Titik Nol Sabang
Besoknya pada pagi minggu, waktunya liburan. Bus telah menunggu kami di depan penginapan. Kami akan mulai berlibur ke titik 0 KM. Titik paling ujung barat Indonesia. Bus bergerak melewati jalanan yang berliku-liku dengan kiri-kanannya pepohonan. Sepanjang perjalanan saya terkenang lagu legendaris “Dari Sabang sampai Merauke.”
Kios-kios berderet di sepanjang jalan dari tempat parkir menuju tugu 0 KM, semuanya menjual barang kerajinan yang mudah dibayangkan: kaus, kipas, topi, gantungan kunci, dan replika-replika antik. Para pedagang terus-menerus memanggil, suara mereka menciptakan desau yang membosankan, seperti burung camar berteriak-teriak. Seorang teman meminta kami berpose di depan tugu 0 KM. Tapi kami harus menunggu wisatawan lain yang juga sedang mengambil foto.
Benteng Anoi Itam
Setelah hampir dua jam berada di tugu 0 KM, kami bergerak ke wisata sejarah Benteng Anoi Itam. Benteng ini merupakan salah satu benteng yang digunakan oleh tentara Jepang dulu untuk menyimpan peluru dan senjata ketika perang dunia kedua. Benteng ini juga digunakan bertahan dari serangan musuh.
Untuk mencapai benteng, kami harus melalui jalan setapak yang mendaki, membuat napas tersengal-sengal. Namun begitu sampai ke atas bukit, kami bisa menyaksikan lokasi benteng dan sebuah meriam yang memiliki panjang sekitar tiga meter yang menghadap ke lautan lepas. Di pulau Sabang banyak sekali benteng-benteng peninggalan masa perang dulu.
Tengah hari dan waktunya makan siang. Kami melahap nasi dengan menu sate gurita yang terkenal di Sabang. Sate gurita mempunyai cita rasa yang sangat nikmat. Ada juga gulai kambing yang dibuat tentu saja dengan daging kambing dan rempah-rempah pilihan, yang menguar aroma yang sedap dan daging yang empuk.
Ada banyak lagi kuliner khas Sabang yang terkenal seperti: mie sedap khas Sabang yang diproduksi sendiri dan disajikan secara berbeda sehingga memberikan rasa dan tekstur yang berbeda, walaupun namanya mirip dengan nama merek mie instan. Harga kuliner di Sabang juga sangat ramah di kantong.
Pantai Iboeh
Selesai makan, dengan perut yang kenyang kami melanjutkan ke Pantai Iboeh. Pantai ini merupakan perpaduan sempurna antara keindahan alam tropis dan ketenangan suasana. Dikelilingi laut yang bening dan biru, dengan pasir putih yang berkilau di bawah matahari, dengan angin yang tak henti berhembus, pulau ini merupakan tempat impian bagi pelancong yang merindukan ketenangan dan keindahan alam. Hutan bakau yang rimbun menyediakan keteduhan pada siang hari, dan terumbu karang yang berwarna-warni di dasar laut menjadi atraksi tersendiri bagi mereka yang gemar menyelam.
Kami hanya duduk-duduk saja di pantai Iboih. Menikmati sajian pasir putih dan lautan yang biru. Pada pukul 4 sore, kami harus bergegas pulang. Jadwal keberangkatan kapal penyeberangan pada pukul 5 sore. Sesampai di kapal, teman saya mengajak saya untuk naik ke atas kapal. Dari sana kami bisa menikmati lebih leluasa lautan biru tanpa melalui jendela seperti di dalam kapal. Dan ini sangat menakjubkan bagi kami.
Dua hari yang menyenangkan di Sabang. Bagi anda yang belum pernah ke Sabang, saran saya jika ada waktu dan rezeki, datanglah. Pulau Sabang akan memberikan warna baru dalam hidup anda.
Bionarasi:
Penulis: Banta Johan, tinggal di Aceh Utara, menyukai membaca dan menulis. Facebook: Banta Johan, Instagram: teuku_banta_joe.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.

