Rumah Baca Hj. Suheti, Rumah Baca di tengah pemukiman padat penduduk

Jika diperhatikan, anak-anak yang berkerumun ini  terbagi dalam beberapa kelompok. Sekelompok anak lelaki tengah memainkan rancang bangun menggunakan magnetic tiles, sebagiannya sedang merakit lego, ada pula sekelompok anak usia prasekolah yang didampingi oleh ibunya sedang memainkan balok-balok kayu dan di bagian sudut lain ada pula kelompok anak perempuan yang sedang asik dengan buku bacaannya masing-masing.

Mengulik asal usul rumah baca ini, ternyata rumah baca ini didedikasikan untuk almarhumah ibu pemiliknya. Menurut Rendra sang pemilik, memang sudah menjadi cita-cita beliau saat proses pembangunan rumah untuk memiliki rumah dengan teras yang cukup luas agar anak-anak bisa datang dan bermain sambil membaca di sana.

Walaupun kesempatan untuk mewujudkannya baru ada setelah sang ibunda berpulang, tetapi tidak mengurangi rasanya. Karena itulah rumah baca ini dinamakan Rumah Baca Hj Suheti dengan harapan agar setiap kali ada yang datang untuk membaca ataupun sekedar bermain akan menjadikan pahala jariyah untuk almarhumah.

Hal menarik lainnya adalah banyaknya paket buku anak yang dikenal dengan seri premium karena harganya yang diketahui cukup menakjubkan untuk ukuran buku anak. Setelah ditanyakan ternyata sebagian besarnya adalah koleksi pribadi dari anak-anaknya.

“Menurut pengalaman kami, buku-buku ini banyak membantu dalam membentuk karakter anak-anak kami. Jika ada yang kurang pas, sering kali kami menggunakan cerita dari buku-buku ini untuk mengingatkan mereka kembali dan itu sangat membantu karena kami tidak perlu menaikkan suara. Jadi sayang sekali kalau segala kebaikan dan kemudahan seperti yang kami dapat ini hanya berhenti di keluarga kami, buku juga kan masa penggunaannya panjang sekali ya selagi dirawat dengan baik. Makanya akan sayang sekali jika tidak dibagikan,” ujarnya menjelaskan.

“Lalu, jika ini adalah sebuah rumah baca, kenapa justru disediakan alat-alat permainan. bukannya mereka malah jadi fokus bermain dan tidak mau membaca?” Tanyaku penasaran karena melihat lebih banyak anak yang sibuk dengan permainannya daripada memegang buku.  

“Wah jangan salah, lho. literasi itu kan luas, tidak hanya membaca saja. Harapan kami, dengan menghadirkan aneka permainan edukatif ini akan menarik minat mereka untuk datang kemari. Tidak apa hanya main dulu, nanti lama-lama akan penasaran dengan buku-buku yang ada di rak. Awalnya mungkin ngintip-ngintip dulu, lama-lama mulai baca. Tidak apa prosesnya lebih panjang, karena membuat anak bisa baca itu mudah. Yang sulit adalah membuat mereka menyukai dan paham tentang apa yang dibacanya,” jawab Rendra.

“Kalau diperhatikan mengapa minat baca di negeri kita ini sangat rendah, bisa jadi salah satu alasannya karena anak-anak dituntut untuk segera bisa membaca. Jadi ya mereka hanya cukup bisa membaca saja. Tapi coba kita balik prosesnya, kita buat mereka suka dulu dengan bukunya, kita mudahkan akses mereka untuk bertemu dengan buku-buku yang menarik, kita bacakan setiap hari. Tidak apa jika saat dibacakan anak-anak sambil berguling, sambil melompat, tidak apa jika ada buku yang robek. Karena buku yang rusak masih bisa diperbaiki, tapi waktu dan kesempatan kita mengenalkan buku dan membersamai mereka berkawan dengan buku itu kan sebentar,” katanya

“Jangan sampai kita menuntut anak untuk rajin membaca tapi kita tidak melakukan apa-apa untuk membuatnya berteman dengan buku. Kalau menurut saya, kenapa banyak anak yang kurang minat membaca karena setelah mereka bisa membaca yang mereka jumpai pertama kali adalah tumpukan buku paket pelajaran yang membuat mereka langsung menolak. Tapi tadi, jika dibalik prosesnya, saat mereka suka, mereka akan penasaran. Lalu akan semangat ingin bisa membaca. Setelah bisa membaca maka buku-buku yang sebelumnya  hanya mereka dengar, sekarang bisa mereka baca sendiri. Rasa penasaran kan harus dibangun terus, nanti anak-anak akan penasaran dengan buku lainnya, termasuk buku pelajaran. Bagi mereka buku adalah teman yang menarik, bukan lawan yang harus dihindari,” ujarnya.

Beliau berharap semoga keberadaan rumah baca di gang sempit ini menjadi wasilah kebaikan bagi anak-anak di sekitarnya.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==