Sambil membicarakan program 2024, kami disuguhi kopi pahit dan gorengan. Tentu ada buras, bakwan dan tempe goreng. Saya secara pribadi memang tidak bisa melepaskan Kuningan. Hampir setiap tahun saya mampir ke Kuningan. Saya membina para pegiat literasinya agar bisa jadi relawan literasi yang tangguh dan bisa menulis.

Saya lupa tahunnya, mungkin 2015. Dimulai sejak generasi Zeze alias Zainal Abidin, Imam, kemudian ke Nita Juanita, dan Vera Verawati. Sebagai bentuk dukungannya, saya mencontohkan bagaimana menusuri jalan literasi yang dulu sunyi kini hiruk-pikuk.

Tidak terasa, di Kuningan kami sudah dua hari. Kami meninggalkan rumah di Serang pada Sabtu 28 Oktober. Kegiatan pertama di STKIP Muhammadiyah di pagi hari, kemudian setelah ishoma meluncur ke Pondok Pesantren Binaul Ummah.


Sekarang Senin 30 Oktober adalah hari terakhir Safari Literasi Pantura di Kuningan. da tiga titik. Di pagi hari ke SDN 1 Cigintung dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan. Setelah ini ke titik terakhi di MTs PUI Cikaso sekitar pukul 10.30. Setelah itu meluncur ke Tegal.




