Puisi Minggu: 5 Puisi Anna Lestari tentang Proyek Strategis Nasional

Puisi Anna Lestari
CITUIS DAN BENDERA SETENGAH TIANG

Pernah kutulis puisi di atas jembatan cituis yang tinggi
tentang muara yang pekat dan anyir lumpur
bendera bendera berkibar sebelum karam di tiang kapal kapal
di bawah jembatan itu, tawar menawar pedagang ikan
dan orang orang bermobil HRV atau xpander
seperti pertunjukan sebuah drama
udang galah membungkuk, cumi dan rajungan bertepuk tangan
ikan pari menyeringai dan kakap merah
menyunggingkan senyuman, senyum kekalahan
penjual ikan tetap menjajakan diri tanpa alas kaki
sementara pembeli bermobil itu bisa naik kapal pesiar keliling negeri

Di dekat jembatan, menikung tajam ke kanan
megah kotak kotak gedung sekolah kedinasan
tempat praja menghabiskan waktu berlayar
di kapal yang digeret ke atas tiang
dipajang di muka laut yang kian mendekat
ingin mewariskan sejarah nenek moyang rupanya
jadi pelaut di negara maritim yang nyaris
nyaris tumbang, nyaris karam, nyaris tanpa apa apa

Cituis, di jembatan tinggimu aku kembali menulis puisi
menghadap ke timur dengan kirab perahu
yang bersiap pergi
bendera bendera setengah tiang terpaksa menari
sebab laut semakin dekat
pukat tak sabar ingin menemui ikan di laut lepas
meski saat pulang pagi nanti
bendera warna warni compang camping tanpa arti

Pinggang Cirarab | September 2024

Puisi Anna Lestari
DOSA INI MILIK SIAPA?

Dosa siapa yang menjadikan akar rumput tercekik
di ladang dan sawahnya sendiri?
mati kebingungan sebab tanah kelahirannya
sekejap saja menjadi negeri asing
bukan negeri kurcaci yang pernah dibacanya
dalam cerita The Hobbit
bukan negeri gemah ripah loh jinawi
sungguh slogan yang amat purba
bagi para gen alpha yang tidak akan pernah
menginjak lumpur sawah atau mencabut singkong di ladang

Dosa siapa yang menumbalkan ratusan hektar
tanaman padi sekuning emas
(tinggal menunggu hari panen lalu senyum petani rekah)
tapi ditimpa tanah tanah menyedihkan
yang digali dari ujung ke ujung
tanah lapang berubah menjadi danau
danau danau muram

Dosa siapakah hei yang memberi perintah
merobohkan benteng warisan leluhur
orang orang asing menyeruak, tawa menggelegar
seperti pesakitan seumur hidup
tiba tiba bebas tak bersyarat

Sungguh, dosa ini akan jadi milik siapa?
presiden?
gubernur, bupati, atau hei,
bapak kepala desa yang terhormat?

Pinggang Cirarab | September 2024

Puisi Anna Lestari
SEPULUH HEKTARE TAMBAK

Se hektare tambak telah kulempar dengan hati lebam
pada pialang yang saban hari bertolak pinggang di muka rumah
hanya se hektare katanya, aku tak akan kehilangan apa apa
perut buntalnya membumbung
seperti berontak, tahu majikannya sedang muntah bualan

Se hektare tambak adalah nazar yang suci
kupintal sejak anak pertama lahir membiru
nak, jika Tuhan memberimu kehidupan
akan kubuat sembilan tambak lagi
dengan tetesan keringatku sendiri
takkan kuberi pada makelar
pada tuan tanah atau lurah bermuka dua

Tapi janji janji ranggas ditindih dump truck
digilas escavator
diinjak injak para pemilik proyek
satu tambak lepas menjadi umpan
bagi sembilan lainnya
bila melawan, aku akan diseret ke pengadilan
sebagai penipu dan pemberontak

Aku menangis menyaksikan ribuan
bandeng dan nila menggelepar kehabisan air mata
ke empat anakku kini tak punya apa apa
hanya ada seorang ayah
mengemis uang sepuluh hektare tambaknya
yang dibayar dengan janji seharga delapan ekor nila saja

Pinggang Cirarab | September 2024

Puisi Anna Lestari
CIRARAB YANG MAKIN SENDIRI

Kesendirian ini akan segera rebah
pada senja yang entah ke berapa
setia menunggu langit menjelma merah
kemudian ungu dan biru tak berkesudahan

Kesendirian ini telah menjadi aku yang lain
aku yang membebat lukaku sendiri dengan diam
bicara bukan lagi bagian dari diriku
ia telah terkelupas bersama kulit ari yang terbakar
perih dan ngilu merambat dari timur ke barat
seperti matahari berjalan dalam kesepian
dan doa doaku yang masuk dari siang ke malam
dari bumi ke matahari

Kesendirian ini akan jadi gulita
dan bulan putih di langit yang bersih
hanya melambai dan tersenyum
diam diam ia lemparkan selendang abu
“Rebahlah di sini, di tanahku yang berdebu
kesendirian ini telah menjadi milikmu.”

Pinggang Cirarab | Oktober 2024

Anna Lestari
PURNA TUGAS

Tiga puluh tahun
waktu yang ringkas bercengkrama di petak sawah pinggang sungai Cirarab
jernihnya punah dijajah pabrik pabrik
jelaga merasuk dalam aliran darahnya yang anyir
sepasang kekasih dan keindahan senja di sana telah hanyut entah ke hilir yang mana

Tiga puluh tahun
kami membajak dikerumun bangau bangau putih
lalu sawah bermandi riak air
benih benih ditanam mundur bersama cerita nenek
tentang cucunya yang lucu dan lugu
tapi sudah sibuk berdansa di depan kamera
tak mau ke sawah, tak mau jadi petani

Tiga puluh tahun
kami saksikan padi mengandung sambil merunduk
semakin gemuk dan cantik di balut matahari sore
semakin tahun, semakin cepat musim panen
semakin mahal pupuk dan murah harga gabah
tapi kami tak pernah menyerah
musim tanam berikutnya kami mengulang kebiasaan yang sama

Tiga puluh tahun ini kami mengabdi untuk tanah air
ingin rasanya jadi petani hingga dijemput izrail
tapi sawah sudah dikubur oleh orang orang asing
pagar pagar seng mengungkung
tak bisa meski hanya sekedar melongok bekas perjuangan kita

Pinggang Cirarab | November 2025

TENTANG PENULIS: Anna Lestari, alumni Majelis Puisi Rumah Dunia tahun 2012. Ibu rumah tangga dengan 4 anak, homeschooler, penikmat buku paruh waktu. Kini menetap di pinggang sungai Cirarab, menyaksikan sawah-sawah yang sekarat gara gara proyek strategis nasional.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==