Puisi Imam Khoironi
Mengeja Hijaiyah
Anak-anak belajar mengeja huruf
Di surau yang hampir rubuh
Tiang-tiangnya lapuk menjunjung kebenaran
Alif bese i
Ba jere bu
Ka jere ku
Ibuku
Anak-anak belajar merangkai kata
Di serambi musala
Yang konon tak pernah dijamah neraka
Alif jabar a
Ba bese bi
Ka jere ku
Abiku
Alif yang alif kau yang tegak berdiri
Mengikuti kerja lantunan ayat suci
Memanjang yang tak henti
Menghitung langgam
Umur nadi
Ba yang mungkin ba, tampunglah air mata
Dari titik itu kumulai hidup
Tanpamu takkan pernah ada aku
Di sebalikmu tersimpan darah
Di cerukmu tersimpan daging
Kau mewujud ibu abi ku
Ka yang tak melulu ka, jadilah milikku
Selamanya dan selalu
Berjanjilah setia dan patuh
Bagi siapa saja
Penundukmu
Ibuku Abiku
Di tegak alif kau berdiri
Di ceruk ba engkau menua
Di sudut ka namamu kukenang dalam doa
Bandar Lampung, September 2022


Puisi Imam Khoironi
Iftitah
Pintu akan kubuka. Kumulai dengan kebesaran-Mu
Ikrarku setia pada-Mu.
Sesungguhnya aku takut
Tetapi niat sudah kutulis di dada
Menemuimu saban hari
Belum memautkan rinduku
Alangkah rabun hariku
Di kidung yang satu ini kutebus ragu
Hidupku yang mengeja warna langit
Membaca huruf hijaiyah dengan terbata
Kuletakkan di altar masjid
Matiku yang menunggu karam rembulan
Mengukir nama di batu nisan
Kutaruh di pintu masuk liang lahat
Bandar Lampung, September 2022


Puisi Imam Khoironi
Iftirosy
Kuperbaiki cara dudukku. Tak ada kata lemah. Aku diciptakan sempurna. Pintaku ampun pada-
Mu.
Aku duduk di atas lika-liku nasib :
Begitulah kiranya hamba
Mengais kasih Tuhannya
Memelas dan merendah
Meski kadang sedebu sombong
Mengalir deras di nadinya
Kaki-kakiku terbiasa mengurai beban
Di setiap jemarinya
Wirid terus bersambung
Menjuntai sepanjang hayat
Meskipun caraku hidup
Tak pernah lebih tinggi dari
Roh-roh yang tak bertuan
Kalau begitu sujud kuulangi kembali. Kulepas kedunguan itu. Teballah iman dalam singkat usia.
Kembali ke sini.
Bandar Lampung, September 2022


Puisi Imam Khoironi
Tahiyyat
Bisakah aku masuk dahulu. Ruangan-Mu sunyi. Hanya Kau dan aku.
Dengan penuh rasa hormat
Kututup perjumpaan ini
Walaupun buru-buru
Kuharap kau mau menerimaku
Di lain waktu
Dengan pengabdian teguh
Kuserahkan jiwaku padamu
Meski kadang yang separuh
Tertinggal di depan pintu
Sedang me laut, menjangkaukan Tuhan
Lampung, April 2019


Puisi Imam Khoironi
Meminta Restu Ibu
Izinkan aku berkelana
Ke negeri para peziarah
Mengupas ayat-ayat
Merajutnya menjadi pakaian
Untuk kau kenakan, di hari kebangkitan
Ketika udara sedingin tidak dikira
Hingga sepanas tidak dihingga
Izinkan aku mengembara
Ke jalan rindu dikenang
Sebagai kalam-kalam
Di lautan yang mu’rob
Mengenal kemabnian
Izinkan aku mengenang Ibu dalam doa-doa
Di ladang yang jauh
Persis di pusara restumu
Aku berteguh-sandar
Bandar Lampung, Oktober 2022


