M. Rifdal Ais Annafis
menjelang hari terakhir perang
sebenarnya kau menggambar masa depan
dari seiris maut dan gugup
ketika ia sembunyi
di celah-celah tanah
maka aroma bubuk mesiu
dan puluhan mantra
meleleh, seperti jantungku
dan meleleh menembus tulangku
reruntuhan gedung,
berkobar di akar-akar matamu
menari-menarilah,
dalam ledakan kecil dunia
maka peluk biji udara
dari kegembiraan arwah-arwah
yang memerihkan
bila hari yang dikecualikan langit tandas
lewat cangkir birmu
dan sepasang mega kedap dari debu
hari terakhir perang telah begitu dekat
menguasai ubun-ubun kota
berilah ia bunga pudar
dari peras segala macam kehilangan
dari ingatan-ingatan
yogyakarta, 2023


M. Rifdal Ais Annafis
dua serdadu
konon, dua serdadu mencipta pias cahaya
dengan gembur tanah kutukan
menyiangi mereka,
pada selembar kitab suci
pada hari tanpa ledakan
beri tahun-tahun ganjil pada mereka
maka ketika hari larut
dunia pelan-pelan hanyut
seperti sepasang sungai kecil
membelah kepala
dua serdadu itu,
kerap mencintai masa lalu
dari segala duka cita
yogyakarta, 2023


M. Rifdal Ais Annafis
petuah-petuah hari
hari lalu: kenangan-kenangan pendek
lengking cuaca, basah jantung, kelebat doa
beserta daging kerontang ia
hari ini: peristiwa-peristiwa beku kesumba
letih lidah, kerutan dahi, pun ribuan ketakutan
dari gelombang ledakan
hari esok: asap-asap langit juga pengap udara
memberi cinta sekejap, dengung laut biru tua,
pada separuh sukma
yogyakarta, 2023


M. Rifdal Ais Annafis
kepala kami
adalah harum benih sunyi,
setelah jelaga dari reruntuhan kota
menyigi pinggang dunia
adalah bunyi mekar pagi,
dari bola menggelinding tubuh ibu
sebab sayat waktu
adalah nyaring bibir kakek,
bagi dendam tanah yang kerap kali
menyembunyikan diri sendiri
yogyakarta, 2023


M. Rifdal Ais Annafis
senapan ayah
kini setelah aku dewasa,
senapan milik ayah sering menyalak sendiri
seperti seekor anjing kecil dengan
liur warna-warni
biasanya popor yang terbuat dari denyut nadi itu
berisik ketika malam hari
saat kesepian dan rasa bosan bersusulan tumbuh
sering aku bergumam
pada telinga senapan ayah itu:
“bila kau kangen maut, lepas dua pelurumu
tepat di kepalaku.”
Ia hanya melengos,
dan menyalak lagi pada dinding itu
tempat menggantung wajah ibu
yogyakarta, 2023


M. Rifdal Ais Annafis
mata ibu
seperti kolam ikan kecil dengan
genangan doa yang menolak anak-anaknya
menyerupa ikan-ikan laut berenang jauh
ke semesta dunia
yogyakarta, 2023

Biodataa Penyair: M. Rifdal Ais Annafis, sedang menyiapkan buku puisi kedua berjudul, Sejumlah Kota Mati Bergeliat di Pangkal Lidahmu serta buku Kumcer pertama bertajuk, Perempuan yang Menikahi Tubuhnya Sendiri. Dan mengelola TBM Kutub Yogykarta di pinggiran kota Bantul. Nomor WA: 081515316198. Instagram: @mrifdalaisannafis

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,-. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.

SEGERA TERBIT EDISI 19/I/12 MEI 2024:

