Pohon ditanam jadi hutan, tapi kita kemudian menggundulinya. Ketika hujan, banjir datang. Saat kemarau, kebakaran pun datang. Kita menyalahkan orang lain, menuding mereka tak becus mengurusi hutan. Atu mengutuk Tuhan yang sudah tidak adil. Padahal kita biang keladinya.
Gol A Gong

Gol A Gong
POHON DI HUTAN
Di bawah cahaya pucat bulan, batang-batang tua rebah
aroma getah menjerit, mengalir seperti darah purba
burung-burung melarung nyawa di langit ibarat lomba
mesin tajam berputar, menyanyikan lagu para arwah.
Suara pencinta alam, seperti hujan di musim kemarau
mengetuk telinga kekuasaan yang disumpal emas
poster dan spanduk mereka ibarat daun gugur dan cemas
ditiup angin ancaman, menghilang suara di surau-surau.
Pohon-pohon tak lagi berakar di bumi leluhur
hanya menyisakan nisan-nisan kayu di tanah merah
hutan menjadi kuburan tanpa doa khusuk berserah
ditutup tirai kebohongan para penguasa tanpa rasa syukur.
Di setiap batang yang tumbang, roh nenek moyang menangis
namun di meja rapat, peta hutan jadi angka dan tanda tangan
di luar gedung, mata-mata liar mengintai menyebar ancaman
menyusupkan rasa takut ke dada yang berani bicara kritis.
Pohonku pergi tanpa pamit, hutanku menangis sendirian.
Aku hanya bisa menulis puisi untuk merayakan kepergiannya.
*) Kuningan, Februari 2025
oOo
Gol A Gong
REAL ESTATE DI HUTAN
Hutan purba jadi papan iklan, gemerlap ibarat buah simalakama
akar-akar tua digantikan fondasi beton, mencengkram tubuh renta
suara burung yang merdu sirna, kehilangan alamat di peta
plang kawasan hijau di tanah tandus berganti real estate ternama.
Kampung tradisi disapu bersih buldoser besi penuh ancaman
harga tanah dijual seperti sayur busuk di pasar malam
ormas dan LSM saling bentur di jalan berdebu hingga demam
seragam dan bendera memukul sesama dijadikan alasan.
Suara ibu-ibu pecah di antara deru truk pasir perih mata
tangis anak-anak ditenggelamkan deru genset proyek
di balik pagar seng, peta baru digambar dengan mengejek
memisahkan manusia dari tanah lahir penuh sengketa.
Relokasi beradab didengungkan dalam pidato televisi
di lapangan sepatu lars ke tanah terdengar berdebum
rumah-rumah jadi arang, ingatan jadi pengungsi truk berderum
Seperti kabut yang tak punya arah pulang di empat sisi.
Lukisanku gagal, segala warna pudar di kanvas.
Aku melukis hutan gundul dan real esatate tanpa warna.
*) Kuningan, Februari 2025
oOo
Gol A Gong
TAMBANG DI HUTAN
Punggung gunung dikeruk seperti luka terbuka penuh nanah
nafasnya penuh debu, langitnya disayat cakar besi
air mata batu mengalir ke sungai
membawa racun yang tak bisa disaring oleh doa pasrah
Masyarakat adat mendirikan tenda di kaki gunung
Namun malam-malam mereka disusupi bayangan preman
Surat protes berujung intimidasi
Sementara aparat desa menjabat tangan pengusaha.
Sungai berubah jadi nadi berwarna kelabu
Laut memuntahkan ikan yang kembung dan mati
Jaring nelayan kembali kosong setiap pagi
Angin asin pun membawa aroma bangkai.
Gunung kehilangan mahkota hijaunya
Dan di kalender tambang, tak ada hari berkabung
Hanya jadwal panen logam dan batu
Yang membayar pesta di kota jauh di seberang.
*) Kuningan, Februari 2025
oOo

Gol A Gong
OLIGARKI DI HUTAN
Di ruang ber-AC, gelas kristal beradu lembut
Tawa pejabat dan pengusaha menyatu
Mereka bersulang atas laba dari tanah yang berdarah
Sementara di luar, rakyat menelan debu.
Kontrak ditandatangani di meja marmer
Dengan tinta yang dibuat dari peluh petani
Undang-undang jadi jaring yang bocor
Membiarkan ikan besar lolos dengan gemuk.
Ada satu warga yang menolak diam
Suaranya menggema di pasar, di warung kopi
Namun esok, ia ditangkap dengan tuduhan palsu
Namanya dikubur di berita yang sengaja dipelintir.
Di televisi, pejabat itu tersenyum
Mengaku peduli pada lingkungan dan rakyat
Padahal di bawah jasnya, ada peta tambang
Dan daftar nama yang harus dibungkam.
*) Kuningan, Februari 2025
oOo
Gol A Gong
BENCANA DI HUTAN
Hujan deras membawa amarah gunung
Banjir mengunyah jalan, longsor menelan rumah
Rakyat berlarian, menenteng nyawa seadanya
Sementara sirine bantuan datang terlambat.
Di gedung parlemen, rapat darurat disiarkan
Kamera menyorot pejabat memberi selimut dan mie instan
Lensa wartawan memahat citra malaikat
Yang sebenarnya berpijak di lumpur kebohongan.
Dana bantuan mengalir ke rekening yang salah
Tenda darurat dipasang di halaman gedung partai
Poster wajah tersenyum terpajang di samping
Papan bertuliskan “Bantuan dari Hati Nurani”.
Anak-anak tidur di lantai basah tanpa selimut
Orang tua memeluk udara untuk mengusir dingin
Sementara para pejabat pulang ke rumah hangatnya
Menyisakan rakyat bercakap dengan malam.
*) Kuningan, Februari 2025
oOo
Keterangan gambar: ChatGPT

TENTANG PENULIS: Gol A Gong; antologi puisinya; Dunia Ikan (2010), Membaca Diri (Gong Publishing, 2013), Kota yang Ditinggalkan Penghuninya (Gong Publishing, 2016) , Kutanam Matahari di Halaman Rumah Kita (Gong Publishing, 2017) dan Air Mata Kopi (Gramedia, sepuluh besar “Hari Puisi Indonesia” 2014). Puisi-puisi Ini disertakan di antologi puisi Negeri Bahari, Dari Negeri Poci 8. Sekarang mengelola Rumah Dunia di Serang – Banten, instruktur Literasi di “Gerakan Literasi Nasional”. WA 0811121227, YouTube : GolAGong TV di https://bit.ly/GolAGongTV , IG : @golagongtv , FB : Golagong Penulis , Twitter : @Gol_A_Gong


PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


