Para pendiri “Rumah Kue” saling senyum dan bertepuk-tangan gembira melihat hasilnya. Mereka hanya berharap kepada Tuhan, semoga itu jadi amalan baik kelak di akhirat. Tapi “Rumah Kue” tidak bisa memuaskan semua orang.

Ada yang kemudian merasa kalah bersaing saat belajar membuat kue dengan anak-anak lainnya, kemudian pergi dan marah membawa dendam kesumat ingin menghancurkan “Rumah Kue” beserta segala isinya. Ada yang merasa tidak diperhatikan, kemudian ketika bekerja di rumah makan mempraktikan ilmunya, mulai membanding-bandingkan: rumah makan tempatnya bekerja sangat memerhatikannya sedangkan “Rumah Kue” tidak memerhatikannya.
Anak-anak yang sakit hati dan tidak banyak jumlahnya itu membuat perkumpulan, merka adalah “haters”. Mereka lupa pernah belajar di “Rumah Kue” secara gratis. Anak-anak itu juga lupa, bahwa “Rumah Kue” itu tempat belajar dan saling memperbaiki diri jika kue buatannya tidak enak agar mereka bisa bersaing di pasar bebas. Mereka lupa “Rumah Kue” itu bukan “rumah makan” yang kalau makan harus bayar.

