Tanah Emas, “Sere” dalam lidah orang Batak dan Mandailing, beberapa suku yang mendiami Pulau Sumatera bersama kelompok suku lainnya, Melayu, Minang, Nias, Mentawai, Kubu, Anak Dalam dan Jawa.
Pulau Sumatera memiliki selendang abadi bernama Bukit Barisan. Sebuah konstruksi geografis yang berbentuk kontur perbukitan yang meliuk – liuk di sepanjang pulau terbesar ketiga di Indonesia dan juga menjadi pulau keenam terbesar di dunia. Alam yang indah, danau – danau segar, luas dan menghidupi eko sistim sekelilingnya, merupakan lanskap yang tiada duanya.

Dan dibalik segala keindahan dan kejumawaannya, tersimpan di balik jarum jam yang berdetik, antrian bencana alam. Gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, longsor, galodo. Bencana alam ternyata bagian dari kehidupan di Pulau Sumatera sejak ia terbentuk menjadi daratan.
Upaya mitigasi kebencanaan harusnya menjadi prioritas oleh Pemerintah. Sayangnya, sampai hari ini yang kita saksikan hanya kegagapan dan ketidaktahuan belaka. Bencana alam masih menjadi momok pembunuh manusia. Kecemasan yang terpelihara sembari menghirup oksigen dari hutan lebat Bukit Barisan, aroma asin yang menguar dari lautan dan kesegaran alami sungai, mata air, air terjun, danau, rawa, air mata.
Airmata.


Pekerjaan Paling Adiluhung
Oleh: Denni Meilizon
Kita adalah derita yang dibawa berlari dengan kepayahan yang sangat
Napas telah tersengal dan pikiran kian menjadi bebal
Udara sangit dihirup keseharian kita yang fana tetapi kelak berdoa agar diberi kesempatan untuk menjadi semesta yang berkuasa agar dapat menempuh segalanya
Pori tubuh kita menebar kecemasan dalam berbagai bahasa
Tak ada ruang bagi kedigdayaan orang lain, ia tidak boleh menempati secelah apapun ruang antara, tak boleh menindih keperkasaan kita, tubuh fana dengan pikiran kedirian akut
Oo.. kehebatan diri sendiri
Oo.. kewaskitaan pikiran aku
Kita pembaca sejarah yang baik, yang pandai merekaulang guna menyisir kesalahan karena tak ada lagi pekerjaan paling adiluhung selain menempatkan silsilah diri sendiri sejalur kerabat dengan para bijak masa lalu
Para pengikut sibuk menggali dalil dari perbendaharaan lama untuk dipungut sedemikian rupa, diutak atik dengan semantik yang disimpangkan kehendak nafsu belaka
Kita tahu segala hal, kepengen menjadi bagian apapun yang menarasikan retorika yang bermain-main di liukan lidah, memburukkan apa yang patut dipuji, membenarkan apa yang patut dilaknat
Berbahagialah bagi kita yang telah sampai pada kaidah dan menyerah kepada keganjilan
Yang bersenang – senang menikmati ketidaktahuan orang lain.
Simpang Empat, 16 Juli 2023/ Ilustrasi pendukung AI Bing Image Creator

Segelas Kopi Sudah Habis
: Wafriman Zani
kita tentu selalu lupa mencoba melihat ke dalam gelas apakah ampas kopi dapat meramalkan
berapa dalam nasib dapat dibaca setelah tetes terakhir selesai melewati tenggorokan
bagaimana mungkin aku mencari jawaban di tempat yang asing sedangkan binar matamu menantang untuk terus menggali dalam kaidah kemungkinan dan peluang untuk terus berjuang tanpa banyak mengumbar pertanyaan
“biarkan saja di kanan dan kiri menjalar api dan berderet bara. biarkan saja di belakang dan di depan musuh mengancam,” ujarmu suatu malam saat di langit terhampar purnama
engkau kawanku seiring yang berani, yang memahami riuhnya umpat puji, yang sedikitpun belum pernah sampai mengeluh
“mengeluh hanya membuat sakit dan dosa,” cetusmu saat kita minum kopi di tengah malam
jadi, begini sajalah kawanku
usia kadung sudah kian tinggi
segelas kopi boleh saja habis hari ini
tak perlu meramal nasib dengan cara apapun
tetaplah kuat berjalan dalam keyakinan yang teguh
sebab perjuangan belum selesai
panjang umur!
lubuk alung, 4 agustus 2023/ Ilustrasi pendukung AI Bing Image Creator

