Orang yang aku ajak berbincang itu, Pak Handi. Ia adalah seorang perantau dari ibu kota kita, Jakarta. Pak Handi merantau sejak tahun 2016, sudah 8 tahun ia tinggal di tanah rantau istrinya, Kota Serang. Pak Handi dulunya adalah seorang teknisi di salah satu perusahan negeri di Jakarta, namun
hanya seorang pekerja kontrak bukan tetap. Pernah juga Pak Handi bekerja disalah satu tempat hiburan malam sebagai peracik minuman keras. Kini ia bekerja hanya sebagai seorang pedang es kecil yang sering diganggu petugas satgas dan dihutangi para ojol.
Pak Handi sejak pertama kali menginjakan kakinya di tanah rantau istrinya, ia memilih menjadi pedang es. Mulanya dia berdagang menggunakan sepeda motor namun karena BBM naik kini ia menggunakan gerobak yang sudah sering diperbaiki itu sebagai tempat dagangannya.
Penghasilan harian Pak Handi paling besar itu Rp. 250.000 tapi belum bersih penghasilannya. Dia harus membagi uang untuk harian istrinya, jajan anaknya sekolah, dan belanja kembali untuk dagangannya. Jika ditanya apakah uang segitu cukup? Beliau bilang “Yah dicukupi-cukup saja, alhamdulillah istri saya ga pernah marah dan ngomel.”
Kini Pak Handi sudah berumur 42 tahun dengan tanggungan hidup yang semakin tinggi di tanah rantau ini. Pak Handi memiliki 3 orang anak. Kedua anaknya masih sekolah tingkat menengah (SMP) kelas delapan dan sekolah dasar (SD) kelas 3 serta anak terakhrinya masih kecil, baru berumur 3 tahun. Dilihat dari jumlah keluarganya, tentu uang Rp. 250.000 itu tidaklah cukup belum lagi jika dagangan sedang sepi pasti harus diirit-irit pengeluaran itu.

Ditanya apa harapan Pak Handi mengenai tanggapan mengenai pemerintah terhadap pedagang kecil seperti dia apalagi bulan ini akan ada pelantikan presiden baru, namun lagi-lagi jawabannya hanya keputusasaan akan hal itu “Ga berharap apa-apa, neng. Karena dari jaman Suharto
juga gini terus. Kalo mau apapun yah usaha sendiri.” Mendengar akan hal itu seperti tidak ada tindakan signifikan terhadap UMKM di Indonesia ini dari pemerintah. Pak Handi menambahi bahwa beliau belum pernah mendapatkan bantuan UMKM itu padahal ia sudah pernah didata oleh petugas yang katanya ia lupa nama petugasnya itu apa. Pak Handi juga bilang bahwa
“Ia hanya mendapatkan beras 5kg dari kelurahan sebagai bentuk bantaun pemerintah itu, bukan bentuk uang.”
Pemandangan seperti ini tidak hanya terjadi kepada Pak Handi saja, banyak sekali orang yang mengalami seperti ini. Kekurangan dan kesengsaraan namun tidak ada bantuan dari pemerintah sedikit pun. Pak Handi berharap bahwa program UMKM itu bisa merata karena jika dilihat dari fisik gerobaknya sudah tidak layak untuk digunakan apabila sudah diganti gerobaknya pasti akan lebih banyak pembeli yang tertarik membeli ujarnya.
Pak Handi bukan hanya memiliki gerobak yang sudah rapuh saja melainkan fisiknya sudah rapuh juga. Terlihat dari warna mata yang sudah lelah karena harus berjaga setiap saat untuk berjualan sebab ia tidak ingin istrinya berjualan bersamanya.
Pak Handi bilang agar istrinya fokus di rumah saja, jangan sibuk berjualan. Berjualan dari sinar matahari muncul dari timur hingga munculnya sang bulan yang menerangi bumi hanya untuk menunggu pembeli membeli dagangannya. Semua itu ia lakukan demi anak dan istrinya di rumah yang masih membutuhkan dia untuk menghidupi mereka di kota rantau ini.



