Bagi saya sungguh sulit dipercaya kalau yang menulis kisah cinta seindah ini adalah orang yang sama dengan yang menulis Dilan Series. Karena gaya bahasanya sangat berbeda.
Kisah cinta yang indah ini mengambil seting waktu masa penjajahan Belanda, dan setting lokasi kebanyakan di Ciwidey, Lembang, dan Bandung.

Seperti biasa tema cinta akan selalu abadi, dan cinta terlarang selalu menjadi magnet kuat untuk diramu menjadi suatu kisah cinta.
Secara garis besar, kisah ini sangat mirip dengan film Titanic. Kisah cinta antara dua insan yang berbeda yang diramu dengan bentuk flashback cerita dari penutur aslinya.
Ya, kisah ini diadaptasi dari kisah nyata yang penulis dapatkan ketika berbincang dengan nyonya Helen Maria Elnora di Amsterdam.
Perbedaan Helen dan Sukanta di novel ini sangatlah kompleks. Perbedaan ras, perbedaan status sosial, perbedaan agama. Perbedaan kelas pada zaman itu yang sangat kentara.

Penjajah Belanda menganggap orang pribumi hampir seperti binatang.
Ada juga beberapa dari mereka yang bisa lebih menghargai, dan bahkan bisa berbaur dan menikahi pribumi pada zaman itu.
Pidi Baiq sangat pintar meramu kisah yang dia dengar menjadi sebuah kisah yang membuat saya, yang sebenarnya kurang suka membaca kisah cinta, dan novel-novel sejenisnya, terpana.
Lanjut ke komentar ya!
Ini link video tentang novel Helen dan Sukanta:


