Kalau ada yang nanya kenapa saya nulis puisi-puisi ini, jawabannya gampang: karena nggak
semua hal bisa dijelaskan lewat chat WhatsApp atau stories IG. Kadang rasa itu terlalu kusut
buat dibikin status, terlalu aneh kalau cuma ditumpahin di caption foto kopi di warung, dan
terlalu jujur kalau diomongin langsung ke orangnya. Jadinya ya ditulis begini.
Awalnya niatnya bikin satu-dua puisi buat anniversary pernikahan yang nggak sempat dirayain gara-
gara anak sakit demam, listrik mati, dan saldo e-wallet tinggal seribu. Tapi kayak kutukan
baik, nulis satu malah jadi rangkaian tahunan. Sampai akhirnya numpuk, jadi semacam
catatan absurd tentang hidup berdua yang isinya ngangkat jemuran, beli susu, ngurus anak,
sampai debat soal siapa yang lupa nutup galon.
Jujur, saya nggak pernah bercita-cita jadi penyair rumah tangga. Tapi kok ya ternyata menarik
juga nulis tentang cinta yang nggak selalu manis. Cinta di usia pernikahan ke-1, ke-3, ke-19,
ke-23, sampai ke-25 itu kayak varian rasa keripik pedas: kelihatannya sama, tapi tiap gigitan
rasanya beda. Kadang pedes banget, kadang hambar, kadang malah renyah di waktu yang tak
terduga. Puisi-puisi ini bukan soal romantisme sinematik ala film festival, tapi lebih soal
siapa yang pertama kali nemuin remote TV, siapa yang rela masak meski abis berantem, dan
siapa yang inget ganti air galon sebelum ditegur.
Kenapa saya suka ngasih pengantar begini di tiap kumpulan puisi? Karena saya percaya, puisi
itu kayak orang masuk rumah. Ada yang langsung duduk, ada yang liat-liat dulu, ada yang
nanya ini ruang tamu apa ruang makan. Pengantar ini semacam salam dari teras, tanda bahwa
rumah ini bukan museum cinta, tapi warung kecil yang buka 24 jam buat segala jenis
perasaan. Biar pembaca tahu, yang nulis ini bukan Romeo, bukan Chairil Anwar reinkarnasi,
cuma bapak-bapak biasa yang tiap pagi nganter anak sekolah sambil dengerin radio berita
dan ngitungin sisa saldo dompet digital.
Saya sadar, mungkin puisi-puisi ini nggak bakal dipilih jadi puisi cinta terbaik versi media
sastra mana pun. Mungkin nggak akan viral, mungkin malah cuma dibaca separuh lalu
ditutup karena dianggap terlalu domestik. Tapi nggak apa-apa. Karena saya nulis ini buat
mereka yang pernah debat soal warna sprei, buat yang suka nyelipin pesan kecil di dompet
pasangan, buat yang nggak jadi marah karena ngeliat pasangan ngorok lucu pas subuh-subuh.
Buat yang tahu rasanya jadi pendamping hidup yang lebih sering mendampingi di ruang
laundry daripada di taman bunga.
Dan kalaupun puisi ini nanti hilang ditelan algoritma, setidaknya anak-anak saya bisa baca
suatu hari dan bilang, “Wah, bokap kita norak juga ya, nulis ginian.” Atau syukur-syukur
mereka ketawa, dan itu udah cukup buat saya. Karena seperti yang saya tulis di salah satu
puisi di sini: cinta nggak butuh panggung, cukup ruang tamu yang cukup hangat, dan dua
pasang tangan yang masih mau berbagi selimut saat hujan.
IRZI – 2025


oOo
Puisi Irzi
TAHUN PERTAMA PERNIKAHAN
Setiap pagi kami terbangun,
menyentuh satu sama lain tidak seperti dalam film,
tapi seperti dua orang
yang sedang belajar kembali arti ruang:
siapa duluan ke kamar mandi,
siapa menyimpan sisa roti, siapa diam lebih lama.
Setiap hari kami merakit cinta dari benda-benda kecil:
bantal yang dibalik karena panas,
celana dalam yang tersangkut di rak handuk,
ember cucian yang tak kunjung penuh,
daftar putar Spotify yang akhirnya kompromi
antara Diana Krall dan Mariah Carey.
