Workshop Kepenulisan
Tujuan kami ke sana untuk mengikuti sebuah workshop kepenulisan yang diadakan oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aceh. Kami akan mendiskusikan, mempelajari dan mengoreksi tulisan. Masing-masing dari kami sebagai penulis telah menyetor tulisan ke panitia yang nantinya akan dibukukan.
Tulisan-tulisan itu adalah hasil dari catatan kami sebagai peneliti yang dua bulan sebelumnya meneliti tentang dampak pernikahan usia dini di Aceh. Setelah menyelesaikan tugas literasi, bonusnya kami bisa berlibur menikmati suguhan panorama pantai Sabang yang memukau.
Ini perjalanan kedua saya ke Sabang. Pada perjalanan pertama dulu, saya ke pulau eksotis itu dengan kapal lambat. Butuh waktu hampir dua jam untuk sampai ke Sabang. Pada perjalanan kedua ini, kami menyeberang dengan menggunakan kapal cepat dan butuh waktu satu jam untuk sampai ke Sabang. Jadi ada dua kapal yang setiap hari melayani rute penyeberangan ke Sabang: kapal cepat dan kapal lambat. Kapal cepat tarifnya seratus ribu per orang sedangkan kapal lambat tarifnya lima puluh ribu per orang.
Pulau Sabang menawarkan destinasi wisata laut yang indah. Orang-orang sering menyebutnya kepingan surga yang jatuh di ujung pulau Sumatera. Maka tak heran jika setiap hari banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang ke sana. Kalau pada hari libur, tentu banyak sekali yang datang.
Ketika jadwal keberangkatan kami telah tiba, kami bergerak memasuki lambung kapal. Saya memilih duduk di samping jendela. Menyaksikan buih-buih ombak yang pecah dari kaca jendela, menyaksikan garis pantai dan lautan yang luas sejauh mata memandang.
Satu jam perjalanan dan kami sampai ke Pelabuhan Balohan, Sabang. Kami menyeret koper-koper turun dari kapal. Ditunggu oleh orang-orang yang menawarkan jasa angkutan. Namun pihak panitia telah menyediakan angkutan kepada kami. Jadi kami menolak secara halus orang-orang yang menawarkan jasa angkutan itu.
Setelah kami berkumpul semua, mengambil beberapa foto lalu menaiki bus yang sudah menunggu untuk membawa kami ke penginapan. Sesampainya di penginapan Resort Mata Ie, kami masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Itu penginapan yang indah dengan kolam renang besar dan pemandangan menghadap ke laut. Jadi dari depan kamar, kami bisa menyaksikan birunya lautan dan deburan ombak yang pecah.
Pada pukul 2 siang kami memasuki ruangan untuk mulai belajar. Pemateri pertama adalah Dr. Reza Idria, dosen UIN AR Raniry, Banda Aceh. Ia lulusan Harvard University, USA. Beliau membagikan kiat-kiat kepenulisan dengan menekankan pada aspek kepercayaan diri dalam menulis, memunculkan diri dalam tulisan dan menambahkan detail tulisan yang relevan. Detail akan membawa pembaca dekat dengan apa yang kita tuliskan, katanya.
Pemateri kedua adalah Putra Hidayatullah, cerpenis dari Aceh yang baru-baru ini cerpen-cerpennya dibukukan oleh Gramedia dengan judul: “Kebun Jagal.” Ia menyelesaikan studi S2 nya di Inggris. Ia memulai materinya dengan bercerita. Kami senang mendengar ia bercerita dan Putra kemudian menjelaskan proses kreatif kepenulisannya.
Ia memberi wejangan kepada kami agar memanfaatkan momen ketubuhan di dalam menulis. Maksudnya seorang penulis harus mampu memanfaatkan indranya saat mengamati. Baik itu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perasa. Dengan begitu, tulisan akan kaya dengan deskripsi dan terasa bernyawa atau hidup.
“Tubuh kita luar biasa, merekam banyak hal. Jadi rajin-rajinlah mendengarkan tubuh kita,” pesan Putra. Meskipun kami belajar didalam ruangan yang kurang nyaman karena panas, berhubung AC nya mati karena lampu mati, kami masih sangat antusias dalam belajar. Tak terasa hari hampir maghrib dan memutuskan melanjutkan belajar esok hari.
Pada hari Sabtu pagi, kami kembali ke ruangan yang sudah terasa sejuk karena AC telah berfungsi. Tiap-tiap tulisan dari kami mulai dibedah, terutama kekurangannya. Setengah hari kami saling berdiskusi mengenai tulisan masing-masing peserta bersama pemateri. Setengah hari lagi kami mulai memperbaiki tulisan masing-masing. Deadline akhir pengumpulan tulisan pada pukul 10 malam. Kami berpacu dengan waktu, dan setelah menyelesaikan tugas, kami menyetor tulisan ke panitia dan dengan tubuh dan pikiran yang sudah lelah masuk ke kamar masing-masing untuk rehat.


