Ronald: dari Tukang Sablon ke Tukang Cukur di Kampung Inggris

Pada akhirnya, Ronald pergi ke Ponorogo untuk menjadi tukang cukur. Walaupun dia bukan bos, tetapi dia mengaku sangat menikmati pekerjaannya sebagai tukang cukur. Satu tahun berlalu, akhirnya dia pulang ke Kampung Inggris (kampung halamannya) dan membuka pangkas rambut sendiri.

Ronald mengaku kepada saya, walaupun dia sudah memiliki kemampuan pangkas rambut selama satu tahu, tetapi ada saja pelanggan yang komplain. Saya jawab bahwa itu hal yang normal dalam setiap usaha.

Usahanya membaik dan dia merasa banyak mendapat keberkahan di Kampung Inggris. Dia mengaku sehari penuh paling sedikit mencukur 10 kepala dan paling banyak 20 kepala dengan harga 15 ribu sampai 40 ribu. Ini tentu saja lumayan tinimbang saat dirinya menjadi tukang sablon yang hidup pas-pasan.

Saya bisa membulatkan berapa penghasilan Ronald sebulan penuh. Kita hitung pendapatan minumnya, Ronald sudah bisa hidup tenang karena menggenggam uang 4 juta lebih dalam sebulan. Usahanya ini masih dilakoni sendiri belum ada yang membantunya.

Dengan uang yang minimum yang Ronald dapatkan, yaitu 4 juta dan hidup di Pare yang segala sesuatunya murah, maka tepat sekali Ronald mengatakan. “Menjadi tukang cukur itu lebih banyak senangnya.”

Dia mengaku untuk sementara ini akan terus melakoni usahanya sebagai tukang cukur atau pangkas rambut, sebab menurutnya profesinya sekarang penuh dengan keberkahan.

Saya merasa senang mendengar Ronald yang mensyukuri nikmat Allah. Oh iya, nama tempatnya Vano’z Babershop—nama itu diambil dari anak bungsunya, Vanoz.

Jika Anda sedang di Kampung Inggris, coba mampir ke Veno’z Babershop. Barangkali harus saya beri nilai: 7/10.*

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==