Rak Buku: Aku, Laut dan the Old Man and the Sea

Di hadapanku sekarang adalah sebuah pantai yang didominasi oleh pasir putih, laut luas, batu-batu granit raksasa, langit biru yang terarsir tipis oleh cahaya jingga dan awan putih. Kepalaku menoleh kiri kanan, memperhatikan orang-orang yang menikmati waktu. Bedanya denganku adalah kebanyakan dari mereka pergi bersama keluarga, teman, pacar atau mungkin calon pacar tetapi aku bersama buku. “Aku memerlukan tempat yang nyaman untuk membaca,” bisikku dalam hati.

Hamparan pasir putih halus memeluk kakiku yang berjalan telanjang. Tepat di bibir pantai, kakiku berganti dicium oleh air asin yang luasnya sejauh jangkauan mata. Akhirnya, di atas tumpukan batu granit gigantik yang sedikit jauh dari kerumunan orang, aku menemukan singgasana untukku membaca.

Aroma khas pantai dan deburan ombak membuat suasana membaca menenggelamkanku dalam cerita perjalanan Santiago, tokoh utama dalam novel the Old Man and the Sea. Ia adalah seorang nelayan tua asal Kuba yang bersusah-payah berjuang untuk mendapatkan seekor ikan marlin raksasa jauh di lepas pantai Kuba. Entah beruntung atau sial, setelah 84 hari tanpa tangkapan ikan, di hari ke 85, seekor ikan marlin raksasa seukuran kurang lebih sama besarnya dengan sampan yang digunakan Santiago, memakan kail pancingnya hingga membuat Santiago dan sampannya tertarik jauh ke tengah laut Kuba. Setelah sehari semalam, Santiago berhasil menaklukkan sang raksasa tetapi kemudian ia harus melawan sekelompok hiu yang ingin memakan hasil tangkapannya. Hingga pada akhirnya, kala kembali tiba di rumah, ikan marlin raksasa yang terikat di sisi sampan hanya tersisa kerangka karena telah disantap oleh hiu.

Kisah the Old Man and the Sea ini sangat singkat, karena benar-benar hanya mengisahkan perjalanan Santiago ketika menjalankan pekerjaannya sebagai nelayan. Tidak ada tokoh lain yang signifikan dan banyak memuat monolog. Tetapi disitulah sihir novel ini bekerja, karena kesederhanaan cerita dan kata-kata yang lugas (gaya tulisan Hemingway) membuat makna dan pesan-pesan yang tersirat dalam cerita menjadi ledekan dalam diriku.

Dari cerita Santiago aku belajar bahwa tidak ada yang benar-benar dinamakan akhir di dunia ini. Setiap akhir adalah sebuah awal. Seperti Santiago yang berhasil menaklukkan ikan marlin raksasa. Mungkin baginya itu adalah akhir tujuan tetapi ternyata dalam cerita hidup, ini adalah awal baru karena selanjutnya ia harus melawan gerombolan ikan hiu yang mau mengambil hasil tangkapan Santiago. Tetapi tidak ada alasan untuk menyerah bagi Santiago, ia memilih kembali berjuang mengusir hiu. Seperti katanya pada diri sendiri:

“Tapi manusia tidak diciptakan untuk kekalahan,” katanya. “Seorang pria bisa dihancurkan tetapi tidak terkalahkan.”

Santiago juga memberitahuku dari ceritanya bahwa kita harus senantiasa sabar dan selalu memiliki harapan terhadap hal baik yang akan datang, meskipun peluangnya sangat kecil sekalipun. Seperti Santiago yang penuh tekad dan keberanian, si nelayan tua memiliki pilihan untuk menyerah dan pulang saat pancingnya menjerat ikan marlin raksasa yang terasa mustahil untuk didapatkan tetapi ia memilih berjuang.

“Mungkin saya tidak sekuat yang saya kira, tapi saya tahu banyak trik dan saya memiliki tekad.”

Cerita Santiago seolah menjadi pengingat bagiku bahwa setiap hari adalah hari yang baru. Ini berarti setiap hari adalah sebuah harapan yang lebih baik daripada sekedar keberuntungan. Kita perlu yakin akan hal ini, sehingga saat keberuntungan tiba, kita akan siap untuk menerimanya.

“Setiap hari adalah hari baru. Lebih baik beruntung. Tapi saya lebih suka menjadi tepat. Jadi ketita keberuntungan datang, Anda sudah siap.”

Kalimat terakhir dari buku “the Old Man and the Sea” telah usai aku baca. Halaman-halaman buku kembali tertutup. Aku berdiri dan merenggangkan badan karena duduk di atas batu granit selama kurang lebih satu jam membuat pinggangku penat. Senja kini telah ranum. Langit bermandikan cahaya oranye. Kerumunan orang yang tadi ramai kini mulai menyusut jumlahnya.

Masih di atas batu, aku hanya mematung menghadap laut, memikirkan kembali cerita dari Santiago. Kini aku tahu mengapa buku ini dijuluki masterpiece dalam karya sastra klasik. The Old Man and the Sea memiliki premis kisah yang sangat sederhana tetapi  cukup kompleks dan menarik. Tulisan Hemingway mampu membawaku ke dalam cerita. Seolah aku hadir duduk di atas sampan bersama Santiago. Khusuk menerima makna mendalam hanya dari melihat Santiago berdialog dengan dirinya sendiri, dengan ikan dan burung. 

Walaupun secara keseluruhan sangat baik, tetapi aku kira kisah Santiago akan terasa jenuh bagi sebagian pembaca karena ceritanya yang hanya berputar pada latar tempat yang sama dan hanya berkutat pada satu tokoh.

Terakhir, mengakhiri tulisan singkat ini, aku sangat direkomendasikan buku ini bagi siapapun yang ingin membaca kisah sederhana tetapi sarat akan makna.

Identitas Buku:
Buku the Old Man and the Sea
Penulis: Ernest Hemingway.
Penerbit Ecosystem Publishing.
Cetakan ke 2, tahun 2021.
Ukuran buku A5.
Jumlah halaman 132.

Biodata: Ramsyah Al Akhab. Lahir di pulau Bangka pada tahun terakhir abad 20. Telah terpapar buku-buku sejak kecil. Saat SMA, aku terserang virus literasi dan tetap seperti itu dengan gejala suka baca buku, menulis dan berdiskusi. Nomor WA: 085609400285.

RAK BUKU mulai Juli tayang seminggu sekali, setiap hari Rabu. Rak Buku adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp. 100 ribu. Sertakan foto diri sedang membaca bukunya, foto cover bukunya dalam bebreapa pose, bio narasi singkat dan foto profil, identitas buku, nomor WA, rekening bank. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==