Saya cukup terkejut ketika melihat perawakannya yang tinggi besar. Perutnya juga kempes, tidak seperti perut saya yang buncit. Bercelana jeans, topi laken, dan jas. Betul-betul nge-grunge. Kumis dan jenggot membuat wajahnya jadi misterius.

Bagi saya, bahkan seluruh rakyat Indonsia, Sardono W Kusumo adalah tokoh tari kontemporer Indonesia. Sebagai penari, tubuhnya tetap terjaga bugar padahal lahir 6 Maret 1945 . Umurnya sudah 77 tahun. Sungguh saya malu dibuatnya.

Saya sempat berbincang-bincang dengannya perihal perpustakaan. Baginya perpustakaan itu tidk selalu berupa gedung mewah, tapi bisa ada di mana-mana. “Perpustakaan itu berisi sastra lisan dan sastra tulis. Jadi kita harus menciptakan perpustakaan di mana-mana seperti juga ruang-ruang urban baru.”