Kami belajar bahwa cinta
tidak selalu gemerlap:
bahwa menyimpan sikat gigi di tempat yang sama
bisa jadi semacam negosiasi diplomatik,
dan bahwa kalimat “nggak apa-apa”
bisa berarti sepuluh hal tergantung nada dan waktu ucapnya.
Kami tidak menonton film romantis terlalu sering—
bukan karena kami skeptis,
tapi karena kami lebih sibuk mencari
sisi terbaik dari satu sama lain
yang tak sempat difilter oleh sinematografi.
Tapi sebelum kami bisa menikmati
ritual Jumat malam dengan tenang,
makan malam via Go-Food,
berpelukan sambil nonton video kucing oyen,
kami mendengar suara-suara dari luar kamar:
pasangan yang saling mendiamkan,
sahabat yang bercerai di bulan ke-11,
ibu yang mengatakan,
“pernikahanmu jangan seperti pernikahan kami.”
Dan kami pun tak paham
bagaimana ini bisa terjadi:
di satu sisi, kami ingin saling menyelamatkan,
di sisi lain, kami kadang saling mengabaikan,
seolah cinta itu adalah tarik tambang
dan kami takut menjadi yang melepaskan duluan.
Kami bertanya—
apakah benar cinta bisa tumbuh
tanpa harus menyusutkan diri masing-masing?
Atau memang ini rumus kejam yang tak tertulis:
kalau satu bahagia, yang lain harus diam-diam mengalah,
seperti balok keseimbangan di taman bermain
yang hanya bisa lurus
kalau beban kami tak persis sama.
Dan kami pun mencoba mengingat
cinta versi lain: bukan kupu-kupu,
tapi kontrak diam-diam untuk tak kabur saat bosan.
Bukan mawar,
tapi tangan yang tetap mencuci piring
meski tadi bertengkar.
Mungkin cinta bukan soal diselamatkan,
tapi soal memilih tetap tinggal
walau tak selalu mengerti
apa yang sedang dibangun.
Dan malam itu,
ketika aku menemukan pesan kecil
di post-it di cermin kamar mandi—
“maaf tadi agak nyebelin. aku lagi capek. kamu lucu.”—
aku tahu:
kita sedang menyelamatkan cinta
dari tenggelam pelan-pelan,
dengan cara yang tak heroik,
tapi sangat manusiawi.
2025
oOo
Puisi Irzi
TAHUN KE-2 PERNIKAHAN
Kebalikan dari berpisah
adalah membagi tagihan. Aku bukan lagi kekasih
melainkan rekan kontrak dua kamar dan satu cicilan
plus pembaruan kartu keluarga yang masih tertunda di kecamatan
kami berbicara lewat notifikasi gopay
mengatur ulang pengeluaran dan menghapus daftar incaran
di lokapasar satu sama lain sebagai bentuk empati pasif
aku mencintaimu lewat pengingat kalender digital
“jangan lupa bawa payung” lebih sering dari
aku mencintaimu lewat ciuman
tapi aku masih ingat kata sandi Netflix-mu
dan kau tahu kapan harus diam ketika aku teriak soal piring
kita hidup dalam algoritma keterbatasan:
satu drama Korea yang kamu tonton
dibalas satu malam aku nonton pertandingan sambil ketiduran
kami minta maaf dengan cara
menaruh sisa donat di kulkas dan tak memakan potongan terakhir
itu bentuk baru dari romantisme—
aku adalah diriku yang menunda belanja bulanan
demi membeli hadiah yang tak kamu minta
kamu adalah dirimu yang tak bilang bosan
meski tahu aku masih pakai kaos yang sama
dari zaman pacaran
kita mengumpulkan poin loyalitas cinta
lewat toleransi mikro:
tidak marah saat kamu ngorok
tidak bertanya kenapa aku diam
tidak menyebut mantan di tengah argumentasi
pernikahan adalah supermarket
tanpa kasir, semua swabayar
dan kamu kadang datang ke kasir ekspres
dengan hanya membawa satu kalimat singkat
“lagi capek, ya?”
