Ketiga hal itu—sebenarnya masih banyak lagi—melekat pada masa anak hingga remaja saya di Banyumas. Dari SD hingga SMP, dari yang tidak tahu apa-apa hingga mulai mengenal cinta monyet, dari yang ingin jadi astronot hingga anggapan yang penting kerja dulu.
Hal-hal demikian agaknya satu dari banyak hal yang kerapkali menyeruak tiba-tiba di dalam pikiran saya. Kesibukan nampaknya gagal menghalau lahirnya kisah-kisah nostalgia semacam itu. Dan tiada cara lain untuk mendamaikan riuhnya pikiran dengan cara menuliskannya.

Lagu Gombloh “Kugadai Cintaku”, meski populer sejak tahun 80-an, nyatanya lagu ini masih kerap nangkring di siaran radio era 2000-an. Saat itu saya masih kelas 1 SD (tahun 2001) dan radio tetangga—tepatnya seberang rumah—kerapkali menyetel lagu ini dengan suara yang keras. Tidak hanya itu, nampaknya ia begitu gandrung dengan lagu tersebut hingga memutarnya berulangkali. Saya sampai hapal liriknya saat itu. Momen ini tiba-tiba muncul begitu saja ketika saya mendengarkan lagu “Kugadai Cintaku”-Gombloh belum lama ini. Dan memaksa saya menulis puisi berjudul “Radio Tua”.
Handphone Nokia tipe 3315 akan tetap monumental dalam ingatan orang-orang yang seusia saya. Masa-masa cinta monyet mulai bersemi, meminjam handphone (selanjutnya, hape) orang tua untuk kirim sms, promo kartu AS-Telkomsel dengan sms gratisnya setelah kirim 100 sms (dengan harga per-sms 99 rupiah), dan masih banyak lagi.

Percaya atau tidak, sebelum era smartphone, hape dengan julukan “bandem maling” ini merupakan jembatan berbagai kisah percintaan. Dan yang paling ikonik dari pengguna hape ini adalah kita bisa mengetik tanpa melihat layar hape karena sudah hapal di mana letak masing-masing angka, huruf, dan butuh berapa kali pencet untuk menghasilkan sebuah huruf. Kenangan akan hape Nokia 3315 inilah yang menjadi inspirasi puisi “Hape Nokia 3315”.
Lagu berjudul “Kita” dengan lirik awal “di saat kita bersama…” sangat melekat di benak saya. Dan mungkin orang-orang seusia saya juga. Lagu ini agaknya menjadi pengungkit berbagai kisah nostalgia. Apalagi, lagu ini merupakan sound track sinetron “Lupus Milenia” yang pernah hits di era 2000-an. Ketika mendengarkan kembali lagu ini saya kembali teringat kisah-kisah persahabatan di masa SMP-SMA (tahun 2007-2012).
Kisah yang saya rasa tidak perlu saya ceritakan dalam tulisan ini. Lagu inilah yang menjadi pengungkit ide puisi “Pada Lagu S07” dan “Dijual Terpisah—”. Dan puisi terakhir agaknya saya merajut ingatan-ingatan puisi keempat sebelumnya ke dalam satu puisi. Begitulah kiranya. Puisi memang ladang paling indah untuk bernostalgia. Semoga pembaca bisa menikmatinya.
(Ilustrasi puisi dibuat oleh Artificial Intelligence (AI) yang diakses melalui Copilot AI Bing.Com)


