Puisi Minggu: 10 Puisi Zen Zaini tentang Jakarta

Zen Zaini
YANG MENGHILANG

ia tetiba menghilang
dari balaikota dan gedung dewan
di rumah dan di manapun tiada
berminggu-minggu jejaknya lenyap

namun serupa arwah yang lepas dari jasad dunia
ia melihat dan mendengar orang-orang sibuk mencarinya
televisi dan media sosial memberitakannya
ia tak peduli
sebab tengah khusu merangkak
di dalam lorong dan gorong-gorong
yang sunyi dan gelap tanpa kamera

ditelusurinya segala pelosok kumuh ibukota
dengan segenap pancaindera dan jiwa
maka ia menjadi penghuni rumah kardus
tinggal di kolong jembatan
menjadi pedagang asongan
bahkan waria dan copet yang kepepet

ketika memulung di timbunan sampah
dibacanya sebuah buku kecil yang kotor terbuang
“Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.”

ia termangu. Bukit sampah pun termangu
lalu bersama angin mengurai bau
yang menyengat tanda sepakat
bahwa memang dipelihara

Zen Zaini
SINTAS

ini bukan tentang siapa yang baik dan buruk
karena ini dunia bukan surga atau neraka
bahwa yang sintas di ini belantara raya Jakarta
hanyalah makhluk-makhluk perkasa
yang bisa menaklukkan segala cuaca
melumpuhkan hantu-hantu, harimau dan ular berbisa
mereka bukan tukang sulap
namun dari seringai, lidah, sintal tubuh,
jemari, dan terutama kepalanya
mengalir rasa kenyang, tawa dan sejahtera

seekor kerbau bodoh hanya terpukau
menatapi subur rumput hijau
yang tak mampu ia jangkau

Zen Zaini
PERAYAAN ULANG TAHUN

pada perayaan ulang tahun Jakarta
sekelompok anak kecil bernyanyi dan menari
di atas panggung
selamat ulang tahun Jakarta
berkali-kali teriak mereka
maju kotanya bahagia warganya
Jakarta jaya raya
lanjutnya bersuka cita

mereka berganti kostum usai acara
baju lusuh dan sederhana
lalu pulang ke bilik-bilik tanpa jendela
angin senja berembus menyambutnya
meruapkan bau sampah
dari halaman gubuk-gubuk mereka

oppo_32

Zen Zaini
BUKAN MENAKLUKKAN JAKARTA

dalam petualangan-petualangan dahsyat itu
aku hampir selalu kalah, Jakarta
kusadar bahwa kau bukan harus kutaklukkan
karena bukan monster atau binatang buas
kau adalah sebuah buku kumpulan puisi
yang mengasyikkan

aku tak akan mengeksekusi makna-maknamu
hanya dari satu sudut pandangku yang sempit dan ngotot
kucoba beberapa tafsir lalu kupilih yang paling masuk akal
realistis dan melibatkan dia
setelah itu
kuserahkan padanya

oppo_32

Zen Zaini
BALADA ANAK RIMBA

karena tergilas gemuruh cepat putaran roda
dan selalu dianggap kalah dalam setiap pertandingan
ia menjelma makhluk besi yang tak pernah jatuh cinta
atau dijatuhcintai
apalagi menikmati musik lembut cianjuran

hidupnya jadi kerontang kering
kuku-kuku dan giginya yang runcing
mencekik lalu menghisap darah
siapa saja yang lengah dan lemah

sebelum terdampar di ibukota
ia dilahirkan di belantara raya
para binatang hidup sejahtera
hanya dengan hukum dan sekolah rimba
tetapi ia merana
kemelaratan membuatnya terpaksa tinggal di sana
kini diwarisinya jiwa hidup di rimba raya
ia sendiri jadi korbannya
dan karena keluguannya
ia tidak menyalahkan siapa-siapa

oppo_0

Zen Zaini
SUNATULLAH

Jakarta ibu yang renta tapi tabah
menampung ambisi dan keluh kesah
ia tahu apa yang kauinginkan
bukanlah yang dikatakan pada semua orang
maka kelak topengmu kan ia singkapkan