dan aku paham kamu mau dipeluk
bukan dijawab
kita beli waktu
dengan mencicil pengertian
tanpa diskon, tanpa voucher
hanya dengan berharap
bahwa kamu masih mau berjalan
di lorong ini bersamaku
meski lampunya sesekali berkedip
dan di malam tertentu,
kau menyelipkan slip kecil di bawah bantal
tulisan tanganmu agak miring
isinya bukan janji baru
hanya satu baris:
“aku di sini, dan belum ingin ke mana-mana”
dan itu cukup
untuk memperpanjang langganan
cinta kita
hingga bulan berikutnya
2025
oOo
Puisi Irzi
TAHUN KE-3 PERNIKAHAN
seperti hampir potret keluarga yang tergantung miring,
hampir tenang, hampir damai—seperti
hampir tidak terbagi antara cinta dan letih,
hampir lebih dari cukup, lebih dari kopi basi jam dua pagi,
lebih dari kantuk yang dipatahkan suara bayi, hampir
lebih dari dunia yang tiba-tiba mengecil jadi 3 x 3 meter ruang tengah.
gorden terbuka separuh, sisa cahaya sore tumpah
di lantai yang lengket susu tumpah dan harapan kecil.
aku terhuyung dengan botol di satu tangan,
popok di tangan lain, dan pertanyaan:
apakah cinta berarti tak tidur tiga hari
tapi tetap menatap matamu dan bilang kamu cantik?
ketika aku sendiri nyaris lupa bentuk wajahku
tanpa cermin kamar mandi yang basah uap.
dua orang ini, aku dan kau, ditambatkan bukan lagi
oleh kecupan di bioskop, atau telepon larut malam,
melainkan oleh rengekan kecil yang lebih jujur
dari semua puisi cinta yang pernah kutulis.
kau mengulurkan tangan, tak untuk memeluk,
tapi untuk mengambil botol dari tanganku
dan menekannya ke mulut kecil yang gemetar
seolah hidup bisa diredam dengan ASI dan QS Luqman
dan aku di sana, duduk bersandar ke dinding,
punggungku kaku, mataku tak bisa lepas darimu
dan putri kecil kita yang belum tahu
betapa cinta ini adalah kerja tak terlihat.
dan aku tak tahu apakah ini bahagia
atau hanya bentuk baru dari kelelahan kolektif.
kadang aku ingin berteriak,
kadang aku tertawa hanya karena kau juga tertawa.
kadang aku memotret kalian
dan menyimpannya diam-diam,
karena takut jika aku lupa hari ini,
aku tak bisa percaya pernah jadi bagian dari hal sebesar ini.
dan malam itu, ketika semua akhirnya sunyi,
kau duduk di lantai, bersandar ke kakiku,
dan aku menaruh handuk kecil di bahumu,
tak ada kata romantis, tak ada pelukan,
hanya napas yang bersahutan,
dan detak jam dinding
yang seolah tahu
kita sedang belajar mencintai tanpa naskah,
tanpa sorotan lampu,
dengan tangan yang kini lebih sering membawa beban
daripada bunga.
2025
oOo
Puisi Irzi
TAHUN KE-4 PERNIKAHAN
Tidak ada pintu yang benar-benar tertutup.
Dan kemudian dia bangkit, meniti udara
seperti kabar baik yang tak pernah diumumkan,
seperti nama yang belum bisa dia ucapkan
tapi tahu siapa yang ia tuju saat tubuh kecilnya
tergoyang dalam semesta ruang tamu yang tak sempit,
hanya karena kami menyusut jadi tiga.
Dia berjalan seperti kami dulu mencintai:
ragu, tergesa, lalu jatuh.
Tapi lihat, tangannya mengepal, dan kau tertawa
karena ia belum tahu bahwa dunia bisa tidak lunak.
Tulang-tulangnya kecil, tapi langkahnya sudah milik sendiri.
Ada malam ketika aku menatapmu,
kau sedang melipat pakaian,
dan aku menyadari bahwa kesunyian tak lagi sunyi
karena di dalamnya ada suara tapak kaki kecil,
dansa tanpa lagu, doa tanpa lirik.
Siapa yang bukan anak dari bunyi ini?
Langkah yang mengisi rumah
lebih baik dari lonceng.
Dan jendela yang dulu kami tutup karena takut,
kini kami buka, karena suara itu ingin bergaung.
Kami pernah berdoa agar cinta itu bertahan,
dan sekarang kami harus belajar
bahwa cinta juga bertumbuh,
berlari ke arah pintu sebelum kami sempat mengejarnya.
Waktu punya cara menjauh:
bukan dengan pergi,
melainkan dengan memanggil kita dari depan.
Dan hari ini, saat kau mencium kening putrimu
di ambang pintu,
dan ia berkata “Ibu kerja, Assalammualaikum”
dengan lidah mungilnya yang penuh percaya,
aku tahu: cinta bisa berbicara,
bukan dalam metafora,
tapi dalam kalimat yang baru lahir.