Datu-Datu Telah Terbunuh
Oleh: Denni Meilizon
adakah luapan mantera datu-datu dari kampung di pedalaman rimba
yang menghalau tibanya angkara mengeruk bumi lalu mengubah belantara menjadi lumbung-lumbung bancah tak terperi melumuri sungai kebanggaan kami dengan lumpur luluk panjang sampai ke muara
mengalunkan doa yang mewujud umpatan atau adakah mantera datu-datu yang tertinggal sebagai khazanah pusaka belaka untuk melawan kebodohan yang dipelihara
lupa cara melawan ketidakberdayaan dan tipu daya beraja di dalam kampung sendiri membiarkan seseorang atau sekelompok orang atau si tukang dendang meniupkan cemas dan gundah ketakutan yang terus menerus melemahkan upaya
mantera jampi-jampi oi datu-datu bagaimana rupa sudahkah tak bersisa yang benar dalam ancaman kesalahan di depan mata ketika maharajalela malih rupa sebagai makhluk tak bercela menggiring semua kata kepada pembenaran yang dibela oleh mereka yang diberi amanah untuk menjaga jelata.
Roemah Boekoe, 130922/ Ilustrasi pendukung AI Bing Image Creator

128 GB
Oleh: Denni Meilizon
Kita berkecimpung dari denyut yang hidup. Yang diam, bangun, menggigil, darah, daging, dendam, gerimis, tangis, kebaikan, kepasrahan, aduh; ketabahan.
Kita rajin berkenalan, betapa tenang untuk hidup yang lebih keras dan merenungi kebekuan yang dikunjungi genangan kenangan yang timbul dan tenggelam.
Betapa penting mencatat alamat, dan janji nanti bertemu di layar mana.
denni meilizon
Sabtu pagi, 15/7. Simp. 4/ Ilustrasi pendukung AI Bing Image Creator

Kopi Raja Pasaman
Oleh: Denni Meilizon
Kopi membutuhkan kita, apalagi senja kian merenggut malam. Hujan turun, selalu akan turun di rantau orang ini. Tuan, masih terikkah kampung halaman kita?
Janji harus ditepati sebab doa-doa seharusnya diberkahi atau digenapi.
Mari jauhkan panggang dari api, Tuan. Angin kali yang lain tak berisi mantera apapun. Tuah datang dari asal, ketika jauh diregang asal, ia mendengung, lantang bergema: bunyikan segenap ogung, canang, bansi, gondang sambilan!
Kibarkan bendera raja-raja!
Adalah pedang bersuhul tertikam dari titah purba, bersama matanya terarah kepada padang lapang yang langitnya dipenuhi teriakan anak-anak muda yang lahir dari mulut ibu yang menggambar garis nasib dengan kisah purba, sejak negeri Pasaman masih berupa kuik elang yang terbang di atas laut Sasak hingga ke Air Bangis.
Dada boleh dibelah, Tuan. Namun darah harus tetap suci dan berani.
Salam semesta alam

Aku Membuka Pintu dan Sesuatu Menjadikan Malamku Abadi
Oleh: Denni Meilizon
(Didedikasikan untuk Penyintas Bencana Banjir Bandang di Tanah Datar dan Agam)
Tak ada malam kecuali
Selimut bau tubuh
Ibu yang menutupi siang
Dan mata abadi yang terpejam
Dibalutnya segala
Rahasia yang hidup
Berkelumun dalam peluk
Membangun labirin yang meniadakan
Keingintahuan kita belaka tentang perkara tema dan lema
Api pertarungan hidup yang membakar kampung halaman
Angin senyap musim hujan yang menggulung para tersayang
Gemuruh dari detak bandul jam megah di dinding rumah kediaman
Dan suara asing dari kedalaman angan – angan yang membuhul langkah kanak – kanak untuk tetap manja kepada Ibu
Tetaplah kepada Ibu
Walaupun sesuatu datang menderu
Dan menjadikan malam begitu panjang
Hingga rintihan paling sakit terkurung Reruntuhan masa lalu Terlepas murka tak menoleh sekejap pun.
Simpang Empat, 27 Mei 2024/ Ilustrasi pendukung AI Bing Image Creator

