Puisi Esai Gen Z: Banjir Bandang Melahap Keluargaku Karya Natasha Harris

Korban Banjir Bandang Agam Sumatera Barat Tembus 87 Orang, Pencarian Masih Berlanjut. Banjir bandang melanda kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Rabu (26/11/2025) sore. Banjir juga dilaporkan menerjang wilayah Palembayan. Material lumpur hitam bercampur kayu dan bebatuan menghantam pemukiman warga, menyebabkan kerusakan parah dan menimbulkan korban jiwa.

oOo

SATU – ORANG KAMPUNG MARAH
Orang kampung di lereng Malalak bicara dengan suara keras
Mereka menunjuk bukit yang gundul dan pucat kehilangan darah
Katanya pohon ditebang tanpa hitung untung rugi
Katanya sungai jadi dangkal dan liar
Aku hanya anak kelas enam yang mendengar dari balik pintu rumah panggung
Tapi aku tahu orang kampung marah itu bukan angin lewat

DUA – TRUK KAYU
Penduduk berkumpul di surau yang lantainya bau hujan lama
Mereka mengeluh tentang truk kayu yang hilir mudik malam hari
Tentang izin yang keluar tanpa bicara dengan warga
Tentang bukit yang tak lagi menahan batu
Aku duduk di sudut, memeluk lutut, mencoba paham
Kenapa orang dewasa begitu takut pada masa depan

TIGA – DEMO DI IBU KOTA
Kabar dari radio kecil di warung bercerita tentang ibu kota
Ada yang turun ke jalan membawa poster tentang bumi yang sekarat
Tentang hutan yang tinggal potongan peta
Tentang sungai yang tak lagi bisa memeluk hujan
Aku membayangkan kota jauh itu seperti layar besar
Tempat orang menjerit agar dunia mau mendengar

EMPAT – MENJAGA ALAM
Protes itu katanya menuntut aturan yang tegas
Agar kampung seperti kami tak terus kehilangan tanah
Agar gunung tetap kokoh menjaga lembah
Agar anak kecil tidak tumbuh dengan rasa takut
Aku tak tahu arti semua kalimat itu
Tapi aku tahu waktu berjalan seperti arus yang tak bisa disetop

LIMA – SUNGAI JADI HITAM
Lalu hujan datang seperti tabuhan yang tak selesai
Hujan turun tanpa jeda dari siang sampai malam
Sungai di belakang rumah berubah warna jadi hitam
Batang kayu panjang meluncur seperti hewan buas
Orang berlari memanggil nama yang tak sempat dijawab
Aku terpaku sebelum akhirnya ikut terseret derasnya panik

ENAM – MENCARI AYAH DAN IBU
Nagari kami tenggelam dalam suara gemuruh
Rumah patah dan hanyut seperti mainan rapuh
Jerit tangis menembus tebalnya lumpur
Batu besar menimpa jalan dan memutus langkah
Aku mencari tangan ayah dan ibu dalam gelap
Yang kutemukan hanya dingin dan bau lumpur yang asing

TUJUH – HUTAN SUDAH SAKIT
Besoknya pejabat datang dengan rombongan
Katanya pohon yang terbawa arus itu bukan hasil tebang liar
Katanya itu hanya pohon tua yang tumbang sendiri
Orang kampung terdiam tapi matanya penuh api
Mereka tahu hutan di atas sana sudah lama sakit
Dan kebijakan yang salah ikut membunuh nagari

DELAPAN – BENCANA BUATAN MANUSIA
Warga menuntut agar suara mereka didengar
Mereka bilang bencana ini bukan takdir semata
Ada tangan manusia yang ikut membuka jalan bagi malapetaka
Aku mendengar mereka berbicara pada kamera wartawan
Suaranya pecah seperti papan yang retak
Dan aku berdiri di belakang mereka tanpa keluarga yang bisa kupeluk

SEMBILAN – MIMPI BURUK YANG PANJANG
Hari hari berikutnya aku berjalan sendirian
Mencari wajah yang kukenal di antara puing
Mencari suara ibu dalam tumpukan baju basah
Mencari ayah di balik batu yang sudah dipindah relawan
Setiap langkah seperti melintasi mimpi buruk yang panjang
Dan matahari terasa makin jauh dari kampung kami

SEPULUH – BERTAHAN HIDUP
Sampai akhirnya kepala nagari memanggilku pelan
Katanya aku tidak boleh terus hidup tanpa arah
Dia mengajakku tinggal di rumahnya yang selamat dari banjir
Memberiku sepasang baju sekolah yang belum kusentuh
Aku menatap kampungku yang tinggal bayang di lumpur
Dan berjanji pada diriku sendiri untuk bertahan hidup

*) Bandung, 28 November 2025

*) Kisah ini hanya fiksi. Terinspirsai dari bencana banjir bandang di Sumatra.

Sumber: https://regional.kompas.com/read/2025/11/30/143029278/korban-banjir-bandang-agam-sumatera-barat-tembus-87-orang-pencarian-masih.

oOo

TENTANG PENULIS: Natasha Hariis tinggal di Bandung. Senang traveling. Sekarang kuliah di Semester V Pendidikan Bahasa Korea, UPI Bandung.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==