(Peristiwa Banjir dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 akibat hujan super deras yang dipicu siklon tropis Senyar. Di Aceh Tamiang, banjir bandang mencapai ketinggian hingga tiga meter dan menghancurkan permukiman warga. Seorang warga Karang Baru, menjadi salah satu korban selamat yang menyaksikan rumah, harta, dan dokumen kehidupannya hilang dalam hitungan menit.
oooOOOooo
Sore itu,
Karang Baru belum sempat berpamitan
pada dirinya sendiri.
Pintu masih setengah terbuka,
panci masih menyimpan hangat,
dan hidup berjalan
seperti hari-hari yang lain.
Sumardi Putra Pratama,
tidak sedang bersiap menjadi tokoh.
Ia hanya seorang warga
yang mengenal kampungnya
dari langkah ke langkah.
Gemuruh terdengar,
bukan petir,
melainkan sesuatu yang bergerak
terlalu cepat
untuk diberi nama.
Dalam hitungan menit,
genangan meninggi
hingga setara kabel listrik.
Tiga meter
ketakutan menelan dinding,
menjatuhkan lemari,
dan menyeret masa lalu
ke pusaran tanpa jeda.
Sumardi terombang-ambing,
tubuhnya dihantam arus
yang membawa kayu gelondongan,
batu,
dan lumpur;
seolah bumi
mengembalikan
apa yang lama dipaksakan padanya.
Ia berpegangan
pada apa saja yang tersisa:
sebatang bambu,
tali yang licin,
dan kehendak untuk hidup
yang lahir tanpa teori.
Di sekelilingnya,
nama-nama dipanggil,
teriakan pecah,
lalu hilang.
Rumah runtuh.
Harta lenyap.
Dokumen:
identitas,
ijazah,
jejak sah keberadaan,
hancur menjadi bubur
di tangan arus.
Namun dia tidak diberi waktu
untuk meratap.
Seorang anak terseret.
Seorang ibu kehilangan pijakan.
Dengan tangan gemetar,
ia menarik,
mengangkat,
menuntun.
Membantu bukan keputusan heroik,
melainkan naluri
yang bekerja
lebih cepat
daripada rasa takut.
Ia membawa warga
ke kantor KPA,
bangunan yang mendadak
menjadi pulau.
Malam datang
tanpa listrik,
tanpa kepastian.
Haus menjadi bahasa bersama.
Sumardi berjalan menembus genangan,
mencari air bersih
seperti mencari harapan
yang belum tercemar.
Ia tahu,
tanpa air minum,
bencana akan berpindah
ke dalam tubuh.
Di luar Karang Baru,
angka-angka tersusun rapi:
ratusan tewas,
ratusan hilang,
ratusan ribu mengungsi.
Namun di sini,
setiap angka bernama,
berwajah,
dan meninggalkan
kursi kosong di rumah.
Banjir ini disebut
akibat hujan super deras
dan siklon tropis Senyar.
Itu benar.
Namun tidak seluruhnya.
Sebab dia merasakan
bahwa alam tidak datang sendirian.
Ia membawa jejak
hutan yang dipotong,
sungai yang dipersempit,
dan kesabaran
yang terlalu lama diminta diam.
Sumardi selamat.
Namun selamat
bukan berarti selesai.
Ia hidup
dengan ingatan yang basah
dan pertanyaan yang menetap:
jika ini hanya disebut musibah,
siapa yang belajar?
jika ini hanya diminta untuk tabah,
siapa yang bertanggung jawab?
Dan jika suatu hari
pertanyaan itu tiba
di ruang keputusan,
apakah ia akan dijawab,
atau kembali dihanyutkan
seperti rumah Sumardi
di Karang Baru?
Jakarta, 28 Desember 2025
๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Catatan Kaki
- detikcom, โKorban Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar Bertahan Hidup di Tengah Bencanaโ, 7 Desember 2025.
- BNPB, Laporan Dampak Banjir dan Longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, NovemberโDesember 2025.