Kau berangkat, dan dia menoleh padaku,
menyebut namaku nyaris benar.
Dan dunia diam, hanya sekejap,
sebelum langkahnya mengisi
lantai lagi,
dan hidup
berjalan.
2025
oOo
Puisi Irzi
TAHUN KE-13 PERNIKAHAN
Aku tak selalu ingat caranya kami sampai di sini,
tapi pagi-pagi sekali aku mengemudi pelan melewati gerbang SD
dan kau di bangku penumpang sudah siap dengan daftar titipan:
tissue, termos, seragam ganti, bekal cadangan.
Putri kita turun duluan dengan cara khasnya: langkah ragu,
tapi wajahnya sudah menentang matahari. Anak itu dulu kita gendong
dengan hati yang belum tahu arah. Sekarang dia melambaikan tangan
tanpa menoleh. Mungkin dia tahu, tapi memilih untuk tak membuatnya puitis.
Si Adik menyusul lima menit kemudian, ranselnya terlalu besar,
tapi dia suka. Katanya itu membuatnya “kayak siswa beneran.”
Dua anak dengan dua jadwal yang hanya dipisah gang kecil,
tapi dunia di antara mereka terasa seperti zaman es yang baru surut:
beku, tapi mulai retak karena langkah kecil dan tugas matematika.
Aku menyesap kopi dari tutup termos,
dan tiba-tiba teringat kemarin kamu bertanya,
“Apakah kamu masih merasa seperti suami?”
dan aku menjawab, “kadang, aku merasa seperti supir keluarga kerajaan.”
Tapi itu hanya lelucon, atau bukan. Aku juga lupa siapa duluan tertawa.
Mobil itu tak terlalu cepat, tapi waktu tetap meledak di kaca spion.
Seseorang menjatuhkan kotak makan siang di trotoar
dan aku melihatmu hendak keluar dari mobil untuk membantu,
tapi anak itu sudah diangkat oleh guru piket dan kau bilang,
“semuanya sudah diurus, seperti biasa.”
Hari-hari seperti ini terasa seperti babak lanjutan
dari film yang kita kira sudah tamat, tapi entah kenapa
semesta memberinya season kedua, dan kita tetap menonton,
duduk berdampingan, masih saling hapal jeda napas satu sama lain.
Aku lupa apa tepatnya rasa pertama mencintaimu,
tapi sekarang aku tahu: rasanya seperti mengurus dua anak
dengan jadwal berbeda tapi lokasi berdekatan,
seperti mengisi ulang kartu uang jajan
yang saldonya selalu misterius,
atau menjelaskan pada anak laki-laki kenapa kakaknya ingin ruang sendiri.
Kamu sering bilang: cinta itu bukan soal detak,
tapi soal ulang. Dan kita mengulang setiap hari—
rute yang sama, tawa yang sama, kalimat yang hampir tidak berubah.
Tapi anak-anak tumbuh, dan sepatu mereka berganti ukuran,
dan aku tahu, suatu hari nanti kita akan duduk di kursi kosong
tanpa daftar titipan, hanya sunyi dan mungkin segelas teh.
Tapi pagi ini mereka masih ada di halaman sekolah,
dan kau menyalakan radio
dengan volume yang tak mengganggu pikiranku.
Aku menoleh dan kau menguap, lalu berkata
“sebentar lagi libur, ya?”
dan aku bilang “ya” meski tak yakin.
Kadang aku merasa semua ini adalah bentuk tertinggi cinta:
berangkat pagi tanpa drama,
menjemput sore tanpa cerita besar,
hanya dua anak, dua sekolah,
dan dua orang tua
yang tetap datang.
2025
oOo

Puisi Irzi
TAHUN KE-19 PERNIKAHAN
Di sebuah rumah sederhana di pinggir kota,
aku mencintai perempuan yang sama selama sembilan belas tahun.
Cinta yang tak selalu serupa,
kadang seperti kopi hitam, pahit dan jujur,
kadang seperti teh hangat di pagi libur,
dan seringkali seperti air putih: tak terasa tapi menyelamatkan.
Aku melihatnya malam tadi,
di dapur, mengiris bawang
dengan rambut yang sekarang lebih sering diikat asal,
tapi aku tahu persis aroma sampo yang dipakainya.
Tak perlu bunga, tak perlu lagu latar.
