Puisi Minggu: Setelah Demo Karya Tias Tatanka

Setelah demo, yang tersisa adalah bau api, bau bangkai, bau amarah, dan tangis para ibu. Polisi dan pendemo berhadapan, penyusup yang ingin mengambil keuntungan berpesta-pora. Selalu saja ada ada yang memanfaatkan.

Bunga-bunga yang sedang memperjuangkan nasib rakyat kecil, semoga terus menyebarkan aroma wangi. Tetaplah di jalanmu, wahai penerus bangsa. Nasib Ibu pertiwi berada di tangan kalian.

Tias Tatanka

Tias Tatanka
GEDUNG TERBAKAR

Langit patah, meneteskan bara ke bumi,
gedung menjelma naga api, menelan sunyi,
seorang ibu memeluk bayangan putih putri,
napasnya hanyut di arus asap mimpi.

Tembok hitam terbelah jadi ribuan mulut,
perusuh menari di dalam nyala yang kalut,
lilin kecil bernama anak padam di kabut,
meninggalkan abu yang berbisik lembut.

Dalam dada ibu, detak jantung jadi batu,
menyimpan jerit yang tak lagi bertemu,
di matanya tumbuh sungai air biru,
mengalirkan doa ke langit yang pilu.

Namun dari abu, muncul burung cahaya,
sayapnya menggendong jiwa ke nirwana,
ibu bernapas: “Putriku, jangan berduka,
engkau bunga api, tumbuh di surga.”

Agustus 2025

oOo

Tias Tatanka
MENUNGGU ANAK PULANG

Di ambang pintu, jam pasir terbalik,
lampu gantung bergetar, meneteskan cahaya lirih,
ibu menunggu langkah yang tak pernah kembali,
hanya bayang bendera lusuh menari di jendela sepi.

Demo menjelma lautan api di televisi,
nama anaknya hanyut jadi kabut aksara,
ia mencari wajah pada layar asap,
yang menjawab hanya gaung peluru tanpa suara.

Di dadanya tumbuh taman doa tanpa bunga,
napasnya bergetar jadi burung yang tak tahu arah,
“Pulanglah, meski cuma lewat mimpi,”
bisiknya pada langit yang retak seperti kaca.

Agustus 2025

oOo

Tias Tatanka
POLISI DAN PENDEMO

Tameng besi, batu kata,
asap menjelma naga di udara,
polisi dan pendemo berdiri berhadapan,
padahal pagar rumah mereka hanya sehelai bambu.

Gas air mata jadi doa terbalik,
teriak marah tumbuh seperti duri di lidah,
namun di ingatan: dua anak kecil pernah berebut
layang-layang di halaman yang sama.

Wajah mereka kini bertopeng ibarat lawan,
langkah kaki mengetuk aspal seperti genderang perang,
tapi sumur tua di belakang rumah masih berbisik:
“Air yang kalian minum berasal dari rahim tanah yang sama.”

2025

oOo

Tias Tatanka
ICU

Di balik kaca ICU, waktu berhenti berdenyut,
mesin berdetak bagai doa yang patah-patah,
perempuan itu menggenggam cincin di jarinya,
seperti menggenggam janji yang dipukul waktu

Lelakinya terbaring, tubuh jadi peta luka,
seragam biru robek seperti bendera terkoyak,
ia bukan lagi polisi di jalan raya,
seorang lelaki, ingin pulang membawa cinta.

Air mata jatuh jadi hujan di lantai putih
ia bertanya pada langit-langit rumah sakit:
“Apakah cinta bisa melawan amarah jalanan,
atau cinta pun terbakar bersama api kerusuhan?”

Dalam hening, ia berdoa seperti mantra,
agar detak jantung itu tak padam di antara kabel,
agar lelaki yang dicintainya bangkit dari luka,
dan cincin di jarinya tetap menemukan tangan yang sama.

Agustus 2025

oOo

Tias Tatanka
PENYUSUP BERPESTA

Langit ibu kota sore itu bukan lagi biru.
Ia retak oleh teriakan bunga-bunga bangsa,
oleh barisan tameng polisi,
oleh asap gas air mata yang berubah jadi kabut derita.

Di jalan raya,
bunga-bunga masa depan mengibarkan spanduk,
doa digatungkan di langit, polisi menegakkan barikade.
Seperti dinding dingin yang ingin meredam hujan amarah.
Tapi sejarah selalu menyimpan rahasia:
ada tangan-tangan gelap yang bersembunyi di balik massa,
menyulut api dari kayu kering keputusasaan.

Tubuh-tubuh muda berjatuhan.
Seorang mahasiswa dengan jas almamater robek,
dadanya terkena batu, kepalanya terluka.
Seorang polisi, wajahnya pecah oleh lemparan botol kaca,
napasnya megap-megap bagai ikan dilempar ke darat.

Di tengah luka itu,
suara tak dikenal menyusup:
“Serbu! Ambil! Bakar!”

Dan tiba-tiba demonstrasi bukan lagi panggung aspirasi,
melainkan pasar malam yang dirajam api.

Toko-toko dijarah.
Warung sederhana tempat orang kecil menggantungkan hidup
ditendang pintunya,
beras, rokok, minyak goreng, semua dirampas.

Halte bus yang dulu tempat pelajar menunggu angkutan
menyala seperti lilin raksasa.
Kantor-kantor menjelma bara,
rumah-rumah rakyat sederhana ikut terbakar,
dan di atas semua itu,
para penyusup dan provokator menari—
diiringi orkestra jerit dan tangis.

Mahasiswa kehilangan kawan,
polisi kehilangan rekan,
tetapi para perusuh berpesta di atas abu.
Mereka merayakan kemenangan
yang sesungguhnya adalah kehancuran.

Negara pun berkabung.
Bendera dikibarkan setengah tiang.
Ibu-ibu berdoa dengan suara parau,
ayah-ayah menunduk tanpa kata.
Rakyat kecil mengais sisa-sisa di jalanan,
mencari roti, mencari harapan.

Dan di langit kelam itu,
arwah mahasiswa dan polisi
berjalan berdampingan,
mengusung satu pertanyaan yang sama:
“Untuk siapa semua ini terbakar?”

Agustus 2025

oOo

*) TIAS TATANKA adalah pendiri Rumah Dunia, travel writer dan juga penulis cerita anak. Sudah 11 negara dikunjunginya. Novel terbarunya “Negeri Permen” (MCM, April 2025). Sekarang jadi instruktur cerita anak bersama Kantor Bahasa Banten.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==