Saya Harus Menulis Buku yang Abadi di Hati Pembaca

Hamzah dan Fazri mengikuti arahan saya untuk menggantung buku-buku pelajaran yang sudah tidak terpakai lagi. Saya menyuruh Hamah dan Fazri menulis esai tentang selasar dengan uku-buku yang bergelantungan ini. Bayangkan, berpa trilyun uang rakyat yang dipertaruhkan di sini.

“Bukunya sudah tidak bisa digunakan, tapi ilmunya sih tetap abadi,” kata saya. “Semoga ilmu-ilmu yang dituliskan di buku ini bermanfaat sehingga Indonsia jadi negara yang maju dan penulisnya mendapatkan pahala.”

Kenapa saya menggantungkan buku-buku pelajaran yang sudah tidak terpakai lagi? Sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025, saya harus terus berkampanye literasi baca-tulis. Ini adalah bentuk kampanye brutal saya. Ketika nanti banyak orang berkunjung ke Museum Literasi Gol A Gong, saya yakin akan beragam penafsirannya. Mulai dari “nggak sayang buku-bukunya digantung” sampai “kapan saya nulis buku, ya”.

Saya berharap, ketika orang-orang melihat buku bergelantungan, yang ada di pikiran mereka adalah: saya harus menulis buku yang terus abadi di hati pembaca. Tentu dibutuhkan ilmu untuk melakukannya. Bukan menulis buku dengan cara melamun saja. Menulis itu melakukan kerja-kerja intelektual.

Nah, renananya, jika saya sedang ada di rumah, saya akan menerima pengunjung Museum Literasi Gol A Gong mulai dari pelajar SD, SMP, SMA, dan guru di hari Sabtu dan Minggu. Setiap orang berbayar Rp. 50 ribu mendapatkan makan siang dan pelatihan menulis dari pukul 09.00 – 12.00 WIB. Harus mendaftar dulu ke Tias Tatanka di 0819 06311 007 untuk diatur agendanya. Minimal 25 orang.

Gol A Gong

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==