Puisi Esai Gen Z: Kiamat Kecil di Paru-Paru Negeri Karya Wahyu Kuncoro

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengepung Pulau Kalimantan pada Agustus 2026. Pantauan Google Maps dan citra satelit memperlihatkan titik merah berstatus parah yang menghanguskan lebih dari 572 kilometer persegi kawasan hutan hijau yang selama ini kita banggakan sebagai paru-paru dunia. Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan juga dilaporkan terus meluas, dengan 518 titik panas yang terdeteksi hanya dalam waktu sehari.

Puisi ini hadir sebagai sudut pandang penderitaan manusia-manusia kecil dan alam yang menjadi korban langsung dari kerakusan serta ketidakpedulian kolektif. Lebih dari sekadar ratapan, puisi ini menjadi gugatan terhadap hilangnya nurani kita sebagai penjaga bumi, sebelum pohon terakhir benar-benar tumbang dan udara bersih hanya tinggal kenangan.

Link Berita: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx2v3v70x87o

I. Embun yang Menyesakkan

Kicau murai tak lagi memecah embun.
Batuk serak anakku meminta ampun.
Asap pekat memeluk leher mengikat.
Udara menjelma parut besi yang menyekat.

Kemarin daun-daun berbisik syahdu.
Kini ranting berderak menjadi abu.
Bara menari di atas atap rumah.
Membakar asa hingga musnah berdarah.

Kalimantan kami terbakar, menggila tanpa henti.
Hutan hijau ditelan mati.
Rimba raya menjelma lautan arang.
Sampai kapan napas ini terus berperang?

Terdengar gemuruh angin mendesah.
Langit menolak membasuh resah.
Deru debu datang bersuhu tungku.
Membakar mata, membekukan waktu.

II. Tak Sepenuhnya Salah Musim

Tak sepenuhnya salah musim yang meradang.
Kemarau sebatas angin yang singgah petang.
Tamak kitalah yang memantik api di padang.
Demi kepingan koin yang esok pun hilang.

Tuhan menitipkan hijau titisan surga,
kita pulangkan dalam rupa arang.

Kita ini penjaga bumi.
Begitu kata kitab suci.
Tapi lihat tangan-tangan itu.
Berlumur hitam menimbun pilu.

Menangis sungai-sungai yang perlahan surut.
Menangis bekantan yang kehilangan pijakan lutut.
Ribuan hektar paru-paru dipotong paksa.
Napas kita putus di tangan sendiri, binasa.

Hangus.
Lebur.
Hilang tertelan.

Diam mematung bangkai para hewan,
menjadi abu dipeluk panasnya awan.
Tidakkah bergetar lutut kita tersiksa?
Melihat ciptaan-Nya binasa sia-sia?

III. Selang Air dan Air Mata

Mesin pompa menderu garang memecah sunyi malam.
Petugas terus menyemprotkan sisa air pada tanah hitam yang sekarat.

Menyala merah hutan ini di tengah gelap.
Menyala merah pula dosa-dosa kita yang makin lelap.
Siluet manusia menahan beringasnya pijar.
Berjibaku melawan api yang terus menjalar.

Air memeluk bara dengan putus asa.
Menimbulkan bunyi desis tajam seperti tangisan yang ditahan paksa.

Apakah berliter-liter air sanggup memadamkan lautan kerakusan?
Aku menunduk lesu.
Bumi merintih dalam senyap yang menyayat.

IV. Sepeda Roda Tiga

Di batas desa, aku menoleh ke belakang.
Siluet rumah kami meleleh ditelan gelombang jingga.
Hanya tersisa kerangka sepeda roda tiga milik anakku.
Berdiri kaku.
Membara di tengah abu yang terus luruh.

Merah.
Hitam.
Hening.

Aku berlari menggendong anakku.
Napas kami tersengal.
Asap mencekik kerongkongan.

“Uhuk… Pak, udara di sini panas sekali…”

Aku mendekapnya.
Erat.
Langkahku gontai menembus kabut pekat.

V. Bayang-Bayang Arang

Asap. Asap. Asap.
Napas tersengal hebat.

Hujan.
Hujan.
Hujan tak jua tiba.
Doa mengering sebelum awan menyapa.
Terjatuh perlahan menjadi debu putih.
Menutupi lantai kayu yang merintih.

Turun malam tanpa bintang.
Tersisa hujan abu yang jatuh sangat pelan.
Putih kelabu.
Persis salju di negeri nan jauh yang tak pernah kami pijak.

Sangat hening.
Sangat mematikan.

Di ujung jalan sana, ada sisa pinggiran hutan.
Sebatang pohon tunggal berdiri tanpa pakaian.
Separuh tubuh bawahnya masih merah menyala.
Diam.
Menunggu mati menjadi bara.

Menurutmu, jika pohon terakhir itu tumbang esok hari, masih adakah udara bersih yang tersisa untuk memanjatkan doa?

Catatan Kaki

Laporan mengenai kondisi terkini, dampak, serta penanganan krisis lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx2v3v70x87o

Peneliti mengungkapkan beberapa faktor utama yang menjadi penyebab mengapa wilayah Kalimantan sering kali mengalami kebakaran hutan yang parah.
https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260820125727-37-760901/penyebab-kalimantan-sering-kebakaran-hutan-parah-ini-kata-peneliti

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dilaporkan semakin mengganas dengan terdeteksinya 518 titik panas (hotspot) hanya dalam waktu sehari.
https://www.inibalikpapan.com/karhutla-kalimantan-makin-ganas-518-hotspot-terdeteksi-dalam-sehari/

Tentang Penulis

Wahyu Kuncoro hanyalah sosok biasa yang tidak bisa terbang ataupun meramal masa depan. Keajaibannya tersimpan di larut malam, saat ia merawat kewarasan melalui obrolan panjang dengan dirinya sendiri. Anggaplah puisi-puisinya sebagai oleh-oleh dari perdebatan batin yang sunyi itu. Jangan ragu menyapanya, walau mungkin ia tampak diam karena sedang sibuk berdiskusi di dalam pikiran. Selamat menikmati kepingan kewarasan yang ia bagikan lewat kata-kata. Ia sangat senang kamu menyempatkan waktu untuk membaca ini.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==