Sekarang, putriku yang meneruskan cita-citaku. Tanpa disuruh dan tanpa dibimbing. Putriku belajar secara otodidak melalui youtube. Semua kebutuhan melukisnya aku turuti dan kerap belanja alat lukis via online. Aku selalu mendampingi saat masih SD lomba menggambar di sekolahnya, lalu ke tingkat kecamatan dan kabupaten. Dapat juara 1 dan ada juga tidak dapat juara. Putriku justru makin terpacu untuk melahirkan karya yang luar biasa.

Sudah ada sekitar 30 lukisan. Dipajang di ruang tamu, di kamar tidur, di ruangan dapur, bahkan di saung Semuanya penuh dengan lukisannya.

Suatu ketika, sebelum keberangkatannya ke pesantren barunya tingkat SMA di Bandung, meminta saya untuk mempromosikan lukisannya untuk dijual dengan harga bervariasi, mulai 150 ribu hingga 500 ribu.

Tak butuh lama, hanya dalam waktu 2 minggu, hampir 80 % lukisannya terjual. Kebanyakan yang beli adalah relasi saya dan sahabat-sahabat saya. Saya tahu, selain mereka penikmat seni juga sebagai bentuk apresiasi akan karya putriku.

Alhamdulillah hasil menjual lukisannya dibelikan untuk kebutuhan selama di pesantren, mulai sepatu, baju muslimah, buku-buku, tas, alat lukis, hingga makanan ringan serta obat.

Sebagai orang tua, tentu kami bangga dan berbahagia akan bakat yang dimilikinya. Bahkan bisa menghasilkan rupiah atas ketekunannya. Kadang saking semangatnya sampai larut malam sendiri di kamarnya untuk melukis pesanan orang. Aku makin terharu melihat tanggung jawab dan dedikasinya.

Sekarang putriku sudah 2 minggu di pesantren barunya di Aisyiyah Boarding School dan hari Ahad kemarin mengirimkan foto hasil lukisannya yang terbaru. Aku coba pasarkan melalui medsos, siapa tahu ada yang tertarik membelinya. Tentu hasil penjualannya untuk menambah uang saku di pesantrennya.

Saya tidak tahu persis, apakah putriku akan menekuni bidang melukis. Sekalipun nanti mau melanjutkan pendidikan tinggi di ITB atau ISI, saya akan mendukungnya. Anggaplah untuk mengobati kekecewaanku karena tidak jadi kuliah di 2 kampus tsb.

“Pah, ade mau kuliah fakultas hukum. Ade mau seperti papa sebagai pengacara publik yang selalu membantu orang-orang dalam mencari keadilan. Ade mau ambil kuliah di FH UI jurusan Hukum Internasional”, kata putriku melalui video call saat masih di MTs tingkat akhir.

Aku dan istriku kaget dan takjub akan rencana besar putriku. Aku tanpa sadar meneteskan air mata karena terharu. Masih remaja, sudah punya empati tinggi terhadap orang lain terutama mereka yang tersangkut masalah hukum dan butuh pendampingan dari seorang lawyer.

Apapun rencanamu Nak, kami selalu mensupportmu, mendukungmu meski dengan segala macam pengorbanan. Jadi pelukis ternama tingkat dunia dan lukisanmu terpajang di galeri-galeri di Eropa, aku merasa inilah puncak kebahagiaan tertinggi.

Gufron Khan
Seorang pelukis gagal yang kini jadi dosen dan pengacara

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==