Puisi Minggu: 5 Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno tentang Alam

Muhammad Gibrant Aryoseno
Sabda Senja

Penggalan-penggalan kisah dari sebuah kitab yang tak utuh
bercerita soal keindahan senja oleh Tuhan Yang Mahakaya.
Kata salah satu ayatnya: Tuhan merekrut manusia terpilih
untuk menjaga senja karena bagi mereka bayaran tiada tara.

“Di sela-sela waktu istirahat cerobong pabrik, senja telanjang di pantai,
menanti dilukis seorang hamba yang penuh percaya. Di bising kemacetan,
senja nangkring di atap kafe dan halte tua, menanti seorang hamba
menjemputnya pulang dengan penuh sukacita. Di layar bioskop,
senja berkebun, menanti buah segar tumbuh dari hamba yang membuka mata.”

Tetapi seorang hamba yang serbapercaya bertanya kepada Tuhan:
Kenapa tidak ada lowongan kerja untuk menjaga senja
kepada siapa saja ketika siang dan malam hari
kalau memang senja sesuatu yang luar biasa?

Sambil memetik dan memakan buah senja, Tuhan menjawab,
“Aku membacakan senja harga bahan pokok bulan ini agar ia bisa tertidur,
menguncup seperti pengangguran di siang dan malam hari. Aku menyirami
sekumpulan awan yang sedang bergegas dengan air mata jelata agar mereka bermekaran,
membiaskan jingga senja seperti bantuan sosial yang membias ke perut penguasa.”

Ketika Tuhan membersihkan mulutnya dari biji-biji senja,
rontoklah penjelmaan merah langit yang tertanam kuat
menuju hamparan dedaunan yang semakin kerontang dalam pencemaran
di kubah rumah kaca, serta gunungan plastik di sungai-sungai yang mengalir
seperti keringat dan batuk darah pada gerobak gelandangan itu;
yang tampak kasihan seperti taman bermain yang mulai sepi
akibat tanah lapang dunia maya tak menyediakan bola sepak,
layang-layang, petak umpet, dan pengalaman jatuh dari sepeda;
bagaikan program transmigrasi rutin pemerintah yang membeludak,
rumah-rumah judi dan rumah-rumah bordil ramai pengunjung
akibat pembatasan rumah-rumah ibadah dan gedung-gedung sekolah.

Senja berhamburan di jalanan. Semua mata menujunya,
memungut wajahnya yang indah—ayat demi ayat.
Lalu pada kitab senja yang telah disempurnakan,
sabda senja berkumandang dengan sentosa.

2024

Muhammad Gibrant Aryoseno
Puisi Senja Anti Klise

Sesungguhnya hanya ada satu cara
agar senja tak melulu soal pulang sekolah atau kerja
lebih-lebih lagi cinta tak sampai dari penyair berhidung belang.

Ambil saja palu dan ketuk sedikit senja
maka ia akan pecah berantakan.

Ketika senja berguguran di jalanan kota,
ambil satu per satu kepingannya.
Gunakan sebagai kaca jendela rumahmu;
gunakan sebagai huruf-huruf dalam puisimu.
Dan kau berhasil melawan klise dengan menjelma
bentuk absolut dari klise itu sendiri:

seorang penyair dan pecahan senja
menggosok tubuh satu sama lain
di atas mesin ketik.

2024


Muhammad Gibrant Aryoseno
Terbakarlah

Apa yang akan dikatakan hutan
ketika aku menuliskan puisi di batang pohonan?
Puisi tentang orang kota dan kesehariannya
kini menebang pohon, menjadikannya tempat wisata.
Di tubuh pohonan yang bukan lagi misteri
aku sembunyi, tetapi ditemukannya aku lagi dan lagi.

Kemudian aku jatuh cinta kepadamu dan gelagat cuaca
yang sementara sembunyi-sembunyi menampakkan dirinya
dari celah jemari dedaunan. Sejak itu aku tak ingin membaca;
kunapaskan hatiku dan hatimu menyatu dalam aroma hutan.
Ketika aku tidak lagi mencintaimu
apa yang akan kaukatakan?

2024

Muhammad Gibrant Aryoseno
Hujan Senin Pagi

Senin datang dengan sejuta kenangan.
Langitnya hitam, oh mirip jalanan.
Kulihat ia sedang bermurung sendiri,
oh ia menangis tanpa henti.

Di lampu merah kepalanya menggelap.
Hujan turun menghunjam kulitnya.
Sanubari terkejut, tergelitik suasana.
Lampu hijau ia terobos dan tersiksa dirinya.

Ia baca surat kabar, tak ditemukan namanya.
Apa yang ia cari tak pernah ia tahu sebelumnya.
Dirinya tinggal sebentar lagi: ingin pergi ke mana?
Hujan senin pagi masih berlanjut, masih lama oh lama.

2024

Muhammad Gibrant Aryoseno
Bahkan Bunga

Bahkan bunga yang paling ranum pun layu, tertidur dengan pulas di atas ranjang yang penuh sesak dengan sebidang tanah dan bebatuan terjal.

Lantas siapa dirimu berani merutuk waktu, menangkis segala masalah yang lewat hingga akhirnya lorong terang itu membisu sebab tak ada lagi harum bunga yang sama seperti dulu?

2024

TENTANG PENULIS: Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Biasa menulis novel, cerpen, dan puisi. Karya-karyanya dapat dijumpai di beberapa media daring, seperti bacapetra.co, basabasi.co, kolonian.is, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Novelnya “Machine with a Heart” adalah pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==