Oleh: Zaeni Boli

Ingat nggak, awal puasa kemarin banyak banget berita yang mengabarkan ada beberapa oknum atau ormas yang, pas bulan puasa, malah gerebek rumah makan? Malah kadang sambil salawatan. Emang mereka pikir Allah bakal senang lihat tingkah laku mereka? Bukannya kalau puasa itu kita mesti bisa menahan amarah, kok malah marah-marah di warung makan? Situ lapar?

Untuk hal ini, kayaknya mesti bisa dan boleh belajar menjadi minoritas. Begini, saya coba jelaskan. Indonesia memang mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi tidak semua daerah penduduknya beragama Islam.

Sebut saja daerah Indonesia Timur, salah satunya Larantuka. Saya membayangkan, kira-kira ormas atau oknum yang suka razia di bulan puasa itu punya nggak keberanian untuk merazia warung makan di sana? Wong yang makan juga bukan orang-orang Islam. Jadi, santai aja, keles.

Sekadar mengulang dan mengingatkan, puasa itu menahan diri dari makan, minum, serta hawa nafsu. Menjadi minoritas itu ujian berat, Bos! Di mana-mana warung makan pada buka. Kalau iman nggak kuat, ya kita ikut buka juga.

Jadi, daripada batal, kadang saya memilih mager (malas gerak) di rumah. Ya, kayak zaman Covid dulu, lebih banyak di rumah. Syukur-syukur bisa sambil baca buku atau melakukan aktivitas lain yang positif.

Intinya, sebagai muslim kita mesti banyak bersabar dan nggak cepat tersulut emosi. Kalau ada sesuatu yang kira-kira nggak sesuai keinginan kita. Karena kita tinggal di negeri demokrasi yang menghargai perbedaan, termasuk di dalamnya memilih keyakinan.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==