru proses kreatif saya akan acak-acakan. Memang bukan perkara mudah menulis dengan banyak kegiatan.Sebetulnya pada 2017 novel “Bulan Bulat Perak” ini sudah jadi draft pertama hingga 18 bab, tetapi kena musibah, hardisk rusak, hilang semua data. Berarti mengulang lagi dari awal. Bayangkan, 18 bab. Sudah jadi novel.
Nah, para penulis muda seluruh Indonesia, ayo, jangan berleha-leha. Apalagi saya Dewan Pembina di Forum Lingkar Pena dan Penasihat di Forum Taman Bacaan Masyarakat. Juga murid-murid saya di Kelas Menulis Gol A Gong. Ingat, menulis itu harus dimulai dengan riset, dan bukan untuk kesombongan. Tapi niatkan itu untuk syiar, dakwah bil qalam.Ini nasihat orang tua, hehehee…
Nah, untuk di kampung saya, Banten, ada penulis novel Niduparas Erlang, yang sekarang mengeluarkan novel “Burung Kayu” dan menasional. Ayo, ditunggu penulis muda lainnya yang sudah menulis novel; Ade Ubaidil, Rahmat Heldy Hs, Ardian Je, Charlis Ridho….
Siapa lagi yang sudah menulis novel? Karena saya perhatikan, baru Nidu yang muncul dan menasional. Tetap semangat berkarya.

