Membagun sebuah museum di rumah adalah bagian dari merawat kenangan, agar api hidup terus menyala. “Kita tidak bisa kembali ke masa lalu,” kata Imam Ghazali.

Tapi dengan membuat Museum Literasi Gol A Gong , saya mencoba merawat kenangan, agar api hidup terus menyala. Ini museum pribadi dan keluarga. Saya dedikasikan untuk istri – Tias Tatanka, anak-anak (Nabila, Gabriel, Jordy, Natasha) dan kelak cucu-cucu saya. Juga masa depan. Itu agar mereka tahu siapa saya – sebagai nenek moyang mereka.

Ya, saya mencoba mengabarkan kepada keluarga besar, siapa nenek-moyang mereka. Agar keturunan saya di masa depan tahu akarnya. Identitas keluarga lambat-laun mulai terkikis karena literasi digital. Semoga dengan museum ini saya bisa menjaga keutuhan keluaga.

Saya juga mencoba merawat kenangan tentang Banten masa lalu dan kini, setelah jadi provinsi. Saya akan menghidangkan Gerakan Literasi di Banten, yaitu Banten Membaca dan Menulis, juga Indonesia. Gerakan mahahsiswa dan kenapa Banten terpuruk serta jadi wilayah terkorup di negeri ini akan saya dokumentasinya.

Di Museum Literasi Gol A Gong ini juga akan saya sediakan studio podcast “Di Meja Makan”. Episode pertamanya wawancara saya dengan Ari Sudarsono – presenter olahraga RCTI era 1990-an.
Bahtiar Rifai, wartawan Detik dot com memberi usulan, agar Museum Literasi Gol A Gong dilengkapi dengan audio visual. Ide yang bagus. Bahtiar baru saja mengunjungi museum Sigmund Freud di Wina, Austria.

Semoga mimpi membangun Museum Literasi Gol A Gong ini dimudahkan Allah SWT dan membawa manfaat bagi saya dan keluarga besar, syukur-syukur bagi lingkungan dan masyarakat luas. *
Gol A Gong