Puisi Imam Khoironi
Malam Ketika Aku Diantar Bapak
Ingatkah kau, ketika sehabis surup
Kau mengajariku memakai sarung
Memakaikanku penutup kepala
Menuntunku ke barisan paling belakang
Menyuruhku diam dan ikuti
Ingatkah kau,
ketika aku mulai membuka mata
Kau menimangku dengan bangga
Kau mengazaniku sebelum aku bisa bersuara
Setelah kurengkuh restu Ibu
Dan kuamini doa-doamu
Ketika menempuh suluk
Di ribaan Ilahi
Aku siap pergi
Dan pada malam aku diantar bapak
Aku mengingat wangi punggungmu
Kudengar detakmu berusaha rela
Kuhitung langkahmu mulai menjuntai reda
Kutitip rindu pada lapang dadamu
Dan pada malam aku diserahkan
Aku menerka-nerka,
Waktu yang tepat
Untuk dirimu datang menyediakanku
Jalan pulang
Bandar Lampung, Oktober 2022


Puisi Imam Khoironi
Sumpah Seorang Santri pada Negerinya
Namaku santri, mengalir darahku
dari sungai-sungai
Air susumu
Aku bersumpah, demi muara segala hidup
Yang hidupku ditangani kehendakNya
Dari tanah ini aku dibentuk
Akan kupulangkan nafasku padanya
Namaku santri, warnaku api
kepalaku bara, debar jantungku menyebut satu bangsa
Aku bersumpah, demi Al Hujurat ke 13
aku hidup dalam satu rasa
Satu gembira dan satu sengsara
Satu warna terang atau gelap gulita
Namaku santri, di bait terakhir puisi ini
Kuikrarkan pada seluruh alam semesta
Demi Yang menguasai seluruh bahasa
Yang mendengar doa dalam segala rupa
Kutegaskan tuturku
Kuteguhkan lidah bibirku
Menyampaikan bahasa ini padamu
Bandar Lampung, Oktober 2022


Puisi Imam Khoironi
Pringsewu : Sembahyang dan Luka
Tahukah engkau rupa luka sebenarnya
Di pucuk daun lalu jatuh terhempas
Atau dari tanah yang kembali pada tanah?
Ingatkah ketika gunung menyaksikan ibu
Meratap pada langit sambil merapal mantra
Magis yang hilang gairahnya
Hampa dunia pada tubuh puisi
Bertabur melati layu pada tanah liat kelahiran ibu
Kutanami benih paling subur
Kususupi darah luka bekas kepergian itu
Kau beri tahu aku berita kematian itu
Moyangku habis di sela bilah-bilah bambu
Dan aku masih belum tahu rupa luka sebenarnya
Meski tangisku tak sampai menderu
Aku rasa luka tak pulang padamu tapi padaku
Bayangan wajah serupa tanah kering itu
Mengadu terus dalam sembahyangku
Tuhan, bagaimana nasib moyangku, benarkah bambu
Akan jadi perahu baginya menuju-Mu?
Sembahyangku bukan sampan, apalagi berdayung
Di kali sekampung wangi tanah
Kuhirup pada sujudku di Pringsewu.
Sukarame, 11 Februari 2020


Puisi Imam Khoironi
Dermaga pada Jari-jarimu
Mulai pudar embun, diikuti sejuknya
Perlahan mendayung badan keluar dari rimbunan,
Rimbun renta rimbun lunta.
Di pundakmu berhijau pangkat
Dari sari-sari rumputan,
Rumput gelagah rumput bergetah.
Jemarimu jadi dermaga, seluruh telapakmu,
adalah pelabuhannya.
Kau mampu melabuhkan
banyak kapal, termasuk cita-citaku,
Cita suka, cita cinta
Sindang Ayu, 2019


TENTANG PENULIS: Imam Khoironi. Lahir di desa Cintamulya 18 Februari 2000. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Punya cita-cita jadi terkenal. Tidak terlalu suka
seafood dan kucing. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen
kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online seperti Simalaba.com (lainnya googling sendiri) dan media cetak seperti Malang Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Banjarmasin Pos, Bangka Pos, Denpasar Post, Pos
Bali, Bhirawa, dan lainnya. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan
banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa distalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, Ig : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com. WA/Hp : 085609086924
Email notifikasi penerbitan : khoironinewsron@gmail.com.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