Hujan di Sinuruik
Oleh: Denni Meilizon
Kepada Dasril
Tak ada kabut di seberang pasar Talu
Tak ada murung yang turun rendah
Lelangkah kukuh
Berjalan lambat
Tiba di pertigaan hujan turun mengambil ruang dengan deras yang acuh
Ada lelaki dewasa dengan tubuh kuyup memegang tadah dan gelas, “seduhkanlah untukku kopi. Ini Sinuruik, bukan?” pintanya kepada angin buruk yang berputar tiga kali sebelum melemparkan diri ke kerumunan pepohonan di bukit – bukit
Ada banyak kabut di Sinuruik
Mereka menuruni bukit – bukit di ujung – ujung persawahan
Mereka meniti pematang dan meloncati kolam – kolam
Mereka memeluk rindu yang dinyanyikan serombongan pemain akustik di sebuah cafe
Seorang lelaki dewasa dengan tubuh kuyup melalui pintu dan menyodorkan gelas dan tadah
“Seduhkanlah untukku hujan yang paling deras yang belum pernah dilihat oleh para Nabi,” pintanya kepada seorang pelayan yang baru saja menghalau seekor kucing pasar yang lari melewati rombongan akustik band tepat ketika sebuah lagu Minang kontemporer memasuki bagian refrain
Hujan, hujan yang apakah kelak bermetamorfosis menjadi kabut – kabut pekat kemudian memeluk tumpukan buku cerita yang terpajang bisu di sebuah cafe lain yang ketika sedang riang memutar lagu pop Indonesia terbaru, serombongan musafir dengan tubuh basah meminta segera diseduhkan kopi
Setiap orang membawa gelas kosong dan tadah bening
“Apakah benar katanya, jika belum meminum kopi, tidaklah dapat disebut telah singgah di Sinuruik?” tanya seorang lelaki paling dewasa di antara mereka kepada malam yang merambat turun dengan pelan dan lambat
“Siapa gerangan nama Perempuan masa silam yang lahir di Koto Panjang dan menulis roman “Kalau Tak Untung” itu, Das?”
“Apakah ia minum kopi Sinuruik sepanjang hidupnya, Das?”
Sinuruik, 10 Juni 2024/ Ilustrasi pendukung AI Bing Image Creator

Hutan, Bayangan, Angan dan Kesusahan
Oleh: Denni Meilizon
Hutan-hutan telah rumit
Susah meneduhi kini tanah panas sendiri
Langit masih sama
Tetap mengirim jelaga
Dan manusia mewadahi dengan doa belaka
Hutan terlalu indah kelihatan
Dalam tangkapan foto dan lukisan
Bayangan masa lampau yang kini tiada
Harapan masa depan
yang entah bagaimana
Airmata hanyalah siluet bisu semacam kutukan
Sajak nyeri tanpa raungan
Siapa yang tega mencuri
Satu satunya cara terakhir yang bisa dilakukan makhluk saat terdesak dan buntu?
Airmata dulu menjadi batas logis dan gila
Disebelahnya ada gembira dan bahagia
Hanya perlu peranan jiwa
Apakah ia sadar diri atau telah lupa diri
Hutan-hutan kita
Bayangan pikiran kita
Angan-angan yang menguap
Dan terik matahari kian menikam
Toh manusia masih sibuk jua;
Bertengkar soal perut dan selangkangan
O.
Simpang Empat, 19 Mei 2022/ Ilustrasi pendukung AI Bing Image Creator


Tentang Penyair: Denni Meilizon, lahir 06 Mei 1983 di Silaping Pasaman Barat. Buku Puisinya Hidangan Pembuka (Rumahkayu, 2021) dan sedang proses terbit Percakapan Sebelum Pagi (2024). Bergiat di Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, Forum TBM Pasaman Barat, FPLS Sumatera Barat dan Forum TBM Sumatera Barat. Tinggal di Simpang Empat Pasaman Barat.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