Hanya suara anak-anak kami di ruang tengah
dan wangi nasi hangat.
Putri pertama kami, yang dulu suka main boneka di pojokan,
sekarang semester satu di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Kampusnya di Universitas Negeri,
kampus yang dulu aku lewati setiap sore
sambil naik angkot.
Sekarang dia belajar tentang Chairil,
tentang puisi dan gaya bahasa yang dulu cuma aku yang bicara.
Kini dia membaca puisi di kelas,
dan sesekali membacakan untuk ibunya lewat video call.
Adiknya, putra pertama kami,
sekarang kelas satu SMP Negeri.
Anak yang dulu suka merengek minta dibelikan es krim
sekarang jadi idola teman-teman perempuannya.
Aku pernah dengar satu dua celetukan kecil dari anak-anak komplek:
“Eh itu si Yasir, ganteng ya…“
dan istriku tertawa sambil bilang,
“Mirip ayahnya dulu waktu muda.”
Aku diam saja, pura-pura serius main ponsel,
padahal dadaku hangat.
Cinta di tahun ke-19 itu bukan tentang kejutan,
bukan tentang surat cinta yang diselipkan di bawah bantal,
meskipun sesekali masih kulakukan,
tapi tentang tahu persis bagaimana cara meredakan lelahnya
tanpa harus banyak kata.
Cinta di tahun ke-19 itu,
adalah menyetrika baju anak-anak bersama,
menunggu giliran nonton serial Korea di laptop butut,
dan diam-diam menaruh uang kecil di dompet istri
karena tahu dia suka lupa kalau lagi ke minimarket.
Aku tak butuh panggung, tak perlu saksi.
Aku hanya ingin berdiri di tepi cerita ini,
jadi saksi dari anak-anak yang tumbuh,
dari tubuh yang menua bersama,
dari dua hati yang tak pernah betul-betul utuh
tapi saling menambal.
Dan kalau cinta memang seperti laut,
aku rela jadi tepinya.
Tak perlu ombak besar,
cukup tenang, cukup dalam, cukup bisa menampung
semua pulang.
2025
oOo
Puisi Irzi
TAHUN KE-23 PERNIKAHAN
Pujilah perempuan yang masih memanggilku
dengan nada pelan setiap pagi,
yang menyiapkan kopi sachet tanpa gula
karena katanya,
“Di usia segini, kita harus lebih sayang jantung.”
Pujilah dia,
yang rambutnya mulai beruban,
tapi aku masih bisa mencium wangi minyak rambut kelapa
yang dia pakai sejak kami pertama kali pacaran.
Pujilah cinta yang sudah berjalan 23 tahun.
Yang dulu sering ribut karena hal remeh,
sekarang ributnya cuma soal
siapa yang lupa angkat jemuran,
siapa yang ganti saluran TV waktu pertandingan bola.
Pujilah putri pertama kami,
yang dulu suka main boneka di teras,
sekarang berdiri di depan kelas
dengan kapur di tangan,
mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia
di SMU Negeri tempat aku dulu belajar.
Di ruang kelas yang dulu aku coret-coret namanya
di balik meja pojok.
Pujilah dia yang kini dipanggil “Bu Fatima”
oleh anak-anak,
yang entah bagaimana
mengajarkan Chairil Anwar lebih fasih dariku.
Pujilah putra pertama kami,
yang sekarang kelas dua di sekolah yang sama,
yang tiap pulang selalu dikerjain kakaknya
karena tugasnya jelek.
Yang masih jadi idola teman-teman perempuannya,
meskipun tiap pagi masih minta uang jajan tambahan
buat beli es teh manis di kantin.
Pujilah dia,
anak lelaki yang makin tinggi,
dan kadang saat memeluk ibunya,
kepalanya sudah tak bisa disandarkan ke bahu.
Pujilah rumah kecil ini
yang cat temboknya mulai pudar,
tapi suara tawa anak-anak dan obrolan dapur
selalu bikin sore terasa panjang.
Pujilah meja makan
yang sudah lecet,
tapi di atasnya masih sering terhidang
sayur asem dan sambal terasi favorit kami.
Pujilah malam-malam
yang kini lebih banyak diisi tanya soal rencana pensiun,
daripada rencana liburan.
Pujilah cinta
yang tak lagi serupa di awal,
tapi justru karena itu lebih kuat.
Pujilah tubuh-tubuh kami
yang menua bersama,
dan pelukan yang tak pernah lekang
meski dunia makin cepat.
Pujilah cinta di tahun ke-23 ini,
yang diam-diam belajar menerima,
belajar melepaskan, belajar menunggu.
Cinta yang kalaupun tak selalu mudah,
tetap saja ingin dipilih ulang
setiap pagi.
Karena di dunia yang mudah berubah ini,
ada beberapa hal
yang tetap layak untuk disyukuri.
2025
oOo
Puisi Irzi
TAHUN KE-25 PERNIKAHAN
Karena urutan itu penting.
Kita pacaran, menikah, punya anak,
lihat mereka tumbuh, sekolah,
lalu menikah. Atau setidaknya begitu, katanya.
Cinta diawali senyum, lalu pegangan tangan,
kemudian ribut soal warna gorden,
kemudian anak-anak yang giginya copot,
kemudian rambut yang mulai rontok,
lalu satu per satu pindah keluar rumah.
Aku ingat betul tahun pertama pernikahan itu
seperti jalan lurus tanpa lampu.
Tahun kelima mulai tahu
dimana lubang dan polisi tidurnya.
Tahun ke-10 mulai bisa ketawa
di tengah kekacauan dapur dan listrik mati.
Tahun ke-23 kemarin, anak pertama kami,
perempuan yang dulu main congklak di teras,
sekarang sudah menikah dengan teman kampusnya.
Ironisnya, suaminya jadi kepala sekolah negeri
yang jadi kompetitor sekolah tempat dia mengajar.
Lucu. Saling kirim undangan seminar pendidikan
tapi tetap saingan di lomba cerdas cermat antar sekolah.
Putra kami yang dulu suka merengek minta es krim
sekarang sudah kuliah,
di universitas yang sama dengan kakaknya dulu.
Jurusan yang sama pula: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Kadang aku bercanda,
“Tiap generasi kita kayaknya akan selamanya belajar Chairil Anwar.”
Dia ketawa, tapi tetap serius menulis puisi,
jadi idola mahasiswi, jadi mahasiswa berprestasi,
jadi penyair muda yang puisinya dimuat di media sastra
yang dulu sering aku incar waktu muda.
Bahkan dia menulis puisi tentang ibunya.
Dan aku iri.
Karena urutan itu penting, katanya.
Tapi hidup kadang suka ngawur.
Ada yang lahir, lalu patah dulu sebelum bisa lari.
Ada yang mencintai dulu, lalu baru berani jujur.
Ada yang menikah, lalu belajar cinta belakangan.
Cinta di tahun ke-25 itu seperti nasi hangat
di malam hujan dan TV rusak.
Tak butuh hiasan lilin,
tak perlu lagu romantis.
Cukup pelukan pelan sebelum tidur,
dan pertanyaan sederhana:
“Besok kamu masak apa?”
Itu cinta versi kami sekarang.
Aku tak tahu apakah anak-anakku nanti
akan sanggup bertahan selama ini.
Di dunia di mana segala hal bisa dipilih,
segala yang retak bisa ditinggalkan,
apakah mereka akan kuat bertahan
dalam pernikahan, dalam keluarga, dalam kata-kata
yang kadang pedas, kadang terlalu manis,
kadang tidak perlu diucapkan.
Tapi aku percaya,
seperti taman duniawi milik kita,
segalanya saling bertabrakan dan saling memperkuat.
Anak-anak yang jadi guru,
anak-anak yang jadi penyair,
istri yang rambutnya mulai memutih
tapi tetap jadi perempuan paling cantik
di ruang tamu itu.
Karena urutan itu penting,
tapi cinta tak pernah tunduk pada urutan.
Ia memilih jalannya sendiri.
Dan aku bersyukur,
di tahun ke-25 ini,
aku masih di sini.
Di rumah yang sama.
Di samping perempuan yang sama.
Menjadi ayah dari anak-anak yang
entah bagaimana caranya,
selalu membuatku ingin bertahan lebih lama.
2025
oOo



TENTANG PENULIS: IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi yang lahir di Jakarta 1985. IRZI sempat menjajal peruntungan sebagai gitaris Jazz kemudian banting gitar untuk fokus menempuh kepenulisan
puisi Jess & Beatawi, sesekali cerpen. Buku puisi pertamanya Ruang Bicara terbit pada 2019.
Trivia Kampung Sawah terbit pada November 2024 ini di Velodrom sebagai bukunya yang kedua.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


