Saya selalu mendahulukan kegiatan. Makan siang di ruang Kepala UPT Perpustakaan Universitas Trunojoyo Madura, tidaklah cukup. Saya pasrah saja, karena ada rasa pedas. Ini jadi catatan kecil saya, agar lebih banyak minum jus. Mungkin terasa manja, tapi dmpaknya jika makan pedas, perut dan anus seperti terbakar dan tentu harus sering ke toilet.

Lupakan rasa pedas. Sebagai Duta Baca, saya sudah ditunggu di SDN 1 Muhammadiyah Bangkalan. Selesai salat, kami meluncur ke sana. Bambang Prakoso dan Aditya Akbar Hakim dari Iqro Semesta tetap mendampingi. Kepala Perpustakaan Universitas Trunojoyo Madura, Hj. Dr. Dra. Hj. Iriani Ismail, MM dan stafnya setia menemani.

Ternyata lokasinya di dekat tempat kami menginap. Sekitar 100 anak bergembira bersama saya. Mereka menampilkan bakat-bakatnya dengan membaca puisi, dan atraksi penca silat.

Saya mengajari mereka cara menulis puisi yang baik. Mereka bersemangat sekali. Saya juga bercerita masa kecil saya sehingga harus kehilangan tangan kiri. Saya memopa semangat mereka, bahwa dengan membaca buku, berolahraga, dan mendengarkan dongeng dari Emak, saya bisa sukses dan ditetapkan sebagai Duta Baca Indonesia.

Tentu ada hadiah buku bagi siswa yang aktif menjawab pertanyaan. Beberapa pertanyaan tentang kisah nabi dan pengetahuan umum tentang ibu kota Provinsi di Indonesia, saya lemparkan kepada mereka. Mereka bisa menjawab. Ada perasaan optimis ketika berada di antara mereka.

Selesai dari sini sekitar pukul 16.00 WIB, langsung meluncur ke Perpustakaan Desa Kamal. Tubuh basah kuyup. Di dalam mobil, aku berganti pakaian. Di sekitar perut dan pinggang seperti terbakar.
Gol A Gong


