Pulang Ke Rinjani: Buku Yang Harus Dibaca Mahasiswa Sebelum Wisuda

Buku setebal 444 halaman yang diterbitkan oleh Diva Press Group ini merupakan kisah perjalanan yang gila dan heroik. Buku ini layak dibaca bagi para mahasiswa yang merasa cemas sebelum dan sesudah lulus dari kampus. Aku membaca buku ini setidaknya pada bulan Agustus 2022, dua bulan sebelum prosesi Wisuda.

Alasan penulis melakukan aksi heroiknya dengan berjalan kaki dari kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta) di Ciputat, Tangerang adalah karena ia merasa bosan hidup dalam ketaatan yang monoton dan diatur oleh orang lain.

Oleh karena itu, ia mencoba keluar dari zona nyamannya dan ingin menemukan jati dirinya. Ada beberapa catatan dari buku tersebut yang patut kita renungkan, sayangnya aku lupa beberapa nomor halamannya:

“Separuh hidup kita dihabiskan di sekolah, agar kita belajar tunduk, belajar patuh pada konsep dan metode yang disusun orang lain. Ketika sedikit melenceng maka akan dibilang nakal atau menjadi manusaia gagal!”

Reza Nufa

Saat di perjalanannya menuju ke Gunung Rinjani, Reza Nufa mulai merasakan gejolak batin dalam dirinya dan kritis dalam memahami permasalahan di lingkungan sekitar.

“Aku punya jalan hidupku sendiri, meski seperti pindah dari satu penjara ke penjara lain. Orang-orang patuh terhadap system tak bedanya seperti seeokor ayam. Maka dari itu jangan hidup biasa-biasa saja, lebih dari itu maka menjadi luar biasa!”

Rintangan dan cobaan mulai dihadapi oleh Reza Nufa, ia mulai sadar dan menampar dirinya sendiri dengan kata-kata “Cuma kamu yang bisa menolong dirimu sendiri, taka da orang lain. Bahkan tidak orang terdekatmu.” Dan bahwa “Setiap orang ingin menyelamatkan dirinya sendiri dari ketidakhadiran cita-cita Bersama!” Hal 401.

Momen yang paling menyentuh adalah ketika penulis membagi-bagikan uang untuk bekal selama perjalanannya, ia ingin merasakan pahit dan manisnya hidup serta ingin lebih berbaur dan berinteraksi dengan warga setempat. Ia menyadari bahwa orang yang tidak makan selama 1-10 hari tidak ada kisahnya menjadi mati. Dari sinilah Reza Nufa mulai menyelami jati dirinya dengan berpuasa.

“Tujuan puasa itu untuk belajar (ajian) bukan menaklukan pelajarannya (ajiannya) melainkan menaklukan tubuh kita, kalau tubuh masih kuat tak akan tembus kepada batin!” filosofinya ada 5 hal bahwa:

“1. Hanya orang yang berhenti belajar yang bisa puas dengan sebuah Kesimpulan 2. Berjalanlah terus dan berusahalah terus untuk untuk tidak tersesat 3. Jangan takut tersesat selama terus mencari 4. Rumah terbaik bagi manusia adalah tanda tanya 5. Setiap kali membaca, satu pintu masa depan terbuka

Rasa sakit ketika melakukan perjalanan ke Rinjani, justru bagi Reza Nufa adalah suatu kebahagiaan. “Pada momen tertentu, rasa sakit semacam ini justru menimbulkan kebahagiaan, yaitu saat aku merasa telah bergerak dari satu titik ke titik lain dengan keras dan tak berhenti. Dalam kepalaku, titik demi titik yang kulalui ini membentuk arus Panjang tidak hanya mencakup ruang, melainkan juga waktu, membentang dari awal muka ingatanku tercipta sampai akhirnya kuceritakan Kembali kepada orang lain, membentuk ranting-ranting takdir rindang. Bisa kukunjungi pohonnya dalam diriku.” Hal 331.

Paling penting ketika aku membaca buku catatan perjalanan ini, Reza Nufa membagikan tips menulis agar konsisten dan continue.

“Jadikan menulis itu adalah alat rekreasi. Bukan menjadikan menulis alat kreasi. Kalau menulis kita jadikan sebagai healing kau akan produktif, dan jika menulis kau jadikan sebagai profesi, kau akan banyak frustasi.”

Reza Nufa

Tonton videonya di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==