Jakarta hanyalah noktah sunatullah
apapun yang kaulakukan
kembali kepadamu
Jakarta tidak dendam atau marah
hanya menetapi jalan yang dititah

Zen Zaini
KENANGAN TENTANG JAKARTA

rinduku mengental pada untai kenangan jingga
tentang kota yang pernah menyuburkan pohon-pohon mimpi
meski ia tak berhasil mengalungkan ranum buahnya di leherku
namun petualangan bersamanya membuatku gairah memecah misteri
dan siap tandang melawan penantang yang asing dan garang
di dunia lain hingga takluk berdamai denganku

dari beragam episode kembara itu
kini kususun lukisan mozaik bunga kesumba
puisi-puisi tentang senja
dan denting nyanyian yang menggetarkan

maka terima kasih Jakarta

Zen Zaini
SURAT DARI PINGGIRAN JAKARTA

Jakarta, kutulis surat ini karena kami mencintaimu
mencintai hijau rindangmu, luhung budayamu

Jakarta, sudahlah jangan kaulanjutkan ambisi itu
menyulap ladang kami yang tinggal sedikit
menjadi pabrik rekananmu
mengganti hutan kecil kami yang terakhir
dengan mal dan bioskop

sudahlah, biarkan pepohon yang tersisa ini menghijau
agar burung-burung beranak-pinak dan berkicau
agar rindangnya menebar udara segar

kami menyesal
dulu tak mampu menyelamatkan surau
kebun dan makam leluhur itu
dimakan kebuasan kapitalisme
yang merenggut akar-akar kehidupan
mengubah kami menjadi penghamba jam kerja
gadis-gadis yang mengaji di surau-surau
diculik mesin-mesin pabrik
maka rontoklah sendi sosial-budaya kami

kini kami menghirup bau udara yang asing
menyaksikan janggal budaya yang juga asing

Jakarta, sudahlah
jangan kau habiskan semuanya
kami mencitaimu

Zen Zaini
SUATU MALAM DI TEPI JALAN

haruskah disesali
meninggalkan kampung halaman yang ramah
terbuai mimpi-mimpi gemerlap yang menyihir hati

kini ia terbaring di tepi jalan yang mulai sunyi
malam tidak memeluknya
sepotong bulan yang akrab dikampungnya, kini tak peduli
gedung-gedung angkuh malah mengejek dengan gemerlapnya
ia pasrah pada kepongahan mereka
lebih baik membayangkan tiga pasang mata
isteri dan dua anaknya
yang selalu memercikkan gairah dan harapan

dari tatapan mereka dalam kepala
tumbuhlah beberapa pucuk doa
yang menunjukkan bentang-bentang jalan

ia tercenung menatap langit yang bijaksana:
dari beberapa pagi yang tidak menyambutnya
setiap siang yang selalu gersang dan garang
semua senja yang tak menyuguhkan keindahan
serta malam-malam yang tak mau diajak berkawan
ia menyimmpulkan bahwa Jakarta diciptakan tuhan
bukan untuk dirinya

Zen Zaini
CARA MEMANDANG JAKARTA

hujan di Jakarta tidak berniat mengubah curahnya
menjadi air mata
ia hanya minta dimengerti
bahwa dititah selalu mengarah ke tempat rendah

angin di Jakarta tidak ingin menyebar gerah
dan bibit penyakit
ia hanya anjurkan nyalakan ac dan pasang masker

bulan di Jakarta bukan tak peduli pada penderitaanmu
ia hanya mengajakmu berbaik sangka

matahari di Jakarta tidak bermaksud menyerang
dengan panas garang
karena ia malah membakar dirinya sendiri
untuk membunuh gelap
dan menghidupkan semua tubuh yang beku
lalu memohonmu bersyukur

TENTANG PENULIS: ZEN ZAINI, suka menulis puisi, cerpen dan musikalisasi puisi. Novelnya “Jangan Mau Dibohongi Burung Hantu” terbit tahun 2020. Mengajar Bahasa Indonesia di SMPN 1 Solokanjeruk, Kabupaten Bandung. Bergiat di beberapa komunitas kepenulisan dan literasi serta menjadi pembimbing kegiatan literasi LEKSAM BEDAS.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,-. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==