Gading Rasa Ubi—peribahasa ini sederhananya adalah perilaku “sok kaya padahal miskin”. Flexing adau nampang atau pamer kekayaan di medsos itu menggambarkan fenomena yang kian lazim di tengah gemerlap dunia maya: orang miskin yang berlagak kaya.
Di era digital, citra bisa dengan mudah direkayasa. Satu unggahan di media sosial dapat menciptakan ilusi kehidupan sempurna, penuh kemewahan dan kebahagiaan. Padahal, kenyataannya bisa jauh dari itu.

Banyak orang merasa terdorong untuk tampil mewah demi pengakuan, meski harus memaksakan diri secara finansial. Kredit gadget terbaru, utang demi liburan singkat, atau gaya hidup konsumtif hanya untuk menjaga “feed” tetap estetik. Ironisnya, semua itu seringkali menutupi kekosongan identitas dan tekanan hidup yang sebenarnya.
Fenomena ini mengingatkan kita akan pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri. Bahwa nilai seseorang tak ditentukan oleh merek pakaian atau jumlah likes, melainkan oleh integritas dan ketulusan hidup. Di tengah dunia yang serba pencitraan, menjadi otentik adalah bentuk keberanian yang sesungguhnya.
Tim GoKreaf/ChatGPT



