Yang istimewa, ya itu, ketika konsep Manajemen Qolbu-nya Aa Gym menjiwai hampir setiap orang yang terlibat di dalam pelatihan tersebut.

Hal yang paling pertama diajarkan adalah Ice Breaking. Kita diminta untuk membawa satu buah genteng dari rumah dan di pelatihan disuruh untuk memecahkan genteng itu dengan tangan kosong secara bersama-sama. Ini untuk menghilangkan ketakutan dalam diri, membuat kita berani untuk memulai sesuatu yang kita anggap sulit dan mungkin juga tidak berhasil.

Menumbuhkan inisiatif dan kemauan untuk berbuat. Itu hikmah yang paling tepat kurasa.
Yang paling berkesan buatku sih sebenarnya bukan pelatihan-pelatihan seperti ekstrakulikuler di sekolah-sekolah.
Yang benar-benar membuat perubahan besar dalam diriku adalah sesi jeda di antara kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan.

Setiap selesai melakukan kegiatan, akan diadakan sesi “Apa Yang Paling Berkesan?”
Biasanya sih yang menjadi pemandu sesi ini adalah Abdurahman Yuri, adik Aa Gym yang akrab disapa A Deda.
Aa Gym juga mempunyai porsi tersendiri di pelatihan SSG. Biasanya beliau yang memimpin apel pertama di Sabtu sore, dan apel penutupan di Minggu sore. Serasa mimpi, biasanya aku hanya mendengar beliau di radio, kali ini aku bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan beliau minimal dua kali seminggu.

Tidak jauh berbeda dengan A Deda, materi yang diberikan oleh Aa Gym tidak jauh dari hikmah yang kita dapatkan dari pelatihan yang sudah dilalui minggu itu.
Jika ada acara bersama A Deda, kita akan mendapat kesan seperti sedang menonton campuran antara kelompencapir dan srimulat, karena pasti selalu berlangsung ramai dengan diskusi dan acungan tangan peserta yang ingin mengungkapkan pendapatnya untuk menjawab pertanyaan “Apa Yang Paling Berkesan?” *
(Tulisan inu dimuat di buku “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?”, Penerbit One Peach Media, 2021)



