Pencatatan doa atau mantra sangatlah penting sebagai sebuah pengetahuan yang mesti dilestarikan , mengingat hal seperti ini mulai memudar di tengah masyarakat adat sekalipun.
Yakobus Gowing Sogen sebagai pendoa yang menjadi fokus bahasan dalam buku ini adalah seorang pendoa yang telah berusia lanjut . Yokobus Gowing Sogen yang lahir tahun 1924 usianya kini 100 tahun atau satu abad tentu dengan usia seperti itu perlu ada regenerasi.

Doa-doa tradisi dalam buku ini sendiri tertulis atau terlafalkan dalam bentuk bahasa lokal yang didampingi oleh terjemahan, Namun menerjemahkan sastra lisan Maran punya persoalan yang perlu disampaikan . Pertama bahwa Maran merupakan mantra atau doa dalam ritus ritus adat Lamaholot Flores Timur. Maran sebagai bahasa ritual berdaya justru didaraskan oleh orang khusus di tempat dan waktu yang khusus.
Kedua, ketika Maran ditulis dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia justru ada yang hilang . Itulah di antaranya yang menjadi kendala dalam buku ini.
Doa-doa yang ada dalam buku ini berkaitan dengan ritus kehidupan masyarakat Lamaholot, seperti persembahan untuk pembangunan rumah adat, doa persembahan memulai tanam dan juga panen serta banyak lagi.

Adapun contoh teks dalam buku ini pada versi terjemahannya adalah sebagai berikut :
Kuberseru kepada Kaka Ratu Tuan Rera Wulan
Ama Nini Meten Tana Ekan.
Kendala kendala dalam buku inipun menarik untuk bisa dikaji kemudian , namun sebagai sebuah pengetahuan maka buku semacam ini perlu ada di tengah masyarakat yang kian jauh dari akar budayanya .
Buku Maran sendiri adalah semacam pertanggungjawaban kepada Dana Indonesiana dari Joe Wain seorang dokumenter yang mendapatkan kesempatan merekam aktivitas Yokubus Gowing Sogen sebagai seorang pendoa.


