Oleh: Naufal Nabilludin
Bagaimana kalau ternyata orang tuamu seorang koruptor?
Pertanyaan itu bisa kita refleksikan bersama lewat tokoh Farhan dalam novel Surat dari Bapak karya Gol A Gong. Farhan, seorang anak yang baru saja lulus SMA dan diterima di kampus impiannya, Universitas Impian Raya (UIR), kaget ketika orang tuanya menghadiahinya mobil baru dan membeli rumah baru.
Kesenangan Farhan yang baru saja mengunggah mobil barunya di media sosial tiba-tiba terganggu oleh komentar nyinyir dari akun kardus. “Guru kok kaya banget, ya?”
Akun-akun kardus itu mempertanyakan bagaimana mungkin orang tua Farhan yang hanya seorang guru dan kepala sekolah bisa memiliki dua rumah, dua mobil baru, dan bisa pergi haji pula. “Pasti korupsi, enggak mungkin kalau enggak korupsi,” begitu tuduhan akun-akun kardus itu.
Farhan emosi. Dadanya terasa sesak ketika mendapatkan komentar seperti itu. Pikirannya penuh pertanyaan: dari mana sebetulnya uang untuk membeli mobil ini? Uang haram atau uang halal?
Ayah Farhan yang seorang kepala sekolah sempat mengingatkan Farhan untuk tidak memikirkan komentar akun-akun kardus itu. Farhan sempat mempertanyakan apakah bapaknya korupsi. Namun, reaksi bapaknya hanya menunduk dan tidak menjawab.

Pikiran Farhan terus dihantui oleh komentar-komentar akun kardus. Bahkan ketika orang tuanya sedang menunaikan ibadah haji pun, pikirannya tidak tenang. Ditambah lagi, konflik percintaan ala remaja juga membuat Farhan semakin pusing.
Di tengah kegelisahan itu, Farhan bertemu dengan Fatimah di danau kampus ketika Farhan sedang membaca komentar-komentar akun kardus. Dari pertemuan itu, mereka menjadi dekat.
Sepulang dari haji, ayah Farhan tertangkap basah ketika sedang melakukan transaksi yang diduga hasil dari korupsi dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Ayahnya menjadi pemberitaan publik. Ayahnya dipenjara, harta kekayaannya disita. Farhan dan ibunya melanjutkan kehidupan di kampung dengan usaha yang baru.

Novel Surat dari Bapak karya Gol A Gong ini sebetulnya adalah novel yang sangat sederhana, tetapi dikemas dengan menarik. Bukan hanya cerita soal korupsi, Gol A Gong juga membumbuinya dengan kisah cinta khas remaja.
Yang membuat saya kagum dengan cerita ini adalah Farhan digambarkan sebagai anak yang kritis. Ia mempertanyakan dari mana harta kekayaan ayahnya berasal, dan Farhan tidak membela ayahnya ketika terbukti melakukan korupsi. Di ending cerita, Farhan mencoba move on dengan pindah ke kampung ibunya dan memulai usaha baru.
Menurut saya, tingkat korupsi yang ada di dalam novel ini adalah tingkat korupsi yang sebetulnya masih “receh”, walaupun tetap tidak bisa dianggap sepele. Masih banyak korupsi yang lebih parah: korupsi proyek, korupsi dana bansos, bahkan korupsi dana bencana.

Di novel ini juga diceritakan orang tua Farhan yang berangkat haji. Namun, sepulang dari haji, ia justru tertangkap basah menerima setoran dari dana BOS. Adegan haji ini, menurut saya, bukan tanpa alasan. Sepertinya penulis menyelipkan kritik secara tidak langsung: orang yang kelihatannya rajin ibadah dan sudah pergi haji tidak menjamin perilakunya baik. Begitu juga dengan bapaknya Farhan.
Novel 170 halaman ini menjadi bagian dari Program Indonesia Membumi, yakni kerja sama antara KPK dengan IKAPI yang berusaha menanamkan nilai kejujuran dan anti korupsi melalui literasi. Novel yang cukup baik ini saya rekomendasikan untuk dibaca oleh siapa pun, terutama pelajar dan mahasiswa.



