Ada banyak buku begini di rak. Bukan, bukan karena aku suka genre ini. Maksudnya yang belum sempat dibaca.
Astaghfirullah. Semoga aku termasuk penimbun buku yang baik, yang tidak hanya menimbun tapi membacanya, lalu mereview dan membagikan ke orang lain, menemukan ide lalu menuliskannya, dan menjual buku dengan larisnya. Sungguh seorang penimbun buku yang mulia dan ideal.
Semoga. Aamiin.

Kembali ke foto, ini buku bukan berisi horor, tapi bahan “bersyandhaa” dalam gaya Sunda. Membaca buku ini mengingatkan aku pada gaya bicara konten kreator yang juga aktor sebuah serial, dengan dialek Sunda membahas kuliner orang India. Aku protes kalau hubby lagi nonton, karena cara masaknya jorok banget. Tapi aku suka nimbrung nonton dan kami punya bahan buat ngakak berdua.
Membaca buku ini aku spontan teringat si konten kreator itu. Makanya saat hubby pulang dari kantornya yang selempar lirikan, aku ceritakan soal buku ini.

Kusongsong beliau yang baru masuk rumah sambil nunjukin buku. Kuikutin ke toilet dan kutungguin beliau pipis sambil kubacakan satu paragraf pendek. Masih kuterusin baca paragraf berikutnya saat beliau ganti kaus. Sampai beliau rebahan di kasur juga kuiringi dengan pembacaan isi buku, masih bagian pertama berjudul Jurig Tukang Putu.


